Empat Istri Sang Raja: Siapa Yang Menemani Sampai Akhirat?
Salafusshalih.com – Dikisahkan, ada seorang raja yang memiliki empat istri. Istri keempat adalah yang paling ia sayangi. Ia dandani dengan pakaian terindah, memberinya perhiasan terbaik, dan memanjakannya setiap saat.
Istri ketiga juga ia banggakan. Ia pamerkan di hadapan kerajaan lain, selalu dijaga agar tampil menawan.
Istri kedua menjadi tempat curhatnya ketika ia gelisah. Ia selalu ada untuk memberikan dukungan dan nasihat.
Istri pertama justru jarang diperhatikan. Padahal dialah yang paling setia, selalu merawat raja saat sakit, dan tetap mendampinginya dalam suka maupun duka.
Suatu hari, sang raja jatuh sakit parah dan menyadari ajalnya semakin dekat. Ia memanggil keempat istrinya dan bertanya.
Istri keempat berkata, “Tidak! Setelah engkau mati, aku akan pergi mencari tuan baru.”
Istri ketiga berkata, “Maaf, aku hanya akan mengantarmu sampai pintu kubur.”
Istri kedua berkata, “Aku akan menemanimu… tapi hanya sampai pemakaman.”
Istri pertama berkata, “Aku akan menemanimu, bahkan setelah kematian.”
Air mata pun menetes di pipi sang raja. Baru saat itu ia menyadari, yang paling ia abaikan justru yang paling setia menemaninya di akhirat.
Kita semua adalah “raja” dalam kisah ini, dan empat istri itu adalah perumpamaan:
Istri Keempat: Harta dan Kemewahan
Inilah harta benda yang kita kejar. Kita rawat dan jaga mati-matian, tetapi saat mati, semua itu akan kita tinggalkan.
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)
Istri Ketiga: Kedudukan dan Popularitas
Jabatan, status, dan nama besar hanya berlaku di dunia. Saat mati, semua itu akan berpindah ke orang lain.
تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّۭا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًۭا ۚ وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak membuat kerusakan. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)
Istri Kedua: Keluarga dan Orang Terdekat
Mereka menyayangi kita, tetapi saat kita mati, mereka hanya bisa mengantar sampai pemakaman.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَـٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَـٰسِرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Istri Pertama: Roh dan Amal Saleh
Inilah iman, ibadah, dan amal baik kita. Sering terabaikan, tetapi dialah satu-satunya yang akan menemani sampai akhirat.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ . وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (Az-Zalzalah: 7–8)
Nabi bersabda:
يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Mayit diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, dan satu akan tinggal bersamanya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Maka, rawatlah “istri pertama” kita—amal saleh—sebaik kita merawat dunia, karena hanya dia yang akan setia menemani kita melewati pintu kematian.
(Muhammad Hidayatulloh)



