Menjadikan Rumah Sebagai Surga Keluarga
Salafusshalih.com – Ada pendapat yang menyatakan bahwa sebuah peradaban dimulai dari rumah. Dari rumahlah pasangan suami istri dan anak-anak mendapatkan ketenangan serta ketenteraman. Rumah menjadi tempat yang dirindukan keluarga.
Namun, ada kalanya ketidaknyamanan membuat seseorang tidak betah di rumah. Misalnya rumah kotor, berantakan, atau sering terjadi cekcok antara suami istri maupun dengan anak. Hal-hal semacam ini dapat membuat anggota keluarga enggan berlama-lama tinggal di rumah.
Oleh karena itu, Allah Swt. memerintahkan umat-Nya untuk membangun rumah bukan hanya dengan bangunan fisik yang baik, melainkan juga dengan menghadirkan suasana yang nyaman dan menenangkan bagi penghuninya.
Sebagaimana sabda Nabi Saw.:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رضي الله عنه قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: «امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ».
[صحيح] – [رواه الترمذي وأحمد]
Uqbah bin ‘Āmir Ra. meriwayatkan, Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah keselamatan itu?” Beliau menjawab, “Jagalah lisanmu, cukupkanlah dirimu dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.” (Hadis sahih, riwayat Tirmizi dan Ahmad)
Hadis tersebut bermakna bahwa rumah yang nyaman dihuni adalah rumah yang di dalamnya terjalin interaksi baik antara suami, istri, dan anak. Mereka terbiasa berbicara dengan kata-kata yang baik, menjauhi celaan, serta menyibukkan diri dengan amalan sunah. Rumah juga menjadi ruang bercengkerama santai bersama keluarga sekaligus benteng dari pergaulan yang tidak baik di luar rumah.
Rumahku Adalah Surgaku
Pepatah Arab mengatakan, baiti janati — rumahku surgaku. Maknanya, rumah yang nyaman dan menenangkan adalah rumah tempat anggota keluarga saling mencintai, saling menasihati dalam kebaikan, serta senantiasa dipenuhi bacaan Al-Qur’an dan amalan sunah lainnya.
Nabi Saw. bersabda:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِى يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِى لاَ يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya bagaikan orang hidup dan orang mati.” (H.R. Muslim)
Penutup
Orang tua dan anak betah tinggal di rumah bukan berarti menjauhkan diri dari masyarakat, melainkan mengembalikan makna sejati rumah: tempat membangun keharmonisan keluarga, pondasi peradaban, serta menumbuhkan spiritualitas iman dan ketaatan kepada Allah Swt. Wallāhualambisawāb.
(Ridwan Ma’ruf)



