Hadis

Masjid Bukan Tempat Wisata, Kembalikan Pada Khittahnya!

Salafusshalih.com – Fenomena “wisata masjid” yang mengutamakan aspek estetika, fotografi, dan konten media sosial telah menggeser makna fundamental dari i’mār al-masājid (memakmurkan masjid). Masjid-masjid megah dengan arsitektur memukau kini memang sedang ramai-ramai menjadi destinasi viral.

Masyarakat berduyun-duyun datang, bukan terutama untuk salat atau menuntut ilmu, melainkan untuk berfoto, membuat konten, lalu pergi. Fenomena ini sering dilihat secara pragmatis oleh takmir masjid, ada infak yang masuk, ada pengunjung yang membeludak.

Bahkan ada juga takmir yang melihat fenomena ini secara sinis dan membiarkan saja tanpa melakukan apa-apa seolah ini kondisi yang wajar.

Namun, di balik gemerlap itu, tersembunyi bahaya yang mengancam substansi masjid. Tren ini dengan telak mengubah masjid dari “Baitullah” (Rumah Allah) menjadi sekadar latar fotografi. Masjid direduksi menjadi benda mati yang indah dilihat, tetapi miskin makna. Masjid bukan tempat wisata. Ia adalah institusi mulia yang harus dimakmurkan, bukan dieksploitasi.

Fungsi Masjid

Memakmurkan masjid (i’mār al-masājid) memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar membangunnya menjadi indah.

Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa i’mār (memakmurkan) memiliki dua dimensi:

  • Hissi (fisik): merawat, membersihkan, dan membangun fisik masjid.

  • Ma’nawi (spiritual): menghidupkannya dengan zikir, salat berjemaah, kajian ilmu, dan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah.

Kunjungan yang hanya berorientasi pada keindahan fisik dan konten telah mengabaikan dimensi ma’nawi secara keseluruhan. Infak yang masuk dari para “wisatawan” ini, jika tidak diimbangi dengan transfer nilai-nilai keislaman, bisa jadi justru tidak memenuhi kriteria “memakmurkan” menurut ayat ini.

Berdagang di masjid saja dilarang, apalagi menjadikan masjid sebagai komoditas untuk mencari popularitas dan likes di media sosial? Ini adalah bentuk kelalaian yang lebih berbahaya karena dibungkus dengan estetika.

Sejarah menunjukkan bahwa Masjid Nabawi adalah pusat peradaban, bukan monumen belaka. Untuk memahami betapa dangkalnya fenomena “wisata masjid”, kita harus berkaca pada teladan utama: Masjid Nabawi pada masa Rasulullah Saw.

Masjid ini bukan monumen mati untuk dikagumi, melainkan jantung yang memompa kehidupan bagi peradaban Islam yang baru lahir. Bahkan Masjid Nabawi pada masa Nabi secara fisik hanya berdinding batu dan beratap daun kurma.

1. Fungsi Masjid Nabawi bersifat holistik dan multidimensi:

2. Pusat ibadah primer: tempat salat, zikir, dan tilawah Al-Qur’an.

Universitas pertama Islam (pusat pendidikan): Rasulullah saw. secara rutin mengajar para sahabat di masjid. Sebuah area khusus bernama As-Suffah menjadi asrama dan kampus bagi para penuntut ilmu, khususnya dari kalangan Muhajirin yang fakir.

Sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah Ra. menyebutkan:

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (H.R. Muslim)

3. Pusat aktivitas sosial dan politik: tempat menerima delegasi, mengadili perkara, merencanakan strategi, mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.

4. Pusat silaturahmi dan dialog: tempat bertemunya berbagai kabilah untuk memperkuat ukhuwah.

Lalu bagaimana cara Rasulullah saw. menyambut tamu—dari turis menjadi musafir yang berilmu di masjid?

Inilah poin kritis yang sering dilupakan takmir masjid. Rasulullah saw. adalah ahli strategi dakwah. Setiap kunjungan delegasi atau tamu beliau jadikan momentum untuk transfer ilmu dan pemahaman Islam, bukan sekadar seremonial.

Terdapat beberapa kisah yang menjelaskan bagaimana Rasulullah saw. menerima para delegasi.

Pertama, kisah delegasi suku Abdul Qais. Saat mereka datang, Rasulullah saw. menyambut dengan hangat: “Marhaban bil wafdilladzīna jā’ū ghaira khazāyā wa lā nadāmā” (Selamat datang, wahai delegasi yang datang bukan sebagai orang yang hina dan tidak akan menyesal).

Rasulullah menjadikan sambutan hangat ini sebagai media dakwah. Delegasi itu meminta diajarkan hal-hal pokok agar bisa masuk surga. Maka Rasulullah saw. pun mengajarkan mereka tentang keesaan Allah, salat, zakat, puasa, dan larangan-larangan utama. Beliau bahkan bertanya, “Ata’lamūna mā al-īmānu billāhi wahdah?” (Tahukah kalian apa arti beriman kepada Allah semata?) untuk memastikan pemahaman mereka benar (H.R. Al-Bukhari).

