Sibuk Menilai Orang Lain, Lupa Membenahi Diri

Salafusshalih.com – Ada saatnya kita perlu berhenti mengukur keimanan orang lain karena tugas kita bukan menjadi hakim atas hati manusia. Allah Swt. mengajarkan agar seorang mukmin menjaga lisan, pandangan, dan prasangka.
Ketika sibuk mencari kekurangan sesama, kita dapat lupa bahwa hati sendiri membutuhkan nasihat, perbaikan, tobat, dan pertolongan Allah setiap waktu.
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas tentang kebiasaan merendahkan orang beriman. Allah berfirman dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 29–36:
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ٢٩ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ ٣٠ وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ ٣١ وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ ٣٢ وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ ٣٣ فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ ٣٤ عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ ٣٥ هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ ٣٦
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata. Apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan gembira. Apabila melihat orang-orang beriman, mereka berkata, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang sesat.” Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga bagi orang-orang beriman. Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan?
Menasihati Tanpa Merendahkan
Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh merasa memiliki kewenangan untuk mengawasi dan menghakimi iman orang lain. Kita memang diperintahkan untuk saling menasihati dalam kebaikan, tetapi nasihat berbeda dengan penghinaan. Mengingatkan berbeda dengan merendahkan. Mengajak kepada kebenaran berbeda dengan merasa diri paling benar.
Rasulullah Saw. juga memperingatkan bahaya meremehkan sesama. Beliau bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
Artinya: Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat keburukan apabila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. (Muslim)
Hadis ini semestinya menjadi cermin bagi setiap orang yang mudah menilai. Bisa jadi seseorang yang hari ini tampak banyak kekurangan sedang berjuang keras untuk berubah. Bisa jadi amal yang tidak kita ketahui justru menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepadanya. Sebaliknya, bisa jadi kesombongan karena merasa lebih saleh menjadi sebab rusaknya amal yang telah kita lakukan.
Allah juga berfirman dalam penggalan Surah Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lainnya, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.
Memperbaiki Hati Sendiri
Karena itu, jangan menjadikan media sosial sebagai tempat mengadili iman manusia. Jangan merasa berhak menentukan siapa yang paling ikhlas, siapa yang paling sesat, siapa yang paling diterima amalnya, atau siapa yang tidak pantas mendapat rahmat Allah.
Kita boleh menjelaskan kebenaran dengan ilmu dan adab, tetapi urusan hati dan kesudahan hidup seseorang adalah perkara yang berada dalam pengetahuan Allah.
Sibukkanlah diri dengan memperbaiki salat, memperbanyak istigfar, menjaga lisan, membersihkan hati dari iri dan sombong, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Jika melihat kesalahan, nasihatilah dengan lembut apabila memang ada ilmu dan kesempatan. Jika tidak mampu menasihati dengan baik, menahan lisan sering kali lebih selamat daripada melukai hati orang lain.
Setiap manusia akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Kita tidak akan ditanya mengapa orang lain tidak menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita ucapkan, lihat, lakukan, dan niatkan.
Maka, sebelum mengawasi iman orang lain, marilah mengawasi hati sendiri. Sebelum menilai perjalanan orang lain menuju Allah, tanyakan kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita benar-benar berjalan menuju-Nya?
(Dwi Taufan Hidayat)

