Ingin Didengarkan

Salafusshalih.com – Ada satu kesalahan yang sering kita lakukan ketika seseorang datang membawa masalah.
Belum selesai ia bercerita, kita sudah sibuk mencari solusi. Memberi banyak nasihat dan pendapat. Belum selesai ia mengeluh, kita sudah berkata, “Seharusnya kamu begini…”
Belum selesai ia menumpahkan isi hati, kita sudah merasa paling tahu apa yang harus dilakukan.
Niatnya mungkin baik. Tetapi niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Malah bikin orang makin kecewa.
Tidak semua orang yang bercerita sedang meminta jalan keluar. Kadang ia hanya ingin didengarkan. Maka kita belajar mendengarkan.
Ingin merasa bahwa perasaannya dimengerti. Ingin memiliki ruang untuk mengurai pikirannya sendiri. Di sinilah pentingnya empati sebelum solusi.
Bayangkan seseorang sedang tenggelam. Apakah hal pertama yang kita lakukan adalah mengajarinya cara berenang? Tidak.
Selamatkan dulu. Tenangkan dulu. Dengarkan dulu.
Setelah ia cukup kuat, barulah kita bicara tentang bagaimana ia harus berenang.
Begitu pula dalam kehidupan. Nasihat yang diberikan pada waktu yang salah bisa terdengar seperti ceramah. Bahkan solusi terbaik sekalipun dapat ditolak ketika hati seseorang belum siap menerimanya.
Karena itu, jangan buru-buru menjadi orang paling pintar di dalam percakapan.
Kadang menjadi pendengar yang tulus jauh lebih bermanfaat daripada menjadi pemberi nasihat yang hebat.
Dan ada satu pelajaran yang sangat dalam: Orang tidak selalu mengingat solusi yang kita berikan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berbicara dengan kita.
Maka sebelum berkata,“Kalau saya jadi kamu…”
Cobalah bertanya: “Kamu ingin aku mendengarkan, atau kamu ingin pendapatku?”
Sederhana. Tetapi pertanyaan kecil itu bisa menjadi bentuk penghormatan besar.
Karena membantu seseorang bukan selalu tentang memberikan jawaban.
Kadang membantu adalah memberi ruang agar ia menemukan jawabannya sendiri. Ada orang yang hanya ingin didengarkan ketika mengeluh.
Sebagaimana Nabi Muhammad Saw adalah pendengar yang baik bagi umatnya. Seperti diceritakan dalam surah At-Taubah: 61.
Di antara mereka (orang munafik) ada orang-orang yang menyakiti hati Nabi (Muhammad) dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Dia mempercayai semua yang baik bagi kamu, dia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah akan mendapat azab yang pedih.
(Taufik Hidayanto Bakri)