Kedua, kisah delegasi Najran (Kristen) juga monumental. Mereka diterima di Masjid Nabawi dan bahkan diizinkan melakukan ibadah di sudut masjid sebagai bentuk toleransi dan penghormatan kepada tamu. Peristiwa ini bukan sekadar foto bersama, melainkan menjadi momen dialog teologis intens yang akhirnya diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran 61 (ayat Mubahalah). Ini adalah contoh bagaimana masjid menjadi ruang dialog produktif yang berorientasi pada klarifikasi kebenaran.

Dari sini kita melihat metodologi yang jelas: setiap tamu, siapa pun dia, disambut dengan hangat dan langsung diarahkan kepada substansi keislaman. Fokusnya adalah transfer ilmu dan pemahaman, bukan formalitas.

Bahaya Fenomena Wisata Masjid

Berdasarkan landasan di atas, fenomena wisata masjid yang viral ini mengandung beberapa bahaya laten:

  • Penyempitan makna memakmurkan masjid. Memakmurkan masjid direduksi hanya pada aspek fisik dan finansial. Aspek spiritual, edukatif, dan sosial terabaikan.

  • Pergeseran niat yang halus. Niat utama beribadah bisa terkontaminasi dengan niat untuk pamer (riya’) dan mencari popularitas. Masjid menjadi ajang kompetisi estetika, bukan ketakwaan.

  • Gangguan terhadap jemaah inti. Aktivitas pembuatan konten yang tidak terkendali dapat mengganggu kekhusyukan jemaah yang datang untuk salat dan berzikir.

  • Komersialisasi ruang suci. Masjid berisiko menjelma menjadi objek komersial tidak langsung. Pengunjung “membayar” dengan infak untuk mendapat akses berfoto, mirip tiket masuk objek wisata.

  • Kehilangan identitas dan martabat. Masjid kehilangan wibawanya sebagai pusat ilmu dan kehormatannya sebagai rumah Allah. Ia menjadi sama dengan museum atau galeri seni. Pengunjung merasa memasuki rumah Allah sama dengan memasuki tempat lain, dan ini sungguh kerugian besar.

Solusi Revitalisasi Fungsi Masjid

Lantas, apa yang harus dilakukan? Jangan biarkan para pengunjung sekadar berwisata. Sambut mereka dengan serangkaian kegiatan terencana dan terarah. Gagasan untuk mengubah kunjungan menjadi “Silaturahmi Ilmiah” atau program “Studi Banding” adalah solusi yang brilian dan sangat sesuai dengan Manhaj Nabawi.

Beberapa langkah strategis:

  1. Registrasi dan klasifikasi pengunjung. Untuk kelompok besar, wajibkan registrasi sebelumnya. Lebih baik takmir mempublikasikan programnya, agar pengunjung bisa membaca dan tahu, lalu mengirim surat atau melalui aplikasi kunjungan.

  2. Perlakukan pengunjung sebagai tamu, bukan turis biasa. Sambut setiap kelompok dengan tausiyah 10–15 menit tentang adab masjid, sejarah, filosofi arsitektur, dan ajakan beribadah.

  3. Buat zona khusus. Tetapkan zona fotografi (misalnya serambi) dan zona bebas gawai (terutama di ruang utama salat). Masjid juga bisa menyediakan perpustakaan dan semi museum dengan gaya kekinian.

  4. Prinsip “Satu Tamu, Satu Ilmu”. Siapkan leaflet, buku saku, atau QR code berisi sejarah masjid, adab, doa, tata cara ibadah, dan kajian rutin. Setiap pengunjung pulang dengan oleh-oleh ilmu.

  5. Kolaborasi dengan kreator konten. Ajak mereka menyisipkan konten edukatif, menyoroti kajian, aktivitas sosial, atau sejarah masjid.

  6. Teladani Rasulullah Saw. Jadikan setiap kunjungan momentum dakwah. Sapa hangat, muliakan tamu, dan selipkan nasihat singkat yang menyentuh hati.

Dengan menjadikan setiap momentum sebagai dakwah, akan timbul kesadaran bahwa masjid didirikan bukan untuk memuaskan mata, tetapi untuk membangun jiwa. Keindahannya adalah bonus, bukan tujuan. Esensinya adalah menjadi tempat untuk menghadap Allah, membangun komunitas, dan mencerdaskan umat.

Fenomena viralitas masjid adalah ujian bagi kita semua. Di satu sisi, ia bisa menjadi pintu dakwah yang luas. Di sisi lain, ia bisa menjadi jebakan yang mengalihkan kita dari substansi. Pilihannya ada di tangan takmir dan umat.

Mari hentikan paradigma “wisata masjid”. Kembalikan masjid pada khittahnya sebagai pusat peradaban. Transformasikan setiap kunjungan dari yang bersifat horizontal (manusia melihat arsitektur) menjadi vertikal (manusia menghadap Ilahi) dan horizontal-hakiki (manusia menyambung silaturahmi dan ilmu). Jangan mencemooh pengunjung sebagai turis wisata belaka. Ubah persepsi, lihatlah mereka sebagai ladang dakwah.

Dengan demikian, gelombang pengunjung yang membludak tidak lagi menjadi ancaman, melainkan berkah dan rahmat, mengikuti jejak Rasulullah saw. di Masjid Nabawi.

(Dr. Aji Damanuri, M.E.I.)

Related Articles

Back to top button