Ulul Amri

Sutrah: Pembatas Tempat Shalat Yang Dianjurkan Nabi

Salafusshalih.com – Sutrah adalah pembatas bagi orang salat yang dipasang di tempat sujud mencegah orang lewat melangkahi tempat itu. Pengadaannya dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw bila mendirikan salat di tempat umum.

Namun sekarang di masjid juga disediakan sutrah yang diperlukan bagi orang salat sendirian untuk membatasi daerah salatnya supaya tidak dilangkahi jemaah yang lewat.

Sutrah tidak termasuk rukun maupun syarat sah salat, tapi ini bagian dari penyempurna pelaksanaan salat.

Nabi Shalallaahu alaihi wa sallam bersabda:

وَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ أَوَّلَ مَايُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوْبَةِ  : ” فَإِنْ أَتَمَّهَا وَ إِلاَّ قِيْلَ أُنْظُرُوْا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ , فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوَّعٌ أُكْمَلَتِ الْفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ, ثُمَّ يَفْعَلُ بِسَائِرِ اْلأَعْمَالِ الْمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata:”Aku mendengar Rasulullaah Shalallaahu alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya amal hamba muslim yang pertama kali diperiksa di hari kiamat adalah salat wajib, jika ia menyempurnakannya, maka ia telah beruntung. Jika tidak, maka dikatakan kepada para malaikat,”Perhatikanlah adakah ia memiliki amalan salat sunah. Jika ia memilikinya, maka dilengkapilah amalan salat fardhunya dengan amalan salat snnahnya. Kemudian seluruh amalan wajib diperlakukan seperti itu.” (Sahih – Ibnu Majah dan ini lafaznya Tirmidzi dan Nasa’i ). Merujuk pada buku Al-Wajiz Ensiklopedia Fikih Islam, halaman 134, Abdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi.

Hadis ini terkandung makna segala hal yang berkaitan dengan kesempurnaan salat, maka perlu mendapat perhatian, termasuk persoalan sutrah.

Makna Sutrah

Merujuk dalam kamus Al–Quran Al–Mufradat Fi Gharibil Quran, jilid 2 halaman 189 karya Ar-Raghib Al-Asfahani menjelaskan kata sutrah berasal dari kataسَتَرَ –ُ سَتْرًا  bermakna menutupi, menabiri, atau menyembunyikan.

Oleh karenanya kata اَلسَّتْرُ bermakna menutup sesuatu. Maka kata sutrah اَلسُّتْرَةُ  bermakna sesuatu yang ditutupi oleh penutup. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Kahfi ayat 90:

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتْرًا

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.

Fungsi dan Bentuk Sutrah

Sutrah berfungsi sebagai penghalang agar tidak dilewati oleh orang atau binatang. Merujuk dalam hadis Sahih Sunan Abu Daud jilid. 1 halaman 276-279, dijelaskan larangan lewat di depan orang salat dan anjuran salat menghadap sutrah (tabir).

Ini berdasarkan sabda Nabi Saw:

عَنْ أَبِيْ النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيْدٍ  أَنَّ زَيْدَ خَالِدٍ الْجُهَنِيَّ أَرْسَلَهُ إِلَى أَبِي جُهَيْمٍ يَسْأَلُهُ مَاذَا سَمِعَ مِنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْ الْمَارِّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلَّى فَقَالَ أَبُوْ جُهَيْمٍ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلَّى مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يقِفَ أَرْبَعِيْنَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ أَبُوْ النَّضْرِ لاَ أَدْرِيْ قَالَ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا أَوْ شَهْرًا أَوْ سَنَةً

