Berita Hoaks di Sekeliling Rasulullah
Salafusshalih.com – Berita hoax juga terjadi di sekeliling Rasulullah Saw. Diceritakan dalam buku Sirah Ibnu Hisyam. Buku sejarah tua yang menceritakan kehidupan Nabi Muhammad Saw.
Dikisahkan, Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith ditunjuk Rasulullah untuk memungut zakat dari Bani Musthaliq yang telah menganut Islam.
Bani Musthaliq termasuk bagian dari Kabilah Khuza’ah yang menempati wilayah Qudaid dan Asafan di luar kota Mekkah.
Sebelum menganut Islam, Bani Musthaliq pernah bersekutu dengan kaum kafir Quraisy dalam perang Uhud melawan pasukan muslim.
Usai perang Uhud, Rasulullah menyerang Bani Musthaliq sampai menguasai wilayah itu dan menawan ratusan orang.
Di antara tawanan itu adalah Juwariyah, anak pimpinan Bani Musthaliq, Harits bin Dhirar. Rasulullah membebaskan Juwairiyah dan menikahinya. Tapi pernikahan ini tak berlangsung lama.
Harits bin Dhirar yang melarikan diri saat kalah perang, tak lama kemudian menemui Rasulullah di Madinah untuk menyerah dan menyatakan syahadat masuk Islam.
Rasulullah lalu meminta dia dan kaumnya membayar zakat. Kewajiban itu disanggupi oleh Harits.
”Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang-orang yang mengikuti ajakanku akan kukumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat yang telah kukumpulkan itu, ” ujar Harits.
Ketika waktunya tiba, Rasulullah memercayakan tugas mengambil zakat itu kepada Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith.
Perasaan Takut
Ternyata suasana ketegangan, kecurigaan, dan kewaspadaan sebagian orang terhadap Bani Musthaliq belum sepenuhnya hilang pasca konflik. Termasuk dalam diri Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith yang berangkat menjalankan tugas ini.
Ketika hendak memasuki kampung Bani Musthaliq dia diliputi kecemasan. Hatinya waswas. Khawatir masih ada balas dendam orang Bani Musthaliq terhadap kaum muslim yang pernah mengalahkan.
Tatkala Walid bin Uqbah melihat orang-orang bergerombol keluar kampung, dia takut. Lantas memacu untanya balik ke Madinah.
Menghadap Rasulullah, Walid membuat berita hoax. Dia menyampaikan, Bani Musthaliq menolak membayar zakat. Bahkan mereka berniat membunuhnya.
Mendengar laporan ini Rasulullah segera menunjuk sahabat untuk membentuk pasukan menuju wilayah Bani Musthaliq.
Sementara di permukiman Bani Musthaliq, Harits sudah banyak mengumpulkan zakat. Saat waktu yang telah ditetapkan tiba, dia belum mendapati utusan Rasulullah datang. Harits merasa ada yang tidak beres.
Dia pun memanggil para hartawan kaumnya dan berkata,”Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan waktu untuk mengirim utusan mengambil zakat dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah beliau marah? Karena itu mari kita berangkat menghadap Rasulullah,” ujarnya.
Tabayun
Rombongan Harits berangkat ke Madinah. Di tengah perjalanan, rombongan Harits berpapasan dengan pasukan Rasulullah. Setelah berhadap-hadapan, Harits menanyai utusan itu.
”Kepada siapa kalian diutus?”
”Kami diutus kepada Harits bin Dhirar, pemimpin kaum Bani Musthaliq.”
”Mengapa? ”
”Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengutus Walid bin Uqbah. Namun dia mengatakan kamu tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya.”
”Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.”
Dua rombongan ini lantas sepakat bersama-sama menemui Rasulullah Saw.
Bertanyalah Rasulullah kepada Harits, ”Mengapa kamu menahan zakat dan akan membunuh utusanku?”
Harits menjawab, ”Demi Allah yang telah mengutus engkau sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.”
Maka Harits menjelaskan situasi yang sebenarnya.
Wahyu Turun
Di tengah peristiwa itu Rasulullah mendapatkan wahyu ayat keenam dari surah Al-Hujurat (49).
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ
Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka konfirmasilah agar tidak kalian mencelakai suatu kaum karena kebodohanmu sehingga kalian menyesal atas apa yang kalian perbuat.
Kisah di atas menggambarkan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan adakalanya bermain untuk kepentingan sendiri atau menyelamatkan diri.
Orang-orang di lingkaran kekuasaan biasanya adalah orang kepercayaan penguasa. Mereka ini dalam dunia politik suka disebut tukang bisik. Orang-orang yang memberikan informasi kepada penguasa dan memengaruhi keputusan pemerintah.
Tidak terkecuali Walid bin Uqbah yang dipercaya sebagai petugas pemungut zakat oleh Rasulullah.
Dengan tugas itu menandakan Walid termasuk orang yang berada di lingkaran dekat Rasulullah. Walid pada saat itu menjadi tukang bisik Rasulullah.
Ternyata tidak selamanya tukang bisik itu jujur meskipun dekat Rasulullah. Walid, demi menyelamatkan reputasi diri atas kegagalan tugas yang diamanahkan kepadanya malah membuat berita hoax alias palsu. Informasi yang menyudutkan pihak lain.
Berita hoax ini hampir-hampir menyulut peperangan lagi dengan Bani Musthaliq seandainya saja kedua pihak berhati panas karena marah dan tersinggung.
Beruntung kedua kelompok ini dapat menahan diri dan tabayun, sehingga konflik dapat dicegah.
Kekuasaan menurut teorinya dibuat untuk memberikan kesejahteraan rakyat. Seorang penguasa yang baik belum tentu membuat keputusan baik untuk rakyatnya.
Itu tergantung dari informasi yang diberikan orang-orang yang berada di lingkarannya.
Bersyukurlah rakyat yang memiliki pemimpin baik yang dikelilingi orang-orang baik tanpa memainkan politik kepentingannya.
(Sugeng Purwanto)



