Hadis

Amalan Ringan Yang Berat Timbangannya

Salafusshalih.com – Mulailah melakukan kebaikan dari yang paling ringan, mudah, sederhana tanpa beban. Lambat laun bakal mudah berbuat kebaikan yang besar.

Ada orang menunda berbuat baik karena merasa sedikit padahal dia tak mampu berbuat yang besar. Seperti bersedekah selalu mengatakan ingin yang besar, padahal tak punya uang. Seandainya dia mau bersedekah mulai dari jumlah sedikit hari itu juga bisa berbuat kebaikan.

Secara psikologis, keberhasilan menyelesaikan satu amalan ringan dapat memberikan energi positif dan rasa bahagia. Ini memicu motivasi untuk melakukan amalan-amalan lain yang lebih besar di kemudian hari.

Amalan ringan tidak membutuhkan energi atau motivasi yang besar, sehingga lebih mudah diulang setiap hari sampai menjadi rutinitas yang melekat.

Dari Aisyah radhiyallaahu anha berkata, Rasulullah Shalallaahu aaliahi wa sallam  bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang dilakukan terus menerus meskipun (amalan ) tersebut  sedikit. (Hadis sahih – Muslim)

Hadis ini mengandung makna, Allah Ta’ala menyukai ibadah yang konsisten daripada ibadah besar yang dilakukan hanya sesekali lalu terhenti. Memulai dari yang ringan membantu kita membangun kebiasaan yang baik tanpa merasa terbebani.

Empat Contoh Amalan Ringan

Ini contoh amal saleh yang ringan namun berdampak besar dan berbalas pahala besar di sisi Allah Ta’ala.

Pertama, Mengerjakan Salat Witir sebelum Tidur Malam

Mengerjakan salat witir memberikan kemudahan dan keringanan bagi seorang muslim yang memiliki keterbatasan waktu, khawatir keburu masuk waktu Subuh, atau tidak sempat mengerjakan rakaat yang lebih banyak.

Dalam Sahih Sunan Abu Daud Jilid 1 halaman 551, ditunjukkan dalil melaksanakan salat witir sebelum tidur malam.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : أَوْصَنِيْ خَلِيْلِيْ بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ فِيْ سَفَرٍ وَ لاَ حَضرٍ , رَكْعَتَيِ الضًّحَى , وَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ , وَ أَنْ لاَ أَنَامَ إِلاَّ عَلَى وِتْرٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata,”Kekasihku (Rasulullaah Shalallaahu alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang aku tidak boleh meninggalkannya, baik ketika menetap atau dalam perjalanan, yaitu dua rakaat salat Duha, berpuasa tiga hari setiap bulan (puasa ayyamul bidh Berdasarkan kalender Hijriah tanggal 13, 14, 15 ), dan agar aku tidak tidur, kecuali setelah salat witir. (Hadis sahih – muttafaqun alaihi)

Salat witir adalah ibadah yang sangat ditekankan (sunnah mu’akkadah) dan hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Saw baik saat di rumah maupun dalam perjalanan. Jumlah bilangan rakaat witir variatif. Bisa lima, tiga, bahkan satu rakaat.

Kedua, Berzikir Tasbih dan Tahmid Setiap Kesempatan

Berzikir dengan tasbih dan tahmid adalah sarana mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala. Mulai dari iman, kesehatan, kehidupan, hingga rezeki. Rasa syukur ini membuat hati lebih tenang dan tidak mudah merasa kurang, sehingga manusia terhindar dari sifat sombong atau merasa paling benar.

