Hadis

Kebiasaan Tidur Rasulullah dan Penjelasannya Menurut Sains Modern

Salafusshalih.com – Di era ketika gangguan tidur telah menjadi epidemi global, manusia justru semakin jauh dari pola istirahat yang alami. Lembur hingga larut malam, paparan cahaya gawai, serta ritme hidup yang serba cepat membuat kualitas tidur menurun drastis.

Padahal, tidur bukan sekadar “mematikan tubuh” selama beberapa jam. Dalam ilmu kedokteran modern, tidur merupakan proses biologis yang sangat aktif—saat otak membersihkan dirinya, hormon diproduksi, jaringan diperbaiki, sistem imun diperkuat, dan memori diproses.

 

Ilmu kronobiologi, yang mempelajari ritme biologis manusia, menunjukkan bahwa kesehatan sangat ditentukan oleh keselarasan antara aktivitas tubuh dan siklus alam. Menariknya, lebih dari empat belas abad lalu, Rasulullah saw. telah mencontohkan pola tidur yang ternyata sangat selaras dengan prinsip-prinsip tersebut.

Tentu saja, tujuan utama seorang muslim mengikuti sunah adalah menaati Allah Swt. dan Rasul-Nya. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan memberi kita kesempatan untuk semakin mengagumi hikmah yang terkandung di balik tuntunan tersebut.

Tidur Lebih Awal, Bangun Lebih Bermakna

Salah satu kebiasaan Rasulullah saw. adalah tidak menghabiskan malam dengan aktivitas yang tidak bermanfaat setelah salat Isya.

“Rasulullah saw. membenci tidur sebelum Isya dan tidak menyukai berbincang-bincang setelahnya.” (Bukhari dan Muslim)

Dalam perspektif ilmu tidur modern, kebiasaan ini sangat menarik. Ketika malam tiba, tubuh mulai meningkatkan produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang mengatur ritme sirkadian sekaligus memberi sinyal bahwa tubuh siap beristirahat.

Tidur pada awal malam juga memberikan kesempatan lebih besar untuk memasuki fase deep sleep (slow-wave sleep), yaitu fase tidur terdalam yang berperan penting dalam pemulihan jaringan, penguatan sistem imun, serta pelepasan human growth hormone (HGH) yang membantu proses regenerasi tubuh.

Kebiasaan Rasulullah saw. bangun pada sepertiga malam untuk bertahajud juga memiliki nilai kesehatan yang menarik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas spiritual, termasuk salat malam yang dilakukan dalam suasana tenang, berkaitan dengan penurunan respons stres, peningkatan ketenangan emosional, serta kondisi psikologis yang lebih baik saat mengawali hari.

Mengapa Rasulullah Tidur Miring ke Kanan?

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila engkau hendak tidur, berwudulah sebagaimana wudu untuk salat, kemudian berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (Bukhari dan Muslim)

Beliau juga meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan ketika tidur. Dari sudut pandang kedokteran, posisi tidur memang memengaruhi kenyamanan, kualitas pernapasan, hingga distribusi tekanan pada tubuh.

Posisi miring merupakan salah satu posisi tidur yang banyak direkomendasikan dalam dunia medis karena dapat membantu menjaga jalan napas tetap terbuka dibandingkan posisi telentang pada sebagian orang. Dalam kondisi tertentu, posisi miring juga bermanfaat untuk mengurangi dengkuran maupun gangguan tidur lainnya.

Lebih menarik lagi, penelitian neurosains dalam satu dekade terakhir menemukan bahwa posisi tidur lateral diduga membantu mengoptimalkan kerja sistem glimfatik, yaitu mekanisme alami otak dalam membersihkan limbah metabolik yang menumpuk selama seseorang terjaga. Sistem ini menjadi salah satu fokus utama penelitian mengenai penuaan otak dan penyakit neurodegeneratif.

Walaupun masih terus diteliti, temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa posisi tidur ternyata bukan perkara sepele.

Mengapa Tidur Tengkurap Tidak Dianjurkan?

Rasulullah saw. pernah menegur seseorang yang tidur tengkurap seraya bersabda:

“Sesungguhnya ini adalah posisi tidur yang dibenci Allah.” (Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dalam praktik klinis modern, tidur tengkurap memang bukan posisi yang ideal bagi sebagian besar orang. Posisi ini menyebabkan leher harus berputar ke satu sisi selama berjam-jam sehingga meningkatkan ketegangan otot dan sendi leher. Selain itu, tekanan pada dada dapat membuat pernapasan terasa kurang nyaman bagi sebagian orang.

Karena itu, banyak dokter rehabilitasi medik maupun spesialis tulang belakang lebih menyarankan posisi tidur miring atau telentang dengan penyangga yang sesuai daripada tidur tengkurap dalam waktu lama.

