Hadis

Dari Viralitas Menuju Validitas, Menjaga Akal Sehat di Era Digital

Salafusshalih.com – Kita sedang hidup dalam era yang penuh disrupsi. Teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, media sosial mengubah cara manusia berkomunikasi, dan kecerdasan digital mengubah cara manusia memproduksi serta menyebarkan pengetahuan. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai kepada masyarakat, kini dapat beredar dalam hitungan detik.

Namun, ada sesuatu yang tidak boleh ikut terdisrupsi oleh perubahan zaman: standar kita terhadap kebenaran.

Sebab, semakin cepat informasi bergerak, semakin besar pula kemungkinan manusia menerima sesuatu sebelum sempat memeriksanya. Sebuah potongan video dapat membentuk persepsi sebelum konteksnya diketahui.

Sebuah tangkapan layar dapat dipercaya hanya karena tampilannya meyakinkan. Sebuah pernyataan dapat dikutip berulang-ulang hingga orang lupa siapa sumber pertamanya. Bahkan, informasi yang belum jelas kebenarannya dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar hanya karena terlalu banyak orang membagikannya.

Di sinilah persoalan informasi berubah menjadi persoalan epistemologi.

Pertanyaan manusia tidak cukup berhenti pada, “Apa yang saya dengar?” atau “Apa yang sedang ramai dibicarakan?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Dari mana saya mengetahui bahwa apa yang saya dengar itu benar?”

Pertanyaan sederhana ini sebenarnya merupakan pintu masuk menuju kedewasaan intelektual.

Sebab, informasi bukanlah pengetahuan. Informasi baru menjadi pengetahuan ketika dipahami, diperiksa, ditempatkan dalam konteks, dan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, pengetahuan pun belum tentu identik dengan kebenaran. Manusia dapat memiliki pengetahuan yang keliru karena sumbernya salah, cara memperoleh informasinya tidak tepat, atau kesimpulannya dibangun dari data yang tidak lengkap.

Karena itu, manusia intelektual tidak cukup hanya menjadi manusia yang banyak tahu. Ia harus menjadi manusia yang memahami mengapa ia mengetahui sesuatu dan seberapa kuat dasar pengetahuannya.

Informasi Belum Tentu Menjadi Pengetahuan

Informasi yang keliru dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang salah terhadap orang lain. Dengan demikian, kesalahan epistemologis dapat berubah menjadi persoalan etis.

Salah mengetahui dapat melahirkan salah bertindak. Salah memahami dapat melahirkan salah menilai. Salah menyebarkan informasi pun dapat melahirkan kezaliman terhadap orang lain.

Maka, tabayun bukan sekadar metode memeriksa berita. Tabayun adalah akhlak pengetahuan.

Tabayun Sebagai Akhlak Pengetahuan

Di era media sosial, persoalan ini menjadi semakin penting karena setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi produsen sekaligus distributor informasi. Kita tidak lagi hanya membaca berita dari media. Kita menerima informasi dari grup percakapan, video pendek, unggahan pribadi, siniar, kanal YouTube, komentar, dan berbagai sumber digital lainnya.

Masalahnya, tidak semua sumber memiliki kedudukan epistemologis yang sama.

Pernyataan resmi sebuah lembaga tentu berbeda dengan komentar seseorang di media sosial. Dokumen asli berbeda dengan tangkapan layar yang tidak diketahui asalnya. Pernyataan langsung berbeda dengan potongan video yang telah dipisahkan dari konteks. Berita jurnalistik berbeda dengan opini pribadi. Pengalaman seseorang berbeda dengan bukti yang berlaku secara umum.

Semua boleh menjadi bahan informasi, tetapi tidak semuanya boleh diperlakukan sebagai fakta dengan bobot yang sama.

Di sinilah masyarakat intelektual membutuhkan kemampuan untuk membaca bukan hanya isi informasi, melainkan juga asal-usulnya.

Siapa yang mengatakan? Dalam kapasitas apa ia mengatakan? Dari mana sumber datanya? Kapan informasi itu disampaikan? Apakah konteksnya lengkap? Apakah terdapat dokumen atau bukti yang dapat diperiksa? Apakah ada sumber primer? Apakah sumber lain memberikan keterangan yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin terasa memperlambat kita.

Namun, justru di situlah letak persoalannya: kebenaran memang tidak selalu secepat informasi yang menjadi viral.

Kebohongan dapat dibuat dalam hitungan menit. Klarifikasi kadang membutuhkan waktu lebih panjang. Karena itu, masyarakat yang matang secara intelektual harus memiliki kemampuan untuk menunda kesimpulan.

