Menghidupkan Musyawarah di Era AI

Salafusshalih.com – Layar ponsel kita hari ini adalah ruang yang penuh sesak oleh informasi. Namun, di antara pesan yang terus berdatangan, percakapan bisa terasa begitu sunyi. Di ruang obrolan perkuliahan hingga sudut-sudut ruang kelas, sebuah pertanyaan kadang disambut keheningan panjang. Sebagian dari kita mungkin sudah mempunyai tanggapan, tetapi urung menyampaikannya.
Rasa takut dinilai keliru, cemas ditertawakan, atau gelisah menjadi pusat perhatian dapat menyandera keberanian untuk bersuara. Hambatan yang kerap disebut mental block ini membuat pertanyaan berhenti di dalam kepala. Dalam keadaan seperti itu, teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menawarkan jalan keluar yang terasa lebih nyaman.
Ketika jemari bisa mengetikkan pertanyaan ke dalam kotak percakapan AI dan mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, mengapa harus menanggung rasa malu di hadapan teman sendiri? Tidak ada tatapan sinis yang harus dihadapi. Bagi orang yang takut bertanya, pengalaman itu bisa terasa menenangkan.
Kemudahan mendapatkan penjelasan memang menjadi daya tarik AI. Dalam penelitian yang dimuat di jurnal Diglosia pada Agustus 2025, 76 persen dari 50 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Galuh yang diteliti lebih memilih ChatGPT sebagai sumber belajar dibandingkan dosen. ChatGPT dinilai praktis, cepat, dan mudah diakses. Pilihan para responden ini memperlihatkan bahwa kemudahan memperoleh jawaban menjadi pertimbangan dalam menentukan tempat belajar.
Pilihan itu bisa kita pahami. Penjelasan dari AI dapat membantu mahasiswa memahami materi sebelum membahasnya di kelas. Persoalan muncul jika memperoleh jawaban dianggap sebagai akhir dari belajar. Kita merasa sudah tahu, lalu tidak lagi merasa perlu mempertanyakan dasar jawabannya atau mendengar penjelasan orang lain. Kemudahan yang semula membantu pun berpotensi membuat kita terlalu bergantung.
Risiko ketergantungan itu juga disoroti Kemdiktisaintek dalam uji publik kerangka pemanfaatan AI generatif di perguruan tinggi, 9 Oktober 2026. Kementerian mengingatkan potensi melemahnya kemampuan berpikir kritis dan kemandirian mahasiswa.
Keberanian Yang Memerlukan Rasa Aman
Peringatan itu menyentuh cara kita belajar sehari-hari. Di ruang diskusi, dosen dapat meminta dasar sebuah jawaban, sementara teman menyampaikan pandangan berbeda. Kita kemudian belajar menjelaskan alasan, menerima koreksi, atau mempertahankan pendapat dengan bukti. Kesempatan seperti ini berkurang apabila jawaban AI langsung diterima dan percakapan dianggap selesai.
Bagi mahasiswa yang sudah takut berbicara, kemudahan AI bisa membuat pilihan untuk terus diam terasa semakin nyaman. Di sinilah ruang kelas perlu menunjukkan bahwa bertanya dan mengakui belum paham tidak akan membuat seseorang direndahkan.
Musyawarah menuntut kita untuk memberi tempat kepada suara yang berbeda. Yudi Latif menekankan bahwa pengambilan keputusan bersama perlu mempertimbangkan kepentingan semua pihak. Karena itu, diskusi kelas perlu dilihat juga dari kesempatan anggotanya untuk terlibat: apakah pendapat hanya datang dari orang yang sama, atau semua mendapat ruang untuk menyampaikan pertimbangan?
Mahasiswa yang pernah ditertawakan mungkin akan menimbang berkali-kali sebelum mengangkat tangan lagi. Kita pun perlu berhati-hati menyebut mereka individualistis. Ada yang sebenarnya ingin ikut berdiskusi, tetapi belum berani menghadapi tanggapan orang lain.
Kita patut mengkhawatirkan individualisme ketika kemudahan memperoleh jawaban sendiri disertai keengganan ikut memikirkan urusan bersama. Misalnya, pembagian tugas kelompok dibiarkan menjadi urusan beberapa orang, sementara anggota lain enggan menyampaikan pendapat dan ikut bekerja. Pada titik itu, kesediaan untuk saling mendengar dan berbagi tanggung jawab mulai terabaikan.
Lantas, di manakah letak sila keempat Pancasila di tengah keheningan ini?
Sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, mengingatkan kita pada pentingnya pertimbangan bersama. Musyawarah meniscayakan hadirnya dialog, keberanian bertukar pikiran, dan kebesaran jiwa untuk menerima perbedaan. Ketika sebuah kelompok harus memilih kegiatan atau membagi tanggung jawab, setiap anggotanya mempunyai kepentingan yang perlu didengar.
Jawaban AI dapat membantu menyediakan bahan pertimbangan. Adapun kesepakatan tentang siapa mengerjakan apa, keberatan anggota, dan cara menyelesaikan perbedaan tetap harus kita bicarakan bersama. Di situlah musyawarah memperoleh maknanya dalam kehidupan mahasiswa.
Merawat Ruang Percakapan
Langkahnya bisa dimulai dari tindakan-tindakan kecil. Pertama, ubahlah sudut pandang: mengajukan pertanyaan atau berbeda pendapat adalah bagian dari belajar. Kita tidak harus menunggu pikiran tersusun sempurna untuk ikut berdiskusi. Kadang, justru setelah diucapkan, sebuah gagasan menjadi lebih jelas karena mendapat tanggapan dari orang lain.
Kedua, ambil langkah kecil. Mulailah dengan merespons hal-hal sederhana di grup obrolan, sekadar mengucapkan terima kasih atau memberi jawaban singkat. Setelah itu, cobalah menyampaikan pertanyaan atau pendapat ketika kelompok membahas urusan bersama. Keberanian dapat dilatih sedikit demi sedikit.
Ketiga, ciptakan iklim yang saling mendukung. Berhentilah meremehkan atau menertawakan pertanyaan teman. Dosen dan mahasiswa yang memimpin diskusi dapat memberi waktu untuk berpikir serta menanggapi jawaban yang keliru tanpa mempermalukan orangnya. Rasa aman juga tumbuh ketika pendapat yang berbeda sungguh-sungguh dipertimbangkan sebelum keputusan diambil.
Bayangkan, ketika rasa takut itu perlahan berkurang, pertanyaan yang selama ini tertahan akhirnya mendapat tempat. Satu pertanyaan dapat membuat teman lain ikut berpikir. Pendapat yang semula berbeda pun memberi alasan bagi kelompok untuk menimbang kembali keputusannya.
Kesempatan untuk berdiskusi dan mengasah jiwa kepemimpinan pada masa muda patut kita rawat. Keberanian itu tumbuh ketika ada orang yang mau bicara dan ada yang sungguh-sungguh mendengar. Dari ruang diskusi yang demikian, roh musyawarah dan kebersamaan tetap bernapas.
(Nyimas Fathia Zahira)