Merujuk dari Mutiara Hadis Sahih Bukhari dan Muslim nomor hadis 1727 halaman 961 tulisan Muhammad Fu’ad Abdul Baqi menyebutkan Nabi Saw bersabda:

حَدِيْثُ أَبِيْ هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ , قَالَ ( كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ , ثَقِيْلَتَانِ فِيْ الْمِزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَانِ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيْمِ , سُبْحَانَ اللَّهِ وَ بِحَمْدِهِ ” )

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata, Nabi Saw bersabda,”Dua kalimat yang ringan diucapkan dengan lidah, tetapi sangat berat di timbangan amal, bahkan sangat disukai oleh Allah (Ar-Rahman), yaitu subhanallaahil ‘azhim, subhanallaahi wa bihamdihi. (Hadis sahih – Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengandung makna Allah Ta’ala memberikan amalan yang sangat mudah dan ringan bagi hambaNya untuk diucapkan kapan saja dan di mana saja (hanya membutuhkan beberapa detik), namun menyediakan ganjaran pahala yang luar biasa besarnya.

Ketiga, Bersiwak (Menggosok gigi)

Kebersihan mulut menunjukkan adab dan penghormatan tertinggi saat menghadap Sang Pencipta. Momen seorang hamba berhadapan dan berbicara langsung dengan Allah Ta’ala (melalui bacaan Al-Qur’an dan doa). Membersihkan sisa-sisa makanan yang tertinggal di sela gigi dan lidah yang menjadi penyebab bau tidak sedap.

Mulut yang bersih dan segar melancarkan lisan saat melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam salat. Dalam beberapa literatur keislaman dan medis tradisional menyebutkan orang yang bersiwak itu merangsang saraf di sekitar mulut dan gusi yang dapat menjernihkan pikiran serta memberi efek segar pada mata.

Dalam kitab Al-Lu’lu’ wal Marjan, hadis bomor 142 halaman 183, Muhammad Fuad Abdul Baqi, mencantumkan hadis Nabi Saw bersabda:

حَدِيْثُ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : ” لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ

Abu Hurairah radhiyallaahu anhu meriwayatkan, Rasulullaah Shalallaahu alaihi wa sallam bersabda: Sekiranya tidak memberatkan umatku atau manusia, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak (menggosok gigi ) pada setiap hendak melaksanakan salat. (Hadis sahih – Bukhari)

Kalimat seandainya tidak memberatkan umatku dalam hadis ini menjadi dalil sunah hukumnya bersiwak pada tiap kali akan melaksanakan salat. Oleh karenanya Rasulullah Saw tidak mewajibkannya. Namun amalan ringan ini mengandung dimensi spiritual dan jasmani yang sangat dalam.

Keempat, Tidak Tidur Larut Malam agar Bisa Salat Subuh Berjemaah

Tidur larut malam membuat tubuh terasa berat untuk bangun saat waktu Subuh tiba. Begadang atau terjaga hingga larut malam tanpa keperluan yang penting atau darurat (seperti ibadah, belajar, atau urusan mendesak) hukumnya makruh.

Dalam kitab Sahih Sunan Tirmidzi, Jilid. 1, Hadits No. 168 ada bab yang menerangkan tentang Hukumnya Makruh Tidur sebelum Salat Isya dan Bercakap-Cakap Setelahnya. Sebagaimana hadis ini.

عَنْ أَبِيْ بَرْزَةَ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَ الْحَدِيْثَ بَعْدَهَا

Dari Abu Barzah, ia berkata,”Nabi Saw membenci tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang sesudahnya. (Hadis Sahih – Ibnu Majah dan Muttafaqun alaihi)

Sebagian besar para ulama membenci tidur sebelum salat Isya dan ngobrol sesudahnya. Sebagian para ulama meringankan untuk tidur sebelum salat Isya pada bulan Ramadan.

Kesimpulan

Memulai langsung dengan amalan yang berat membuat orang berat, lelah, jenuh, dan akhirnya berhenti. Mulai dengan amalan ringan menjaga semangat tetap stabil. Oleh karenanya sesuatu yang ringan lebih mudah diulangi setiap hari hingga akhirnya menjadi bagian alami dari rutinitas hidup. Wallaahu ’alamu bishshawwab.

(Ridwan Ma’ruf)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button