Ulama yang Dirindukan Umat: Keteladanan, Keikhlasan, dan Perjuangan Para Pewaris Nabi (Resensi Buku)
Salafusshalih.com – Kita tetap bisa “berteman” dengan orang-orang yang telah berpulang. Caranya, dengan sering mengenang berbagai keteladanannya. Untuk itu, antara lain, kita bisa membaca buku-buku semisal yang sedang kita kaji ini.
Untuk apa buku ini terbit? Kata si penulis, untuk memberi gambaran ringkas tentang para ulama yang berjasa mempersembahkan ilmu yang agung. Ilmu itu merupakan warisan yang tak ternilai. Lalu, dari mana bahan penulisannya? Dari banyak kitab hadis, sejarah, biografi, kamus, sastra dan bahasa, serta sumber lain yang relevan (h. 2).
Di dalamnya, kita akan menemukan nama-nama ulama yang masyhur. Nama-nama itu tersebar di beberapa halaman. Ada Umar bin Khaththab Ra dan Abdullah bin Zubair Ra di h. 157. Ada Abdullah bin Umar Ra di h. 168, Zaid bin Tsabit di h. 169, Amr bin Ash di h. 172, Said bin Jubair di h. 197, Abu Darda’ di h. 225, Saad bin Abi Waqqash di h. 226, dan lain-lain.
Kisah “Jenaka”
Pernah, seorang laki-laki menemui Abu Hanifah. Dia mengadu, harta yang disimpannya dengan cara mengubur lupa tempatnya.
“Ini sebenarnya bukan urusan fikih. Meski begitu, pergilah dan salatlah malam ini sampai waktu subuh, insyaallah engkau mengingatnya kembali,” tutur Abu Hanifah.
Laki-laki itu menjalankan saran Abu Hanifah. Belum lewat seperempat malam, ia sudah teringat di mana tempat itu. Ia pun segera menemui Abu Hanifah dan mengabarkannya.
“Aku sudah menduga bahwa setan tidak akan membiarkanmu salat dengan tenang sampai engkau teringat letak uang itu. Mengapa tidak sekalian saja engkau selesaikan salatmu sepanjang malam sebagai bentuk syukur kepada Allah?” tanya Abu Hanifah (h. 130).
Tentu, setidaknya bagi sebagian orang, kisah di atas bisa mengundang senyum. Meski begitu, pelajaran di dalamnya sangat kuat. Intinya, pertahankan kekhusyukan saat salat, kapan pun.
Tekun dan Sederhana
Para ulama yang hanif bekerja keras saat mencari dan menyebarkan ilmu. Salah satunya, Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau menyusun Kitab Al-Musnad. Dalam proses penulisannya, ada kesaksian menarik. “Ayahku menyaring dan menyeleksi Al-Musnad dari tujuh ratus ribu hadis,” kata putranya, Abdullah bin Ahmad (h. 93).
Hal lain, rata-rata ulama yang lurus berpenampilan sederhana. Lihat Imam Ahmad, yang sederhana dan kala itu tinggal di Mekah. Pada suatu ketika, banyak orang mengetahui bahwa sudah beberapa hari Imam Ahmad tak terlihat.
Kemudian, seseorang datang ke rumahnya dan mendapati pintunya tertutup. Setelah bertemu, tampak Imam Ahmad hanya mengenakan busana yang sangat usang, bahkan terdapat tambalan.
“Pakaianku telah dicuri,” ungkap Imam Ahmad.
“Aku membawa beberapa dinar. Jika engkau mau, ambillah sebagai pemberian. Atau, jika tidak berkenan, boleh juga sebagai pinjaman,” kata si tamu.
“Terima kasih,” kata Imam Ahmad yang menolak dengan halus.
“Maukah engkau menuliskan sesuatu untukku dengan upah?” tanya si tamu.
“Ya,” kata Imam Ahmad. “Belikanlah aku sepotong kain. Potonglah menjadi dua bagian, satu untuk sarung dan satu untuk selendang. Jika ada sisa uang, bawalah kepadaku,” lanjut Imam Ahmad.
Si tamu melakukan hal yang dimaksud Imam Ahmad. Sebaliknya, tamu itu mendapatkan apa yang dia minta kepada Imam Ahmad (h. 144).
Ujian, Pasti!
Siapa pun akan menemui ujian dalam berbagai bentuknya. Tentang ini, simak kisah Imam Jauzi. Siapa beliau, yang fasih sastranya dan indah kalimat-kalimatnya?
Dia seorang ulama yang ahli di berbagai bidang ilmu seperti tafsir, hadis, sejarah, matematika, astronomi, kedokteran, fikih, bahasa, dan nahwu. Beliau menulis sekitar 300 judul kitab.