Jangan Menyimpulkan Dari Sepotong Informasi

Dalam konteks kehidupan digital, prinsip ini berarti kita harus berhati-hati terhadap kecenderungan untuk menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat satu video, membaca satu unggahan, menerima satu pesan, atau mendengar satu versi cerita.

Apalagi ketika informasi tersebut menyangkut kehormatan seseorang, lembaga, masyarakat, atau pemerintah. Semakin besar dampak sebuah informasi, semakin besar pula tuntutan untuk memeriksa sumbernya.

Sebab, ada perbedaan besar antara mengatakan, “Saya mendapatkan informasi bahwa …” dan mengatakan, “Faktanya adalah …”

Kalimat pertama mengakui bahwa kita sedang membawa sebuah informasi yang masih perlu diperiksa. Kalimat kedua mengandung klaim bahwa kita telah mengetahui kenyataannya.

Perbedaan kecil dalam bahasa itu sesungguhnya menunjukkan perbedaan besar dalam kesadaran epistemologis.

Nabi Muhammad Saw. memberikan peringatan yang juga sangat relevan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang disebut berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (Muslim)

Hadis ini memberikan pelajaran penting: seseorang tidak harus menjadi pembuat kebohongan untuk terlibat dalam penyebaran kebohongan. Ia dapat terjebak hanya karena menceritakan kembali semua yang didengarnya tanpa pemeriksaan.

Dahulu, mekanisme itu berlangsung dari mulut ke mulut. Hari ini, ia dapat berlangsung melalui pesan yang diteruskan, dibagikan, atau diunggah ulang. Teknologinya berubah, tetapi persoalan etikanya tetap sama.

Apakah kita sedang menyampaikan sesuatu yang kita ketahui atau sekadar meneruskan sesuatu yang kita dengar?

Pertanyaan ini semakin penting karena media sosial tidak hanya mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga penyebaran emosi. Informasi yang membuat seseorang marah, takut, kagum, atau tersinggung sering kali mendorong reaksi lebih cepat daripada informasi yang membutuhkan pembacaan secara tenang.

Akibatnya, manusia dapat mengambil keputusan sebelum memahami persoalan.

Kita membaca judul, lalu marah. Kita melihat potongan video, lalu menyimpulkan. Kita membaca komentar, lalu membentuk persepsi. Kita menerima informasi yang sesuai dengan pandangan kita, lalu membagikannya tanpa pemeriksaan.

Pada titik ini, yang bekerja bukan lagi akal yang mencari kebenaran, melainkan emosi yang mencari pembenaran.

Inilah salah satu jebakan terbesar masyarakat informasi.

Ketika Emosi Mencari Pembenaran

Kita sering mengira bahwa berpikir kritis berarti pandai membantah pendapat orang lain. Padahal, berpikir kritis yang sesungguhnya dimulai dari kemampuan untuk mengkritik cara berpikir kita sendiri.

Apakah saya memeriksa informasi ini karena ingin menemukan kebenaran atau karena ingin membuktikan bahwa keyakinan saya benar?

Apakah saya mencari sumber yang beragam atau hanya mencari sumber yang mendukung pandangan saya?

Apakah saya siap mengubah kesimpulan jika bukti baru menunjukkan bahwa saya keliru?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan latihan intelektual yang jauh lebih sulit daripada sekadar memberikan komentar.

Sebab, manusia sering kali lebih mudah mempertahankan pendapat daripada mengoreksi pendapatnya sendiri.

Padahal, kedewasaan intelektual bukan ditandai dengan tidak pernah salah. Kedewasaan intelektual ditandai oleh kesediaan untuk memperbaiki kesalahan ketika bukti menunjukkan bahwa kita keliru.

Karena itu, mengatakan, “Saya belum tahu,” bukanlah tanda kelemahan intelektual.

Justru terkadang itulah tanda bahwa akal sedang bekerja secara sehat.

Ada informasi yang memang benar. Ada yang salah. Ada yang sebagian benar, tetapi kehilangan konteks. Ada pula yang belum cukup jelas untuk disimpulkan.

Tidak semuanya harus segera diberi komentar. Tidak semuanya harus segera dibagikan. Tidak semuanya harus segera menjadi sikap.

Ada informasi yang cukup kita ketahui. Ada yang perlu kita teliti. Ada pula yang harus kita tahan agar tidak menyebarkannya.

Sebab, ketika kita membagikan sebuah informasi, kita tidak lagi hanya menjadi penerima. Kita menjadi bagian dari perjalanan informasi tersebut.

