Mandi Junub Menurut Sunah Nabi

Salafusshalih.com – Mandi junub atau janabat disebut mandi wajib/mandi besar. Tata cara bersucinya dengan mengalirkan air bersih ke seluruh tubuh. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki disertai niat untuk menghilangkan hadas besar.
Seseorang yang sedang berhadas besar dilarang salat, membaca Al-Qur’an, tawaf, dan berdiam di masjid hingga bersuci.
Mandi junub memberikan efek kesegaran yang instan, membuang rasa lesu, dan memberi ketenangan jiwa serta kesiapan mental untuk kembali beribadah.
Cara Mandi Junub
Hadis pertama merujuk kitab Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam, Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi menjelaskan, hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menerangkan
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : ” إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوْءَهُلِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِيْ أُصُوْلِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
Dari Aisyah ra, ia berkata,”Rasulullaah Shalallaahu alaihi wa sallam apabila mandi janabat memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudu sebagaimana wudunya untuk salat. Kemudian mengambil air (dengan tangannya), lalu memasukkan jari-jari tangannya ke pangkal rambut hingga apabila ia melihat sudah tersentuh air semua pangkal rambutnya. Ia menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali tuangan air dengan kedua tapak tangannya, kemudian menyiramkan air ke sekujur tubuhnya, lalu membasuh kedua kakinya.”
Hadis kedua merujuk pada Nailul Authar Himpunan Hadis-Hadis Hukum, Jilid 1, penerjemah Muammal Hamidy, Drs. Imron AM, Umar Fanany. BA menyebutkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Al-Jama’ah, yaitu :
وَ عَنْ مَيْمُوْنَةَ قَالَتْ : ” وَ ضَعْتُ لِلنَّبِيِّ مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ , فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا , ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ مَذَاكِيْرُهُ ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِاْلأَرْضِ , ثُمَّ مَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ , ثُمّ غَسَلَ وَ جْهَهُ وَ يَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا , ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ قَالَتْ : فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ , فَلَمْ يُرِدْهَا , وَ جَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدِهِ
Dari Maimunah, ia berkata: Saya sediakan air untuk mandi Nabi Saw, lalu ia tuangkan (air) di atas kedua tangannya, lantas ia cuci keduanya dua kali atau tiga kali, kemudian ia tuangkan air dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu ia mencuci kemaluannya. Kemudian menggosok tangannya dengan tanah, kemudian berkumur-kumur dan mengisap air hidung, kemudian mencuci mukanya, dan kedua tangannya, kemudian mencuci kepalanya tiga kali, kemudian menuangkan (air) ke atas tubuhnya, kemudian bangkit dari tempatnya lalu mencuci kedua tapak kakinya. Maimunah berkata: Lalu saya berikan kepadanya sepotong kain, tetapi ia tidak mau, dan ia mengusap (bekas) air itu dengan tangannya. (Di dalalam riwayat Ahmad dan Tirmidzi tidak ada sebutan “menggosok dengan tangan”)
Dari dua hadis di atas, maka dapat disimpulkan tata cara mandi junub sebagai berikut:
Pertama, niat mandi junub dengan membaca basmalah dalam hati.
Kedua, mencuci kedua tangan dua atau tiga kali
Ketiga, membersihkan kemaluan dengan tangan kiri. Kemudian mencuci tangannya dengan menggosokkan tangannya ke tanah (Red. bisa dengan sabun). Kemudian berwudu secara sempurna sebagaimana wudu untuk salat. Atau bisa juga setelah membersihkan kemaluan dengan tangan kiri, kemudian mencuci tangannya dengan sabun, lalu membasuh anggota wudu sampai kepala. Kemudian mengguyur air ke seluruh tubuh dimulai dari bagian tubuh sebelah kanan. Terakhir mencuci kedua telapak kaki.
Namun Imam Nawawi berkata,”Bahwa pendapat yang benar, serta terpilih dari dua pendapat atau cara di atas adalah menyempurnakan wudu (termasuk mencuci kedua kaki) sebagaimana cara pertama di atas.”
Tata Cara Bersuci Wanita Selesai Haid dan Nifas
Merujuk pada kitab Fikih Sunnah Lin Nisaa’, Halaman 81-82, tulisan Syaikh Abu Malik Kamal, menjelaskan, pada umumnya praktiknya sama dengan mandi junub sebagaimana penjelasan di atas. Hanya saja ditambahkan dalam beberapa perkara sebagai berikut :
Pertama, menggunakan sabun dan alat pembersih lainnya di samping air.
Sebagaimana Nabi Saw bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَا كُنَّ مَاءَهَا وَ سِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ , فَتُحْسِنَ الطَّهُوْرَ …..( رواه البخارى و مسلم )
Hendaklah salah seorang dari kamu menyiapkan air dan perasan daun bidara, lalu bersucilah dengan secara sempurna…. (Sahih – Bukhari dan Muslim)
Kedua, dianjurkan membuka kepangan rambut supaya air menyentuh hingga pangkal rambut.
Sebagaimana Nabi Saw berkata kepada Aisyah saat ia haid:
انْقُضِيْ شَعْرَكَ وَ اغْتَسِلِيْ
”Uraikanlah rambutmu, dan mandilah.”
Ketiga, dianjurkan selesai mandi menggunakan secarik kain yang diberi wewangian. Yaitu mengoleskan pada kemaluan untuk menghilangkan bau yang tidak nyaman.
Dijelaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ada wanita bertanya kepada Nabi Saw tentang tata cara mandi dari haid. Nabi Saw bersabda,”Ambillah sepotong kapas yang diberi wewangian, lalu bersucilah dengannya. ”Wanita tersebut mengulangi pertanyaan sampai tiga kali. Beliau Saw menjawab,”Maha Suci Allah, bersucilah.”
Lalu Aisyah Radhiyallaahu ’anha menariknya seraya berkata,”Oleskanlah secarik kain tersebut pada bekas darah haid.”
Wallaahu ’alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)



