Jangan Salah Memahami Istidraj!

Salafusshalih.com – Ada kalanya manusia sibuk mengejar dunia, tetapi hasilnya tak kunjung datang. Harta tak terkumpul, harapan tak terwujud, sementara ibadah justru ditinggalkan.
Dalam keadaan seperti ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: ke mana sebenarnya hidup ini diarahkan? Jangan sampai kegagalan dunia membuat kita putus asa, sedangkan kelalaian terhadap akhirat menjauhkan kita dari Allah. Sebab, kehidupan bukan sekadar tentang keberhasilan, melainkan juga tentang keselamatan.
Kelapangan Belum Tentu Berarti Ke-ridha-an
Istidraj sering dipahami sebagai keadaan ketika seseorang terus memperoleh kenikmatan dunia meskipun semakin jauh dari Allah. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak sembarangan menyebut kesulitan hidup sebagai istidraj.
Kemiskinan, kegagalan usaha, sakit, atau belum tercapainya cita-cita bukan bukti bahwa Allah sedang menghinakan seseorang. Semua itu bisa menjadi ujian, jalan pembelajaran, atau bagian dari takdir yang mengandung hikmah. Karena itu, ukuran keberuntungan bukan semata banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya pengaruh, melainkan juga sejauh mana nikmat tersebut membawa manusia semakin bersyukur dan taat kepada-Nya.
Pintu Tobat Tetap Terbuka
Lalu, bagaimana jika seseorang tidak memiliki banyak uang, usahanya belum berhasil, dan ibadahnya pun masih berantakan? Keadaan seperti itu seharusnya menjadi alasan untuk melakukan muhasabah, bukan untuk menghukum diri sendiri. Jangan merasa tidak berharga hanya karena miskin. Jangan pula menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan kita hanya karena kehidupan belum berjalan sesuai harapan.
Inilah pintu harapan bagi siapa pun yang merasa telah jauh dari Allah. Sebesar apa pun kesalahan masa lalu, kesempatan untuk bertobat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Jangan menunggu kaya untuk bersyukur, jangan menunggu sukses untuk bersujud, dan jangan menunggu hidup tenang untuk kembali mengingat Allah.
Rasulullah saw. bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (Muslim No. 2999).
Hadis ini mengajarkan bahwa keberhasilan dan kegagalan sama-sama dapat menjadi jalan kebaikan. Kekayaan semestinya melahirkan syukur, sedangkan kesulitan semestinya menumbuhkan kesabaran dan ikhtiar. Keduanya kehilangan makna ketika membuat manusia lalai dari Allah.
Menjaga Ibadah di Tengah Ikhtiar
Karena itu, jangan biarkan urusan dunia menghabiskan seluruh tenaga hingga salat diabaikan. Bekerja mencari nafkah adalah ikhtiar yang mulia, tetapi jangan sampai kesibukan mencari rezeki justru menjauhkan kita dari Pemberi Rezeki.
Tunaikan salat, perbaiki hubungan dengan sesama, carilah penghasilan yang halal, dan teruslah belajar memperbaiki kehidupan.
Maka, jika hari ini kita belum punya uang, pekerjaan belum mapan, dan cita-cita belum tercapai, jangan menyerah. Evaluasi ikhtiar, tingkatkan keterampilan, bangun kembali semangat, dan perbaiki salat.
Jangan menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah, sebagaimana jangan menjadikan kekayaan sebagai alasan untuk merasa tidak membutuhkan Allah.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan ke mana seluruh perjalanan hidup ini membawa kita. Dunia yang gagal diraih masih menyisakan kesempatan untuk berjuang. Masa lalu yang penuh kelalaian masih menyisakan kesempatan untuk bertobat. Selama Allah masih memberi kita waktu, jangan menutup pintu harapan dengan tangan sendiri.
Sebab, kerugian yang sesungguhnya bukanlah ketika seseorang belum memiliki banyak harta, melainkan ketika ia kehilangan harapan kepada Allah, meninggalkan kewajiban, dan tidak lagi peduli terhadap keselamatan akhiratnya.
Mari kembali kepada Allah, bukan hanya ketika terdesak, tetapi juga ketika lapang. Bukan hanya ketika membutuhkan pertolongan, tetapi karena kita memang membutuhkan petunjuk-Nya setiap saat. Sebab, hidup ini bukan sekadar perjalanan mencari dunia, melainkan perjalanan pulang menuju Allah dengan hati yang beriman, amal yang saleh, dan harapan akan rahmat-Nya.
(Dwi Taufan Hidayat)

