Mengapa Houthi Menyerang Arab Saudi?

Salafusshalih.com – Mengapa Houthi menyerang Saudi? Bukankah mereka sama-sama muslim? Jawabannya perlu dicari dalam sejarah. Sebab, perang ini melibatkan kekuasaan, keamanan, dan persaingan pengaruh. Identitas agama saja tidak cukup menjelaskannya.
Mari kita kenali dahulu tiga nama yang sering muncul dalam berita. Yaman adalah negara. Arab Saudi juga negara. Keduanya bertetangga. Sementara itu, Houthi adalah gerakan politik dan bersenjata dari Yaman.
Jadi, Houthi tidak sama dengan Yaman. Tidak semua rakyat Yaman mendukung mereka. Sebagian justru menjadi lawannya.
Yaman modern terbentuk pada 1990, ketika Yaman Utara dan Yaman Selatan disatukan. Ali Abdullah Saleh menjadi presiden negara hasil penyatuan itu. Namun, persatuan tidak menghapus perselisihan. Perang saudara pecah pada 1994. Persoalan pembagian kekuasaan terus membayangi negara itu.
Di wilayah utara, Houthi tumbuh dari gerakan yang menjaga tradisi Zaidiyah, salah satu cabang Syiah. Zaidiyah berbeda dari aliran Syiah yang dominan di Iran. Tidak semua penganut Zaidiyah menjadi pengikut Houthi.
Di bawah kepemimpinan Hussein Badreddin Al-Houthi, gerakan ini semakin aktif mempersoalkan kebijakan pemerintah dan marginalisasi masyarakat utara. Pada 2004, perselisihan berkembang menjadi konflik bersenjata.
Yang dilawan Houthi saat itu adalah pemerintah Ali Abdullah Saleh.
Antara 2004 dan 2010, keduanya terlibat dalam enam putaran perang. Kemudian, pada 2011, gelombang demonstrasi rakyat melanda sejumlah negara Arab, termasuk Yaman.
Gerakan yang dikenal sebagai Arab Spring ini menuntut perubahan pemerintahan. Ali Abdullah Saleh kemudian menyerahkan kekuasaan pada 2012 kepada wakilnya, Abd-Rabbu Mansour Hadi. Namun, pergantian pemimpin belum menyelesaikan perpecahan.
Lalu terjadi perubahan yang mengejutkan. Ali Abdullah Saleh ternyata bersekutu dengan Houthi.
Bekas musuh menjadi kawan. Pasukan loyalis Ali Abdullah Saleh membantu Houthi menguasai ibu kota Sana’a pada September 2014. Mereka kini menghadapi Abd-Rabbu Mansour Hadi. Persekutuan ini memperlihatkan bahwa kepentingan kekuasaan sangat menentukan jalannya konflik.
Intervensi Saudi dan Serangan Balasan
Ketika tekanan Houthi semakin kuat, Abd-Rabbu Mansour Hadi meminta bantuan kepada Arab Saudi. Pada 26 Maret 2015, koalisi pimpinan Saudi memulai intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman di bawah kepemimpinan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Saudi ingin memulihkan pemerintahan yang diakui secara internasional sekaligus menjaga perbatasannya. Saudi juga khawatir penguatan Houthi bisa memperbesar pengaruh Iran di negara tetangganya.
Sebaliknya, Houthi memandang Saudi sebagai kekuatan asing yang menyerang dan menghalangi kekuasaan mereka.
Iran memang mendukung Houthi, termasuk melalui bantuan militer. Namun, Houthi mempunyai akar di masyarakat dan kepentingan sendiri di Yaman. Mereka tidak bisa dipahami semata-mata sebagai alat Iran.
Mengapa kemudian rudal diarahkan ke Saudi? Untuk membalas sekaligus menekan.
Dengan menyerang fasilitas penting Saudi, Houthi dapat membuat negara itu menanggung biaya keamanan dan ekonomi. Menurut kajian Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), lembaga pemantau konflik bersenjata, serangan lintas batas juga digunakan untuk menekan Saudi dan memperkuat daya tawar Houthi dalam perundingan.
Karena itu, menyebutnya sekadar perang Sunni melawan Syiah terlalu menyederhanakan persoalan. Menyebut Saudi melawan seluruh Yaman juga keliru. Pemerintah Yaman justru didukung Saudi.
Jadi, Houthi menyerang Saudi karena memandang negara itu sebagai lawan yang ikut berperang di Yaman dan mendukung pemerintah yang mereka lawan. Serangan tersebut menjadi cara untuk membalas, menekan Saudi, dan memperkuat posisi dalam perundingan.
Akar persoalannya adalah perebutan kekuasaan di Yaman yang meluas menjadi konflik kawasan.
(Ulul Albab)


