Al Qur'an

Doa Minta Petunjuk Jalan Lurus Dalam Al Fatihah

Salafusshalih.com – Setiap hari minimal dalam salat seorang muslim mengulangi permohonan yang sama: ihdinash-shirâthal-mustaqîm  –  اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Doa dalam surah Al-Fatihah itu diminta sebanyak 17 kali. Ini menunjukkan manusia merasa harus menjaga diri supaya selalu berada di jalan yang benar. Bukan jalan serong. Apalagi jalan zigzag.

Selalu memohon petunjuk menjadikan dia terus belajar, memperbaiki diri, dan mengevaluasi perjalanan hidupnya supaya lurus.

Namun kadangkala menjadi ironi ketika sedang menghadapi ujian dan pilihan. Berdoa minta jalan lurus, tapi ketika melihat duit suap malah memilih bengkok.

Berdoa minta petunjuk jalan orang-orang yang diberi nikmat, justru memilih jalan maksiat karena langsung bisa merasakan nikmatnya.

Karena jangan asal membaca Al-Fatihah. Tapi benar-benar pahami maknanya supaya kandungan tujuh ayat itu bisa membawa ke jalan lurus di kehidupan dunia menuju akhirat. Segala ilmu dan amal mendapat pencerahan petunjuk.

Ketika petunjuk itu datang benar-benar mau menerimanya walaupun bertentangan dengan kepentingan pribadi. Saat petunjuk datang menyadarkan jalan salah yang dilalui, lantas maukah mengubah arah menuju ke jalan lurus yang tak  merasakan keuntungan materi.

Jika petunjuk telah datang namun tidak mau memilihnya, maka orang sukarela melewati jalan orang yang dimurkai dan mereka yang sesat.

Doa Al Fatihah Memotret Karakter Manusia

Surah Al-Fatihah dengan demikian dapat kita baca sebagai peta karakter manusia.

Pertama, orang yang diberi nikmat: tahu kebenaran, menerima, lalu mengamalkannya.

Kedua, orang yang dimurkai: mengetahui kebenaran, tetapi menolak atau tidak mau tunduk kepadanya.

Ketiga, orang yang sesat: kehilangan petunjuk, lalu berjalan berdasarkan arah yang keliru.

Dua karakter terakhir itu sosok orang zalim. Tahu kebenaran tapi mengingkari demi kepentingannya. Perilaku ini penyimpangan manusia yang melampaui batas. Tidak mau menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Kezaliman tidak selalu berupa tindakan besar. Menipu adalah kezaliman. Mengambil hak orang lain adalah kezaliman. Berlaku tidak adil adalah kezaliman. Menyalahgunakan amanah kepemimpinan adalah kezaliman.

Seseorang yang mengetahui kebenaran tetapi sengaja mengabaikannya demi kepentingan diri sendiri, dia menyimpan bibit kezaliman.

Karena itu, orang yang diberi nikmat Allah bukan berarti manusia yang tidak pernah salah. Ia adalah manusia yang ketika salah mau kembali kepada jalan yang benar.

Perjalanan hidup manusia pada akhirnya bukan sekadar tentang seberapa banyak yang ia ketahui, seberapa tinggi kedudukannya, atau seberapa banyak yang ia miliki.

Tetapi tentang apakah ia mengetahui jalan yang benar, mau menempuhnya, dan istikamah sampai akhir perjalanan.

Itulah surah Al-Fatihah mengajarkan kita doa yang sangat sederhana, tetapi sangat menentukan: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.

(Mustain Masdar)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button