Dari Abu Nadhr, dari Busr bin Sa’id, bahwa Zaid bin Khalid Al-Juhani pernah mengutusnya kepada Abu Juhaim untuk menanyakan hadis yang pernah dia dengar dari Rasulullaah Saw tentang seseorang yang lewat di depan orang yang salat. Abu Juhaim berkata,“Rasulullaah Saw bersabda, seandainya orang lewat di depan orang salat itu mengetahui dosanya, pasti lebih baik baginya berdiri selama empat puluh lamanya daripada melewati di depan orang salat itu.  Abu Nadir berkata,”Aku tidak mengetahui, apakah Nabi Saw berkata empat puluh hari, bulan, ataukah tahun. (Hadis sahih – muttafaq alaihi)

Hadis ini mengandung makna larangan melewati di depan orang salat. Jika lewat di luar batas tempat sujud hukumnya dibolehkan. Ada beberapa hadis yang menjadikan dasar dalil pentingnya sutrah bagi orang  salat.

Hadits pertama, mendekat ke tabir.

عَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِيْ حَثْمَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لاَيَقْطَعِ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُ

Dari Sahal bin Abu Hatsmah radhiyallaahu anhu telah sampai suatu kabar kepadanya, bahwa Nabi Saw bersabda,”Apabila salah seorang di antara kamu mengerjakan salat menghadap sebuah tabir, maka hendaklah dia mendekat kepadanya, supaya setan tidak dapat memutuskan salatnya. (Hadis sahih)

Hadis tersebut mengandung makna memerintahkan kita tidak salat terlalu jauh dari pembatas. Hadis ini  juga menjelaskan batas area yang tidak boleh dilewati orang adalah jarak antara tempat berdiri hingga sutrah.

Hadis kedua, tabir imam adalah  juga tabir bagi makmum.

عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عَمْرِ بْنِ الْعَاصِ قَالَ هَبَطْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ ثَنَّيْةِ أَذَاخِرَ فَخَضَرَتِ الصَّلاَةُ يَعْنِيْ فَصَلَّى إِلَى جِدَارٍ فَاتَّخَذَهُ قِبْلَةً وَ نَحْنُ خَلْفَهُ فَجَاءَتْ بَهْمَةٌ تَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَا زَالَ يُدَارِئُهَا……..

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallaahu anhuma, dia berkata: Kami pernah bersama Nabi Shalallaahu alaihi wa sallam menuruni bukit Adzkhir (sebuah tempat antara Tanah Haram), kemudian tibalah waktu salat. Nabi Saw mengerjakan salat dengan menghadap suatu dinding yang dijadikannya arah kiblat, sedangkan kami mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba datanglah seekor anak kambing hendak lewat depan Nabi Saw, namun Nabi senantiasa mencegahnya. (Hadis hasan sahih)

Hadis ini menunjukkan pembatas bagi saf makmum adalah orang yang di depannya atau imam.

Hadis ketiga, sutrah bisa berbentuk garis jika tidak mendapatkan tongkat.

Terdapat riwayat dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengenai perintah membuat garis sebagai sutrah (pembatas) ketika salat.

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَ جْهِهِ شَيْئًا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا فَلْيَخْطُطْ خَطًّا ثُمَّ لاَ يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ

Bahwa Rasulullaah Shalallaahu alaihi wa sallam bersabda,”Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan salat, maka hendaklah dia membuat penutup (pembatas) di depannya. Jika tidak dapat hendaklah menancapkan sebuah tongkat. Jika tidak membawa tongkat hendaklah membuat garis, setelah itu tidak mengapa sekalipun ada yang lewat depannya.” (Hadis sahih)

Batas Sajadah, Karpet, dan Garis Saf

Sutrah disunnahkan (sunnah muakkadah) bagi imam dan bagi orang yang salat munfarid. Namun pada saat ini di masjid-masjid sudah dipasang kain sajadah, lembaran karpet, atau garis saf yang dapat berfungsi sebagai sutrah.

Maka tidak perlu lagi memasang sutrah secara khusus. Oleh karenanya penting untuk terus disosialisasikan agar umat Islam lebih paham dan mengamalkannya. Wallaahu a’lamu bishshawwab.

(Ridwan Ma’ruf)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button