Jika ternyata informasi itu benar, kita ikut menyebarkan kebenaran. Namun, jika ternyata informasi itu salah, kita ikut memperpanjang kesalahan. Jika ternyata ia fitnah, kita ikut memberi kehidupan baru kepada fitnah tersebut. Jika ternyata ia hanya dugaan, kita mungkin ikut mengubah dugaan menjadi persepsi publik.

Di sinilah informasi berubah menjadi amanah moral.

Dari Literasi Digital Menuju Kedewasaan Epistemologis

Maka, masyarakat intelektual tidak cukup hanya memiliki literasi digital. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: kedewasaan epistemologis.

Literasi digital mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Kedewasaan epistemologis mengajarkan bagaimana menggunakan akal ketika berhadapan dengan informasi yang datang melalui teknologi.

Kita membutuhkan manusia yang mampu berhenti sejenak sebelum menyimpulkan, memeriksa sebelum menyebarkan, membedakan fakta dari opini, mengenali sumber primer dan sekunder, serta membaca konteks. Yang paling penting, ia mampu menahan diri ketika dasar pengetahuannya belum cukup.

Karena pada akhirnya, tidak semua yang viral adalah benar, sebagaimana tidak semua yang tidak viral adalah salah.

Popularitas adalah ukuran perhatian manusia, bukan ukuran kebenaran.

Jumlah tayangan adalah ukuran keterpaparan, bukan ukuran validitas.

Banyaknya informasi yang dibagikan adalah ukuran penyebaran, bukan ukuran kebenaran.

Kebenaran membutuhkan dasar yang lebih dalam daripada sekadar popularitas.

Bertanya Sebelum Percaya

Di sinilah masyarakat intelektual perlu kembali kepada satu kebiasaan yang mungkin sederhana, tetapi sangat penting: bertanya sebelum percaya.

Dari mana sumbernya?

Apa buktinya?

Apa konteksnya?

Siapa yang menyampaikan?

Apakah sudah diverifikasi?

Dan jika ternyata saya keliru, siapa yang mungkin dirugikan oleh kesimpulan saya?

Pertanyaan terakhir sangat penting karena epistemologi tidak boleh dipisahkan dari akhlak.

Pengetahuan yang tidak melahirkan kehati-hatian dapat berubah menjadi kesombongan. Informasi yang tidak disertai tanggung jawab dapat berubah menjadi fitnah. Kebebasan berbicara tanpa disiplin terhadap kebenaran dapat berubah menjadi kerusakan.

Maka, di era yang penuh disrupsi ini, manusia tidak hanya membutuhkan lebih banyak informasi, tetapi juga lebih banyak kebijaksanaan dalam memperlakukannya.

Kita tidak harus menjadi orang pertama yang berkomentar. Kita tidak harus selalu mempunyai pendapat. Kita tidak harus ikut dalam setiap arus pembicaraan.

Kadang-kadang, keputusan paling intelektual adalah berhenti sejenak dan berkata:

“Saya belum cukup tahu untuk menyimpulkan.”

Sebab, kebenaran tidak membutuhkan kita untuk tergesa-gesa.

Yang sering membutuhkan ketergesa-gesaan justru emosi, prasangka, dan informasi yang belum selesai diperiksa.

Menahan Diri Bagian Dari Kecerdasan

Maka, di tengah zaman ketika informasi bergerak begitu cepat, kemampuan menahan diri menjadi bagian dari kecerdasan.

Dan mungkin inilah salah satu bentuk iqra’ yang paling relevan bagi manusia modern: bukan hanya membaca teks, tetapi membaca sumber; bukan hanya membaca berita, tetapi membaca konteks; bukan hanya mengetahui informasi, tetapi memahami dasar pengetahuannya.

Karena pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya:

“Apa yang saya ketahui?”

melainkan:

“Dari mana saya mengetahuinya, seberapa kuat dasar pengetahuan itu, dan apa tanggung jawab saya setelah mengetahuinya?”

Di situlah informasi berhenti menjadi sekadar arus data dan mulai menjadi ujian akal, akhlak, serta tanggung jawab manusia.

Di era yang penuh disrupsi, jangan biarkan kecepatan informasi mengalahkan kedalaman berpikir. Jangan biarkan popularitas menggantikan validitas. Dan jangan biarkan jempol lebih cepat daripada akal.

Sebab, menjaga kebenaran bukan hanya kewajiban orang yang membuat informasi. Menjaga kebenaran juga merupakan tanggung jawab setiap orang yang memilih untuk meneruskannya.

(Muhammad Hidayatulloh)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button