Jangan Pernah Lelah Berbakti Pada Orang Tua!

Salafusshalih.com – Berbakti kepada kedua orang tua bukanlah amalan yang dibatasi oleh waktu, usia, keadaan, ataupun balasan yang diterima. Seorang mukmin diperintahkan untuk tetap memuliakan ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang, meskipun terkadang pengorbanan itu tidak dihargai atau terasa berat.
Keridaan Allah sangat erat kaitannya dengan keridaan kedua orang tua. Karena itu, jangan pernah merasa bosan untuk mencintai, melayani, mendoakan, dan membahagiakan mereka selama hayat masih dikandung badan maupun setelah mereka wafat.
Allah Swt. menciptakan manusia dengan fitrah untuk mencintai kedua orang tuanya. Sejak berada dalam kandungan, seorang anak telah menerima limpahan kasih sayang yang tidak terhingga.
Seorang ibu mengandung dengan segala kepayahan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyusui dengan penuh kasih, lalu membesarkan anaknya dengan segala pengorbanan. Seorang ayah bekerja keras mencari nafkah, melindungi keluarga, mendidik, dan menjadi sandaran kehidupan.
Tidak ada manusia yang mampu menghitung besarnya jasa kedua orang tua. Oleh sebab itu, Islam menempatkan bakti kepada keduanya sebagai salah satu amal paling utama setelah menauhidkan Allah.
Jangan Berkata “Ah”!
Allah Swt. berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Isra’: 23–24).
Ayat yang agung ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan kedua orang tua di sisi Allah. Bahkan, mengucapkan kata yang paling ringan sebagai bentuk kejengkelan, seperti “ah”, sudah dilarang.
Apalagi membentak, menyakiti hati, menghardik, mengabaikan, atau menelantarkan mereka. Seorang Muslim dituntut untuk selalu menjaga lisannya, bersikap lembut, dan memperlihatkan wajah yang ramah kepada kedua orang tuanya.
Berbakti kepada orang tua bukan sekadar memberikan nafkah. Berbakti adalah menghadirkan kasih sayang dalam setiap sikap. Mendengarkan nasihat mereka, membantu pekerjaan mereka, menemani ketika kesepian, memenuhi kebutuhan mereka semampunya, menjaga nama baik mereka, serta mendoakan mereka setiap hari merupakan bagian dari birrul walidain yang sangat dicintai Allah.
Menjaga Keridhaan Orang Tua
Rasulullah saw. juga menjelaskan besarnya kedudukan orang tua melalui sabdanya:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Keridaan Allah bergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah bergantung pada kemurkaan orang tua.” (Tirmizi).
Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak pernah menganggap remeh hati kedua orang tua. Banyak orang yang rajin beribadah, tetapi lalai menjaga perasaan ayah dan ibunya. Padahal, menyakiti hati mereka dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan hidup.
Sebaliknya, membahagiakan mereka dapat menjadi jalan datangnya rezeki, keberkahan, serta kemudahan dalam berbagai urusan.
Dalam hadis lain disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi saw., ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.’” (Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menempati kedudukan yang sangat tinggi, bahkan disebut sebelum jihad dalam urutan jawaban Rasulullah saw. Ini menunjukkan betapa besar nilai amal tersebut di sisi Allah.
Bersabar Saat Mereka Menua
Jangan pernah bosan melayani orang tua ketika mereka mulai renta. Jangan pernah lelah mengulang penjelasan ketika daya ingat mereka mulai berkurang. Jangan pernah jengkel ketika langkah mereka melambat, pendengaran mereka berkurang, atau mereka sering mengulang cerita yang sama.
Bukankah dahulu mereka dengan penuh kesabaran mengajari kita berbicara, berjalan, makan, dan mengenal kehidupan? Kesabaran mereka menjadi salah satu sebab kita dapat tumbuh hingga dewasa. Maka, kesabaran kita hari ini adalah bentuk balasan yang sangat kecil dibandingkan dengan pengorbanan mereka.
Pada fase inilah bakti seorang anak benar-benar diuji. Merawat orang tua yang telah lanjut usia mungkin membutuhkan tenaga, waktu, biaya, dan kesabaran yang tidak sedikit. Namun, setiap pelayanan kepada mereka merupakan kesempatan untuk berbuat baik yang tidak selamanya tersedia.
Jangan sampai kesibukan membuat kita lupa bahwa usia mereka terus bertambah. Jangan pula menunggu sampai kesehatan mereka menurun untuk mulai memberikan perhatian. Selagi masih ada kesempatan, hadirkan diri bukan sekadar secara fisik, tetapi juga dengan perhatian, percakapan, dan kasih sayang.
Bakti Tidak Berakhir Setelah Wafat
Apabila kedua orang tua telah meninggal dunia, berbakti kepada mereka tidak serta-merta berhenti. Seorang anak tetap dapat menghadiahkan doa, memohonkan ampunan untuk mereka, menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka, menunaikan wasiat yang baik, serta memperbanyak sedekah atas nama mereka.
Semua itu menjadi bentuk cinta yang terus mengalir meskipun jasad mereka telah kembali kepada Allah.
Setiap Muslim hendaknya menjadikan doa kepada kedua orang tua sebagai wirid harian. Jangan menunggu mereka sakit atau telah tiada. Selagi mereka masih hidup, manfaatkan kesempatan untuk memeluk mereka, meminta maaf, mencium tangan mereka, menghibur hati mereka, serta menunjukkan kasih sayang dengan perkataan dan perbuatan yang lembut.
Sebab, kesempatan berbakti kepada orang tua yang sama tidak akan datang untuk kedua kalinya ketika mereka telah dipanggil oleh Allah. Ada banyak hal yang mungkin dapat digantikan dalam kehidupan, tetapi kehadiran ayah dan ibu tidak dapat diulang.
Jangan Menunggu Kehilangan!
Selama orang tua masih ada, jangan pernah bosan menghubungi mereka, menanyakan kabar, mendengarkan cerita, memenuhi kebutuhan, atau sekadar duduk menemani. Hal-hal yang hari ini mungkin terasa sederhana dapat menjadi sesuatu yang sangat dirindukan setelah mereka tiada.
Berbakti tidak selalu membutuhkan pemberian yang mahal. Terkadang, perhatian, tutur kata yang lembut, waktu untuk mendengarkan, dan kesediaan menemani jauh lebih berarti daripada pemberian materi.
Yang terpenting adalah menghadirkan ketulusan dan kasih sayang sebagaimana mereka dahulu merawat kita tanpa menghitung lelah.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita anak-anak yang saleh, yang tidak pernah bosan menghormati, mencintai, melayani, dan mendoakan kedua orang tua.
Semoga Allah melimpahkan rahmat, kesehatan, dan keberkahan umur kepada orang tua yang masih hidup, mengampuni dosa-dosa mereka, melapangkan rezeki mereka, serta memasukkan orang tua yang telah wafat ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
(Dwi Taufan Hidayat)



