Tsaqofah

Menghias Diri Dengan Pakaian Takwa di Hari Lebaran Nanti, Jangan Lupa!

Salafusshalih.com – Tinggal menghitung hari, umat Islam akan memasuki hari lebaran Idul Fitri. Lebaran ini biasanya digelar selepas satu bulan berpuasa di bulan Ramadhan. Lebaran ini dapat dikatakan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan puasa selama tiga puluh hari ini. Tak dapat dipungkiri, menjelang lebaran umat Islam sedang berbahagia. Buktinya, mereka silaturahmi ke sanak famili, teman, dan lain sebagainya.

Tak kalah juga pada saat lebaran berlangsung, umat Islam disibukkan menghias diri dengan pakaian serba baru. Mulai yang laki-laki pakai peci baru, baju baru, dan sarung baru. Hingga yang perempuan pun pakai jilbab baru dan gamis baru. Intinya semuanya serba baru. Bukan hanya itu, mereka berlomba-lomba beli pakaian yang kualitasnya bagus dan serba mahal.

Menjadi trend pada saat lebaran menunjukkan status sosial dan pencapaian hidup. Memang umat Islam bersilaturahmi, tapi mereka sedikit (bahkan bisa lebih) memamerkan pencapaian yang diraihnya. Bagi saya, tidak masalah pencapaian itu diperlihatkan selagi disertai motivasi yang baik. Semisal, ingin memotivasi orang lain untuk lebih semangat bekerja dan beribadah. Karena, niat yang baik akan membuahkan pahala yang berlipat ganda.

Namun, yang paling penting diperhatikan umat Islam dalam menyambut lebaran dengan pakaian serba baru adalah meng-upgrade pakaian batin. Maksudnya, manusia diciptakan bukan hanya terdiri dari satu jasad saja, tetapi juga dibarengi jiwa. Pada jiwa ini terdapat pakaian yang butuh diperhatikan selain pakaian lahir. Apa itu? Pakaian takwa. Allah menyebutkan: “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik.” (QS. al-A’raf: 26).

Pakaian takwa itu merupakan penjaga jiwa manusia dari sengatan api neraka yang disebabkan dosa kemaksiatan atau syirik yang tidak diampuni. Takwa juga dapat menghias diri manusia bukan hanya baik karena manusia, tetap juga baik karena Allah. Biasanya orang yang bertakwa tidak memandang orang lain sebab pangkat dan kekayaannya, tetapi lebih melihat kualitas ibadahnya. Memang cukup sulit mencapai tingkat ketakwaan ini.

 

Karena pentingnya pakaian takwa pada diri manusia, berulang kali Allah menjadikan takwa sebagai pencapaian keberhasilan manusia. Pada saat menyinggung tentang perintah wajib puasa di bulan Ramadhan Allah menjadi takwa sebagai pencapaiannya. (Baca QS. al-Baqarah: 183). Pada kesempatan yang lain, Allah membahas takwa sebagai pencapaian dari penciptaan manusia: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13).

Saking pentingnya pakaian takwa, pada sebuah hadis disebutkan bahwa manusia diperintahkan mengenakan pakaian takwa di mana pun kaki mereka berpijak. Mereka tidak hanya bertakwa di masjid-masjid saja, tetapi juga bertakwa di tempat-tempat lain, seperti di pasar dengan tidak berlaku riba, di kantor dengan tidak korupsi, dan seterusnya. Intinya, mereka selalu berbuat baik sebab mereka merasa selalu dipantau oleh Allah.

Sebagai penutup, memperindah diri dengan pakaian lahir itu penting, tapi jangan sampai lupa menghias jiwa dengan pakaian batin yaitu takwa. Karena, pakaian takwa adalah pencapaian yang sesungguhnya. Jiwa yang dibiarkan telanjang akan terkena sengatan dosa yang dapat mengantarkan kepada api neraka. Maka, lindungi jiwa agar tetap selamat.

(Khalilullah)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button