Al Qur'an

Detik-Detik Turunnya Surah Al Mulk di Langit Sunyi Makkah

Salafusshalih.com – Malam di Makkah itu sunyi. Angin gurun bergerak pelan di antara bebatuan dan pasir yang mulai dingin setelah seharian disiram matahari. Langit terbentang luas, penuh bintang yang berkelip seperti lampu-lampu kecil di hamparan tak bertepi.

Di tengah kesunyian itu berdiri seorang manusia mulia yang menatap langit dengan pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang. Ia adalah Muhammad Rasulullah Saw.

Langit yang beliau pandang sebenarnya adalah langit yang sama yang setiap hari dilihat oleh kaum Quraisy. Mereka berjalan di bawahnya, berdagang di bawahnya, bahkan bersumpah atas namanya. Tetapi mereka jarang berhenti untuk memikirkan maknanya.

Bagi Rasulullah, langit bukan sekadar pemandangan. Langit adalah tanda, undangan untuk merenung tentang siapa yang menciptakan semuanya.

Pada saat-saat seperti itulah sebuah wahyu turun, sebuah surah yang tidak panjang, tetapi memiliki pesan yang menggetarkan kesadaran manusia.

Surah itu adalah Surah Al-Mulk.

Surah ini adalah teguran, sekaligus kasih sayang Allah kepada manusia yang sering lupa dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan kembali.

Turun di Masa yang Tidak Mudah

Surah Al-Mulk turun pada periode Makkah, yaitu masa yang sangat berat bagi kaum Muslim.

Mereka belum memiliki kekuatan. Mereka belum memiliki perlindungan. Bahkan untuk menyatakan keimanan saja mereka harus siap menghadapi ejekan dan ancaman.

Ada yang dicemooh.
Ada yang disakiti.
Ada yang dianggap kehilangan akal hanya karena mengatakan bahwa Tuhan itu satu.

Sementara itu kaum Quraisy hidup dalam kebanggaan yang besar. Mereka memiliki harta dari perdagangan, kedudukan di tengah kabilah-kabilah Arab, dan kehormatan sebagai penjaga Ka’bah. Semua itu membuat mereka merasa kuat dan aman.

Tetapi Al-Qur’an datang dengan satu kalimat yang sederhana namun sangat mendasar:

Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan. (Al-Mulk: 1)

Ayat ini seperti membalik cara manusia memandang kekuasaan.

Manusia boleh merasa memiliki pengaruh, jabatan, atau kekayaan. Tetapi sesungguhnya semua itu hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa kembali kepada Pemiliknya.

Segala kerajaan, segala kekuatan, bahkan segala kehidupan, semuanya berada dalam genggaman Allah.

Surah Yang Mengajak Manusia Berpikir

Menariknya, Surah Al-Mulk tidak dimulai dengan kisah para nabi. Tidak juga dimulai dengan hukum-hukum.

Ia langsung menyentuh kenyataan paling mendasar dalam hidup manusia, yaitu hidup dan mati.

Allah berfirman bahwa Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji manusia: siapa yang terbaik amalnya.

Ayat ini memberi pesan yang sangat dalam.

Hidup bukan tujuan akhir.
Mati bukan kehancuran.
Dunia hanyalah ruang ujian yang singkat.

Setiap manusia—tanpa kecuali—sedang berjalan menuju satu pertemuan yang pasti dengan Tuhannya.

Langit Yang Selalu Kita Lihat

Surah ini kemudian mengajak manusia melakukan sesuatu yang sangat sederhana, yaitu menengadah ke langit.

Allah menggambarkan langit sebagai ciptaan yang berlapis-lapis dan tidak memiliki cacat.

Al-Qur’an bahkan menantang manusia untuk melihatnya berulang kali.

Lihat lagi.
Dan lihat lagi.

Apakah ada ketidakseimbangan di sana?

Pertanyaan ini sebenarnya bukan hanya tentang langit, tetapi ajakan kepada manusia untuk menggunakan akalnya.

Jika alam semesta yang begitu luas berjalan dengan keteraturan yang begitu sempurna, maka mustahil semua itu terjadi tanpa kehendak Sang Pencipta.

Namun sering kali manusia melihat dunia tanpa benar-benar memikirkannya.

Kita melihat langit setiap hari, tetapi jarang berhenti untuk merenungkannya.

Gambaran Yang Menggetarkan Hati

Di bagian lain Surah Al-Mulk, Al-Qur’an menggambarkan sebuah dialog yang menyentuh hati.

Para penghuni neraka ditanya oleh para penjaganya, “Apakah tidak pernah datang seorang pemberi peringatan kepada kalian, wahai penghuni neraka?”

Pertanyaan itu dijawab dengan penyesalan. Mereka mengakui bahwa peringatan itu sebenarnya telah datang. Namun mereka memilih untuk mendustakannya.

Kesalahan mereka bukan karena tidak tahu, tetapi karena kesombongan membuat mereka menolak kebenaran.

Surah Yang Dicintai Rasulullah

Dalam kehidupan sehari-harinya, Rasulullah memiliki kebiasaan yang sangat indah. Beliau tidak tidur sebelum membaca Surah Al-Mulk.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ada satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat yang akan memberi syafaat kepada pembacanya hingga ia diampuni. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmizi.

Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa surah ini menjadi pelindung dari azab kubur dengan izin Allah.

Namun para ulama menjelaskan bahwa keutamaannya bukan sekadar karena huruf-huruf yang dibaca.

Keutamaannya lahir dari kesadaran iman yang tumbuh ketika seseorang memahami maknanya.

Pesan Untuk Setiap Jiwa

Jika direnungkan dengan hati yang tenang, Surah Al-Mulk seperti berbicara langsung kepada setiap manusia.

Ia mengingatkan bahwa jika hari ini kita masih bernapas, itu karena Allah masih mengizinkan kita hidup.

Jika bumi masih menahan langkah kaki kita, itu karena Allah masih menjaga keseimbangannya.

Dan jika malam ini kita tertidur, belum tentu kita akan bangun esok pagi.

Kesadaran semacam ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati manusia agar tidak terjebak dalam kelalaian.

Bacaan Yang Menjadi Cahaya

Karena itulah Surah Al-Mulk sering dibaca pada malam hari. Tentu saja bukan sekadar bacaan sebelum tidur.

Tetapi bacaan untuk pengingat tentang kekuasaan Allah, tentang rapuhnya kehidupan manusia, dan tentang perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat.

Di tengah gelapnya malam, surah ini seperti cahaya kecil yang menemani manusia. Cahaya yang diharapkan akan tetap bersinar, bahkan ketika manusia telah memasuki kesunyian kubur.

Maka jika malam ini kita membacanya, mungkin kita bisa menutupnya dengan doa sederhana:

“Ya Allah, jadikan Surah Al-Mulk teman kami di malam hari, penjaga kami di alam kubur, dan saksi yang membela kami di hadapan-Mu kelak.” Wallāhualam bisawab.

(Ulul Albab)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button