Tsaqofah

Rahasia Orang Saleh Mengelola Harta

Salafusshalih.com – Harta sering disalahpahami hanya sebagai simbol kemewahan dan angka di rekening. Padahal, Islam mengajarkan bahwa hakikatnya terletak pada bagaimana ia digunakan.

Kaya tidak otomatis mulia, miskin tidak otomatis hina. Nilainya ditentukan oleh tangan siapa yang menggenggamnya, serta sejauh mana ia dijadikan jalan mendekat kepada Allah dan menumbuhkan ketaatan.

Harta dalam pandangan Islam bukan sekadar tumpukan materi yang membuat mata terbelalak. Harta adalah amanah, ujian, dan sarana yang bisa mengantarkan pemiliknya menuju rida Allah atau, sebaliknya, menjatuhkannya dalam murka-Nya.

Banyak orang terjebak pada pandangan sempit, mengira semakin banyak harta berarti semakin tinggi derajat. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa harta dan anak hanyalah fitnah, ujian, bukan tanda kemuliaan.

Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghābun: 15)

Ayat ini menegaskan bahwa harta bisa menjadi jalan pahala yang besar jika dikelola dengan benar, tetapi bisa pula menjadi fitnah yang menjerumuskan jika disalahgunakan. Nabi ﷺ pun memberikan tuntunan jelas mengenai posisi harta dalam kehidupan seorang mukmin. Beliau bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang saleh.” (H.R. Ahmad)

Hadis ini sederhana namun mendalam. Bukan hartanya yang membuat mulia, melainkan siapa yang memegangnya. Jika berada di tangan orang saleh, harta bukan sekadar alat pemuas hawa nafsu, melainkan wasilah ketaatan.

Ia digunakan untuk menafkahi keluarga dengan halal, menolong yang membutuhkan, membangun masjid, menyokong dakwah, dan menyuburkan sedekah.

Harta di tangan orang saleh tidak menjauhkan dari Allah, justru semakin mendekatkan. Mereka tidak silau dengan dunia, karena mata mereka senantiasa tertuju pada akhirat. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Dunia itu terlaknat dan terlaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah, apa yang mendukungnya, orang berilmu, dan orang yang belajar.” (H.R. Tirmizi)

Dengan demikian, harta tidak lagi menjadi kutukan jika dijadikan sarana mengingat Allah. Di tangan orang saleh, harta mampu membuka pintu amal yang luas.

Bayangkan pahala dari satu masjid yang dibangun, dari satu keluarga miskin yang terbantu, dari seorang anak yatim yang tersenyum. Semua itu berawal dari harta yang diinfakkan di jalan Allah.

Sebaliknya, harta di tangan orang fasik hanya menjadi petaka. Mereka menggunakannya untuk menumpuk kesombongan, menindas yang lemah, bahkan berbuat maksiat. Allah menggambarkan kisah Qarun sebagai simbol betapa harta bisa menyesatkan manusia:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan perhiasannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.” (Al-Qashash: 79)

Namun akhir kisah Qarun adalah kehancuran; ia ditelan bumi bersama hartanya. Pesannya jelas: harta yang tidak digunakan di jalan Allah hanya akan membawa kehinaan.

Seorang mukmin yang cerdas tidak berdoa sekadar “Ya Allah, jadikan aku kaya,” melainkan berdoa, “Ya Allah, jadikan aku kaya yang bermanfaat untuk agamaku.” Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad berupa kecukupan.” (Bukhari dan Muslim)

Doa ini menunjukkan bahwa tujuan utama bukanlah berlimpahnya harta, melainkan cukupnya harta untuk taat kepada Allah. Kekayaan sejati adalah hati yang merasa cukup, bukan rekening yang tak terbatas. Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukan dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.” (Bukhari dan Muslim)

Di sinilah perbedaan pandangan Islam dengan logika duniawi. Dunia mengukur manusia dari jumlah kekayaannya, Islam mengukurnya dari bagaimana ia mempergunakan kekayaannya. Dunia mengagungkan siapa yang memiliki istana, Islam memuliakan siapa yang membangun masjid. Dunia memuja siapa yang hartanya menumpuk di bank, Islam menghormati siapa yang hartanya mengalir dalam sedekah.

Maka penting bagi setiap muslim menyadari bahwa harta adalah titipan. Kita hanyalah bendahara sementara. Semua yang kita genggam akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمُ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (Tirmizi)

Pertanyaan tentang harta ada dua: dari mana didapatkan, dan untuk apa digunakan. Dua hal ini menjadi tolok ukur keimanan dan bukti ketaatan. Jika halal cara mendapatkannya dan benar cara membelanjakannya, harta akan menjadi cahaya di akhirat. Jika haram cara meraihnya atau salah cara memanfaatkannya, harta justru menjadi beban yang menjerumuskan.

Karena itu, doa seorang mukmin bukanlah sekadar memohon banyaknya harta, melainkan memohon agar harta menjadi sarana kebaikan. Dalam doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan kecukupan.” (HR. Muslim)

Doa ini mengajarkan bahwa kecukupan (al-ghinā) sejati adalah hasil dari harta yang membawa keberkahan. Bukan sekadar nominal besar, tetapi mendatangkan ketenangan, kelapangan, dan semakin dekat kepada Allah.

Teladan nyata dapat kita lihat dari para sahabat Nabi ﷺ. Utsman bin Affan r.a., seorang saudagar kaya, menggunakan hartanya untuk membebaskan para budak, membantu pasukan kaum muslimin, bahkan membiayai sumur Raumah di Madinah agar umat Islam memiliki akses air bersih. Rasulullah ﷺ memuji kontribusinya, dan Utsman menjadi contoh bahwa harta dapat menjadi pintu surga bila diinfakkan dengan ikhlas.

Abdurrahman bin Auf Ra. juga dikenal sebagai sahabat yang luar biasa dermawan. Ia seorang pedagang sukses, tetapi tidak pernah lalai bersedekah. Ketika kaum muslimin berhijrah ke Madinah, ia memulai usaha dari nol, namun Allah memberkahi usahanya hingga berlimpah. Hampir seluruh hartanya ia salurkan untuk membiayai jihad, fakir miskin, dan kepentingan umat. Nabi ﷺ pun mendoakan agar keberkahan selalu menyertai perniagaannya.

Kisah mereka menunjukkan bahwa kaya bukanlah masalah, justru bisa menjadi berkah jika digunakan di jalan Allah. Utsman dan Abdurrahman membuktikan bahwa harta tidak menjerat mereka ke dalam cinta dunia, melainkan mengangkat mereka dalam derajat tinggi di sisi Allah.

Maka, mintalah kepada Allah bukan semata kekayaan, melainkan kekayaan yang menumbuhkan ketaatan. Karena tidak semua orang kaya itu mulia, dan tidak semua miskin itu hina. Yang mulia adalah siapa saja yang memuliakan hartanya dengan amal saleh.

(Dwi Taufan Hidayat)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button