Mujadalah

Berlomba Berdakwah Tanpa Saling Menjatuhkan

Salafusshalih.com – Suatu hari, Rasulullah saw. meminta para sahabat untuk bersedekah. Umar bin Khattab ingin melampaui Abu Bakar hari itu. Ia membawa separuh hartanya kepada Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Umar menjawab bahwa ia meninggalkan separuh hartanya untuk mereka.

Kemudian, Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Saat ditanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” ia menjawab, “Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”

Mendengar jawaban itu, Umar berkata, “Aku tidak akan pernah berlomba denganmu dalam hal apa pun.” (Abu Dawud, No. 1678).

Seorang dai bukan sekadar orang yang menyampaikan ajaran Islam melalui ceramah, khotbah, atau pengajian. Lebih dari itu, dai adalah penggerak perubahan, pembangun kesadaran, dan teladan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, seorang dai membutuhkan semangat juang yang tinggi, kreativitas, ketekunan, serta insting bertanding untuk menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan umat.

Insting bertanding dalam konteks dakwah bukanlah keinginan untuk mengalahkan orang lain, apalagi menjatuhkan sesama pendakwah. Insting bertanding yang dimaksud adalah semangat untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas dakwah, memperluas manfaat, dan menjadi yang terdepan dalam melakukan kebajikan. Inilah semangat fastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Artinya: “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Al-Baqarah 148).

Ayat ini memberikan pesan penting bahwa kehidupan seorang muslim harus diwarnai semangat untuk menghasilkan karya dan prestasi dalam kebaikan. Bagi seorang dai, pesan tersebut menjadi motivasi untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, menyejukkan, dan memberikan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Berlomba Tanpa Menjatuhkan Sesama

Dakwah bukanlah pekerjaan yang selalu mudah. Seorang dai menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sarana, perubahan pola pikir masyarakat, perkembangan teknologi, hingga persoalan sosial yang semakin kompleks.

Dalam situasi demikian, seorang dai tidak boleh mudah menyerah. Ia harus memiliki semangat juang untuk terus belajar, memperbaiki metode dakwah, dan mencari jalan terbaik agar pesan Islam dapat diterima dengan baik.

Insting bertanding mendorong dai untuk bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah dakwah saya hari ini lebih baik daripada kemarin? Apakah ilmu saya bertambah? Apakah kehadiran saya memberikan manfaat bagi masyarakat? Apakah generasi muda semakin dekat dengan nilai-nilai Islam melalui pendekatan yang saya lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membangun kesombongan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya evaluasi dan peningkatan kualitas diri.

Dai yang memiliki semangat juang tidak cepat puas dengan keberhasilan masa lalu. Ia menjadikan keberhasilan sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik, sedangkan kegagalan menjadi pelajaran untuk memperbaiki langkah berikutnya.

Dalam kehidupan dakwah, terkadang muncul persaingan dalam menarik perhatian jemaah, meningkatkan popularitas, atau memperluas pengaruh. Persaingan semacam ini perlu disikapi secara bijaksana.

Insting bertanding seorang dai harus berlandaskan keikhlasan dan tanggung jawab. Ukuran keberhasilan dakwah bukan semata-mata banyaknya jemaah, tingginya popularitas, atau besarnya jumlah pengikut di media sosial. Keberhasilan dakwah juga tercermin dalam perubahan perilaku, meningkatnya kepedulian sosial, tumbuhnya akhlak mulia, dan semakin kuatnya hubungan manusia dengan Allah Swt.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa niat merupakan fondasi penting dalam setiap aktivitas, termasuk berdakwah.

Karena itu, seorang dai hendaknya tidak merasa terancam ketika pendakwah lain memperoleh keberhasilan. Sebaliknya, ia perlu mengambil pelajaran, membangun kerja sama, dan saling mendukung dalam menyebarkan kebaikan.

Jika seorang dai berhasil membangun masyarakat yang religius, dai lainnya semestinya ikut bergembira. Sebab, tujuan utama dakwah bukan memenangkan persaingan pribadi, melainkan mengantarkan manusia menuju kehidupan yang diridai Allah Swt.

Dakwah Yang Terasa Manfaatnya

Insting bertanding juga menuntut seorang dai untuk terus mengembangkan kemampuan. Perubahan zaman mengharuskan dakwah dilakukan dengan pendekatan yang relevan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Generasi muda, misalnya, membutuhkan pendekatan komunikasi yang sesuai dengan dunia mereka. Selain melalui pengajian dan ceramah, dakwah dapat dikembangkan melalui tulisan, video edukatif, diskusi, kegiatan sosial, pendidikan, dan pemanfaatan media digital.

Seorang dai perlu meningkatkan kemampuan berbicara, memperdalam ilmu agama, memahami persoalan masyarakat, serta menguasai teknologi komunikasi secara bijaksana.

Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata yang memberikan solusi bagi kehidupan umat.

Insting bertanding yang sehat akan melahirkan produktivitas. Dai terdorong untuk membangun lembaga pendidikan, membina generasi muda, mendampingi masyarakat yang membutuhkan, mengembangkan kegiatan pemberdayaan ekonomi, dan memperkuat solidaritas sosial.

Prestasi tersebut tidak harus selalu besar dan terlihat oleh banyak orang. Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, membimbing remaja menjauhi perilaku negatif, mendamaikan perselisihan, atau membantu keluarga yang mengalami kesulitan juga merupakan bentuk keberhasilan dakwah.

Yang terpenting adalah kesungguhan dalam beramal dan manfaatnya bagi sesama.

Dai dan insting bertanding merupakan dua hal yang dapat berjalan beriringan apabila dilandasi keikhlasan, ilmu, dan akhlak mulia. Insting bertanding bukanlah ambisi untuk mengalahkan sesama, melainkan dorongan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Seorang dai harus berani menetapkan tujuan, tekun memperjuangkannya, terbuka terhadap evaluasi, dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan. Ia juga harus mampu menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai ancaman.

Mari kita jadikan fastabiqul khairat sebagai semangat dalam berdakwah. Berlomba-lombalah dalam meningkatkan ilmu, memperbaiki akhlak, memperkuat persaudaraan, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Sebab, kemenangan sejati seorang dai bukanlah ketika dirinya lebih terkenal daripada orang lain, melainkan ketika semakin banyak manusia memperoleh manfaat dari dakwahnya dan semakin dekat kepada Allah Swt.

(Kemas Adil Mastjik)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button