Dalam keseharian, beliau unik dalam seni memberi nasihat. Nasihat-nasihatnya menghunjam. Dia mampu mendekatkan hal-hal abstrak melalui perumpamaan terhadap hal-hal yang nyata.
Hal yang jarang dipunyai ulama lain, Ibnul Jauzi lugas jika memberi nasihat kepada penguasa. Pernah dia menasihati Khalifah Al-Mustadhi’. Nasihatnya dengan mengingatkan bagaimana kepemimpinan Nabi Yusuf As, terutama pada masa paceklik. Dilengkapi juga dengan kisah Umar bin Khaththab Ra, terutama ketika dia berkata, “Jika sampai kepadaku kabar tentang pegawaiku yang berbuat zalim dan aku tidak menindaknya, maka akulah yang zalim.”
Mendengar nasihat Ibnu Jauzi itu, sang khalifah menangis. Lalu dia bersedekah dengan harta yang banyak, memberi pakaian kepada banyak orang fakir, dan membebaskan para tahanan.
Lalu, apa di antara ujian Ibnu Jauzi? Lihatlah, ada putranya yang bernama Ali. Buku ini menyebut dia sebagai “putra yang durhaka”. Anak tersebut menjual buku-buku sang ayah dengan harga yang sangat murah. Itu dilakukannya saat sang ayah pergi ke luar kota.
Berbeda dengan putranya yang lain, yaitu Muhiyiddin Yusuf. Setelah sang ayah wafat, dia menjadi pendakwah dan dihormati para khalifah. Dia membangun Madrasah Al-Jauziyah (h. 136–139).
Beragam Pesan
Sangat banyak kisah lain dengan kandungan pelajaran masing-masing. Di samping nama-nama yang telah disebut di atas, ada Ibnu Abbas di h. 253. Urwah bin Zubair di h. 262. Ali bin Husain di h. 139 dan 159.
Juga, ada Hasan Al-Bashri di h. 280. Abu Hatim Ar-Razi di h. 258. Bukhari di h. 196. Abdullah bin Al-Mubarak di h. 142. Adz-Dzahabi di h. 183. Ath-Thabari di h. 94 dan 225.
Tentang Abu Hanifah, di samping kisah yang telah dikutip di atas, ada lagi di h. 188. Imam Malik di h. 13 dan 162. Imam Syafi’i di h. 42 dan 203.
Ibnu Sina? Ada di h. 208. Sufyan Ats-Tsauri di h. 249. Hasan An-Nadwi di h. 279.
Menjaga Ilmu
Ilmu yang kita punya harus dirawat. Dalam hal ini, Al-Qamah sering berkata, “Ulang-ulangilah pelajaran itu agar ia tidak hilang” (h. 271).
Sementara itu, Hisyam bin Urwah punya kenangan tak terlupakan berupa dialog dengan ayahnya.
“Apakah engkau sudah menulis?” tanya sang ayah.
“Iya,” kata Hisyam.
“Apakah engkau sudah mengoreksi catatanmu dengan catatan aslinya?” tanya si ayah lagi.
“Belum,” jawab Hisyam.
“Berarti engkau belum menulis,” simpul si ayah (h. 272).
Rawat, Rawat!
Thawus berkata, “Sesungguhnya termasuk sunah adalah engkau menghormati orang alim” (h. 271). Hormati, terutama mereka yang menyebarkan ilmu. Mengapa?
Mereka yang berilmu dan menyebarkannya sangat mulia. Pernah Nabi Saw. bersabda kepada Ali bin Abi Thalib Ra bahwa jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui perantaraan kita, hal itu jauh lebih baik daripada “unta-unta merah”. Adapun “unta-unta merah” merupakan perlambang pada masa Nabi Saw. sebagai harta yang paling berharga (h. 69).
Sejumput Catatan
Pengantar Penerbit di h. vii–viii terasa aneh. Isinya tak mengantar pembaca kepada tema buku ini. Tak membawa pembaca untuk mengenal secara umum apa isi buku ini. Malah, bicara tentang Logika Al-Qur’an. Apa hubungannya?
Hal lain, ada beberapa salah ketik. Salah satunya, tertulis “swksama” dan mestinya “seksama”. Lainnya, indeks tak ada.
Meski begitu, secara umum, buku ini patut kita koleksi dan segera kita baca. Terlebih, sang penulis punya latar belakang yang sangat mendukung untuk penulisan tema ini. Dia ulama dan penulis Arab Saudi yang produktif. Dia hafal Al-Qur’an dan menimba ilmu dari sejumlah ulama besar, termasuk Syaikh Abdul Aziz bin Baz.
Terakhir, mari raup “wewangian” dari isi buku ini. Ambil pelajaran dari berbagai kisah hidup para ulama di buku ini. Alhamdulillah!
(M. Anwar Djaelani)



