Wahai Anak, Kelak Kamu Akan Mengerti Nasehat Ini!

Salafusshalih.com – Ungkapan Wahai anak, kelak kamu akan mengerti nasihat ini adalah nasihat bijak dari orang tua yang bermakna bahwa ada pengalaman hidup, rasa lelah, dan kebijaksanaan yang baru bisa dipahami sepenuhnya setelah anak tumbuh dewasa dan mengalami sendiri lika-liku kehidupan.
Anak-anak atau remaja umumnya belum memiliki kapasitas mental atau sudut pandang yang cukup untuk memahami kerumitan keputusan orang tua atau orang dewasa.
Pada umumnya orang tua menyerahkan proses pendewasaan kepada waktu dan pengalaman hidup anak itu sendiri seiring berjalannya usia. Adakalanya pemahaman hidup datang dari pengalaman nyata, bukan sekadar penjelasan teori atau kata-kata.
Oleh karenanya ungkapan Wahai anak, kelak kamu akan mengerti nasihat ini bukan hanya sebagai bentuk nasihat bijak dari orang tua. Tapi bentuk kerisauan utama para orang tua terhadap tumbuh kembang anak di masa depan umumnya terletak pada ketidaksiapan mental, kesehatan fisik, tantangan era digital, serta ketidakpastian ekonomi dan sosial.
Perubahan zaman yang sangat cepat memicu kekhawatiran bahwa anak-anak tidak mampu bersaing atau bertahan dengan baik di masa dewasa mereka.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 9.
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Konteks ini ayat ini mengandung nasihat yang ditujukan bagi para orang tua mukmin agar mereka khawatir jika meninggalkan anak keturunan yang lemah akidah dan ekonomi. Hendaknya orang tua senantiasa bertakwa kepada Allah dengan cara memberikan pendidikan yang terbaik dalam hal agama, kesantunan akhlak, dan memberikan life skill agar anak tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan dan kompetisi di era digital.
Berikut ini masalah yang menjadi kecemasan dan kegundahan orang tua dan menginginkan anaknya segera sadar, mengerti, dan paham dengan nasihat orang tua.
Pertama, Wahai Anak Tetap Sembahlah Allah Sepeninggalku Nanti!
Ungkapan wahai anak, sembahlah Allah sepeninggalku nanti bermakna pesan atau wasiat penting dari orang tua yang saleh kepada anak-anaknya menjelang ajal, agar anak-anak tetap teguh mengesakan Allah Ta’ala dan mempertahankan Islam.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 133.
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:”Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.
Orang tua yang saleh sangat peduli pada masa depan agama anak-anaknya. Hal utama yang dikhawatirkan bukan harta, melainkan akidah dan keimanan anak setelah ditinggal mati.
Kedua, Paparan Negatif Game Online
Para orang tua mengkhawatirkan terhadap nilai-nilai moral, kesopanan, dan kejujuran pada anak sebagai dampak negatif penggunaan gawai yang tidak terkontrol. Dikhawatirkan anak tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, dan mudah depresi saat menghadapi tekanan hidup yang makin kompetitif.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Saw bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat. (Shahih HR Tirmidzi)
Sudah sepatutnya para orang tua merasa khawatir anak terpapar game online karena menghabiskan waktu di depan gawai. Anak bisa tumbuh menjadi pribadi penakut, tidak fokus, dan sulit berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Ketiga, Wahai Anak Janganlah Berhenti Belajar!
Belajar tidak mesti dilakukan di sekolah formal, namun bisa juga di lembaga non formal seperti kursus atau pelatihan lifeskill. Proses belajar dimulai sejak manusia lahir hingga akhir hayat.
Dunia selalu berubah dan manusia perlu terus belajar untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pesan ini berisi nasihat dan ajakan moral kebaikan dari orang tua, guru, atau orang dewasa kepada anak dan generasi muda agar terus menuntut ilmu sepanjang hayat.
Orang tua memberikan nasihat ini karena tahu tantangan hidup di masa depan bagi anak-anak kita semakin kompleks. Dengan terus belajar, seorang anak akan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang cukup untuk menghadapi berbagai rintangan.
Berhenti belajar berarti menghentikan pertumbuhan potensi diri. Sebaliknya terus belajar akan membuka peluang-peluang baru dan membantu anak mencapai impian serta versi terbaik dari dirinya.
Waktu yang dilewati tanpa belajar sering kali mendatangkan penyesalan di masa tua. Pengetahuan melindungi seseorang dari penipuan, keputusan yang salah, dan kesesatan dalam menjalani hidup.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Fathir ayat 19.
وَمَا يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ
Tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.
Maksud ayat ini orang bodoh sangat berbeda dengan yang punya ilmu pengetahuan dan pandangan kritis dalam melihat segala sesuatunya di alam semesta. Orang yang melihat itu mendapat hikmah bijaksana.
Kesimpulan
Didikan dan batasan orang tua saat masa pertumbuhan anak akan dipahami serta disyukuri oleh anak saat dewasa, karena didasari pengorbanan demi kebaikan masa depan.
Kesadaran akan kebijaksanaan orang tua tumbuh seiring pengalaman hidup dan kematangan pola pikir anak.
Mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa memberikan bimbingan, arahan, dan petunjuk cahaya di jalan kebenaran kepada para orang tua dan anak-anak kita. Wallaahu ’alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)