Wudhu: Ritual Spiritual Yang Menenangkan Tubuh

Sebelum tidur, Rasulullah saw. selalu berwudu. Bagi seorang muslim, wudu tentu merupakan ibadah. Namun, dari sisi fisiologi, membasuh wajah, tangan, dan kaki juga memberikan efek relaksasi.

Kontak air dengan kulit membantu proses pelepasan panas tubuh sehingga mempermudah tubuh memasuki fase tidur. Selain itu, sensasi air yang menyentuh kulit mampu mengurangi aktivasi sistem saraf simpatis—sistem yang bekerja ketika seseorang sedang tegang atau stres—dan memberi ruang bagi sistem parasimpatis yang bertugas membawa tubuh menuju keadaan rileks.

Tidak mengherankan jika banyak orang merasa lebih tenang setelah berwudu, bahkan sebelum memulai doa-doa menjelang tidur.

Tidur dalam Gelap: Sunah yang Didukung Ilmu Kronobiologi

Rasulullah saw. juga menganjurkan umatnya memadamkan lampu ketika hendak tidur.

“Padamkanlah lampu-lampu kalian pada malam hari apabila kalian hendak tidur.” (Bukhari dan Muslim)

Saat ini, para ilmuwan mengetahui bahwa retina mata memiliki sel khusus yang sangat sensitif terhadap cahaya, terutama cahaya biru dari lampu LED maupun layar gawai.

Paparan cahaya pada malam hari menghambat produksi melatonin sehingga tubuh menganggap waktu masih siang. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit tidur dan kualitas tidurnya menurun. Dalam jangka panjang, paparan tersebut bahkan dapat memengaruhi metabolisme, keseimbangan hormon, dan kesehatan kardiovaskular.

Karena itu, berbagai pedoman higiene tidur (sleep hygiene) modern justru menyarankan hal yang sama: meredupkan lampu dan mengurangi paparan layar elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur.

Mengibaskan Tempat Tidur: Kebiasaan Sederhana Yang Sarat Makna

Rasulullah saw. juga mengajarkan agar alas tidur dikibaskan terlebih dahulu sebelum digunakan. Sekilas tampak sederhana, tetapi dari sudut pandang kesehatan lingkungan, tindakan ini membantu menyingkirkan debu, serangga kecil, maupun partikel lain yang mungkin menempel pada permukaan tempat tidur.

Lingkungan tidur yang bersih terbukti berkontribusi terhadap kualitas tidur yang lebih baik sekaligus mengurangi gangguan akibat debu dan alergen, terutama pada penderita asma maupun rinitis alergi.

Kailulah: Power Nap Ala Rasulullah

Di tengah aktivitas siang, Rasulullah saw. juga mengenalkan kailulah, yaitu istirahat singkat pada siang hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tidur siang selama sekitar 15–30 menit mampu meningkatkan konsentrasi, kewaspadaan, dan kemampuan belajar, serta memperbaiki suasana hati tanpa menyebabkan rasa pening ketika bangun.

Dalam dunia kerja modern, konsep ini dikenal sebagai power nap. Konsep tersebut bahkan telah diterapkan di sejumlah perusahaan teknologi besar sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas karyawan.

Kailulah mengajarkan bahwa produktivitas bukan hanya soal bekerja lebih lama, melainkan juga tentang memberi kesempatan kepada otak untuk memulihkan diri.

Sunah Yang Mengajarkan Keseimbangan

Jika diperhatikan secara utuh, sunah tidur Rasulullah saw. bukan sekadar kumpulan adab sebelum tidur. Sunah tersebut membentuk sebuah sistem yang menyentuh berbagai dimensi kehidupan: pengaturan waktu, kebersihan diri, kebersihan lingkungan, posisi tubuh, kualitas istirahat, hingga kedekatan spiritual dengan Allah Swt.

Sains modern memang terus berkembang dan tidak semua hikmah sunah dapat atau harus dijelaskan melalui penelitian ilmiah. Sebaliknya, seorang muslim meyakini bahwa kebenaran wahyu tidak bergantung pada validasi laboratorium.

Namun, ketika temuan-temuan ilmiah menunjukkan keselarasan dengan tuntunan Rasulullah saw., hal itu semakin memperlihatkan bahwa Islam mengajarkan gaya hidup yang sangat memperhatikan kemaslahatan manusia.

Di tengah meningkatnya angka insomnia, gangguan kesehatan mental, penyakit metabolik, dan kelelahan kronis, mungkin sudah saatnya kita kembali meninjau kebiasaan tidur kita. Boleh jadi, solusi yang selama ini kita cari melalui berbagai teknologi justru telah dicontohkan Rasulullah saw. lebih dari empat belas abad lalu.

Sebagaimana firman Allah Swt.: “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu.” (Al-Ahzab: 21)

Mungkin, salah satu teladan yang paling sering kita abaikan adalah cara beliau beristirahat.

(dr. Alfan Erzi’, M.M.R.S.)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button