Islam Bukan untuk Ditawar: Kebenaran yang Tak Bergantung Selera
Salafusshalih.com – Di tengah derasnya arus kebebasan berpikir dan budaya selera pribadi yang diagungkan, kita perlu kembali menegaskan satu hal mendasar: agama bukan soal selera.
Agama bukan perkara suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman, mayoritas atau minoritas. Agama adalah soal kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu Allah, Tuhan semesta alam.
Islam, sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, bukanlah hasil kontemplasi manusia atau produk budaya tertentu. Ia adalah cahaya petunjuk dari Allah yang menuntun umat manusia dari gelapnya kesesatan menuju terang hidayah. Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ
“Dialah Allah yang memperlihatkan kilat kepada kalian (yang menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dialah yang membentuk awan berat.” (Ar-Ra’d: 12)
Petunjuk itu datang bukan untuk mengikuti hawa nafsu manusia, melainkan untuk menunjukkan jalan yang lurus.
Islam: Jalan Kebenaran yang Diridai
Islam bukan salah satu jalan dari sekian banyak pilihan, melainkan satu-satunya agama yang diridai oleh Allah. Ini bukan sekadar keyakinan umat Islam, melainkan pernyataan tegas dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Kedua ayat ini menjadi pijakan kokoh bagi umat Islam bahwa hanya Islam yang merupakan jalan keselamatan.
Toleransi: Menghormati, Bukan Menyamakan
Dalam masyarakat modern, makna toleransi sering kali dibelokkan. Ada yang menyangka bahwa toleransi berarti menyamakan semua agama dan mencampuradukkan ajaran. Padahal, Islam mengajarkan toleransi dalam bentuk menghormati perbedaan, tanpa mengorbankan prinsip akidah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا”
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling iri, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dan Allah berfirman:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Al-Kafirun: 6)
Ayat ini menegaskan prinsip hidup berdampingan tanpa harus mencampuradukkan keimanan. Kita tetap berbuat baik kepada semua orang, tetapi dalam akidah, tidak ada kompromi.
Istikamah dalam Arus Zaman
Di tengah dunia yang semakin terbuka dan liberal, kita justru diperintahkan untuk tetap istiqamah di atas jalan Islam. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (Ali ‘Imran: 102)
Islam telah sempurna, tidak butuh penyesuaian dengan zaman. Justru zamanlah yang perlu diarahkan oleh nilai-nilai Islam:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (Al-Ma’idah: 3)
Tidak ada ruang untuk mencampuradukkan atau mengutak-atik agama yang telah Allah sempurnakan.
Keyakinan Tak Boleh Tergadai
Tugas kita sebagai Muslim adalah menjaga istiqamah, memperdalam ilmu agama, dan tidak tergoda mencairkan prinsip keimanan demi narasi kebebasan atau pluralisme yang menyesatkan.
Marilah kita jaga akidah kita, kokohkan hati kita, dan jalani hidup dengan toleransi yang benar—menghormati tanpa harus mengorbankan kebenaran. Kita bersikap santun kepada siapa pun, tapi keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran harus dijaga sampai akhir hayat.
Semoga Allah senantiasa meneguhkan kita di atas Islam, menjaga kita dari fitnah akhir zaman, dan memasukkan kita ke dalam golongan yang mendapat rida-Nya.
(Dwi Taufan Hidayat)



