Hadis

Dari Hati ke Tindakan: Sunah Sebagai Bukti Cinta

Salafusshalih.com – Di zaman ketika klaim cinta kepada Allah bertebaran di lisan dan media sosial, ukuran kejujuran iman menjadi semakin penting untuk ditegakkan. Islam tidak membangun cinta di atas perasaan semata, melainkan di atas ketaatan yang nyata.

Di sinilah sunah Nabi menjadi benih ikhlas yang menumbuhkan bukti, bukan sekadar pengakuan kosong. Sunah menghidupkan amal, membersihkan niat, serta menuntun langkah menuju ridha sejati.

 

Sebagian salaf berkata bahwa ketika para pengaku semakin banyak, maka bukti harus ditegakkan lebih terang. Cinta kepada Allah bukan sekadar getar di dada atau kalimat manis di lisan. Ia menuntut jejak dalam sikap, kesetiaan dalam pilihan, dan ketundukan dalam seluruh aspek kehidupan.

Karena itulah Allah sendiri yang menurunkan standar cinta yang tidak bisa dimanipulasi oleh perasaan.

Ukuran cinta bukan klaim, melainkan ittiba, mengikuti Rasulullah. Siapa yang ingin dicintai Allah, jalannya satu, yakni mengikuti sunah. Cinta yang tidak melahirkan ittiba hanyalah perasaan yang rapuh, mudah goyah oleh hawa nafsu dan arus dunia.

Sunah bukan sekadar amalan lahiriah tanpa ruh. Sunah adalah jalan hidup yang mengikat lahir dan batin dalam satu ikatan tauhid. Dalam sunah ada keteladanan sabar ketika diuji, kelembutan ketika berkuasa, ketegasan ketika kebenaran dipermainkan, dan kejujuran dalam setiap tarikan napas.

Mengikuti sunah berarti menundukkan selera pribadi di bawah tuntunan wahyu. Karena itu, sunah menjadi benih ikhlas yang unggul. Ia tidak tumbuh di tanah riya, tidak subur di ladang ingin dipuji, dan tidak hidup di air pujian manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Hadis ini adalah akar dari ikhlas. Sunah yang dilakukan tanpa ikhlas akan kering seperti daun tanpa air. Ikhlas tanpa sunah akan tersesat seperti langkah tanpa arah.

Maka keduanya harus berjalan beriringan. Ikhlas adalah ruh, sunah adalah bentuk. Jika ruh tanpa bentuk, ia tidak terlihat. Jika bentuk tanpa ruh, ia tak bernilai di sisi Allah.

Di tengah zaman yang penuh dengan panggung, kamera, dan angka apresiasi, ikhlas menjadi sesuatu yang mahal. Banyak amal yang tampak mulia namun tersembunyi kepentingan di baliknya. Banyak dakwah yang lantang namun kehilangan ketulusan niat.

Dalam keadaan seperti ini, sunah hadir sebagai penjernih. Sunah mengajarkan untuk beramal meski tidak dilihat, bergerak meski tidak dipuji, dan bertahan meski tidak dikenal.

Bukankah Rasulullah bersabda bahwa tujuh golongan akan dinaungi pada hari kiamat, salah satunya adalah orang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Itulah ikhlas yang tumbuh di bawah bimbingan sunah.

Mengikuti sunah juga berarti menerima takdir dengan adab, menghadapi ujian dengan sabar, dan menjemput nikmat dengan syukur. Rasulullah adalah teladan dalam segala keadaan. Ketika beliau miskin, beliau bersabar tanpa mengeluh.

Ketika beliau berkuasa, beliau tetap rendah hati tanpa merasa tinggi. Ketika beliau disakiti, beliau memaafkan tanpa menuntut balas. Semua itu adalah sunah hidup yang sering kita lupakan ketika sunah hanya kita batasi pada bentuk ibadah ritual semata.

Dalam ibadah pun sunah menjaga kita dari kesesatan. Betapa banyak orang yang bersemangat beramal, namun keluar dari tuntunan. Rasulullah telah mengingatkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan itu tertolak. Hadis ini menanamkan ketegasan bahwa cinta kepada Allah harus tunduk kepada aturan Allah. Tidak semua yang terlihat baik diterima bila tidak sesuai dengan sunah Nabi.

Sunah juga mendidik hati agar tidak merasa paling benar. Orang yang benar-benar hidup dalam sunah akan semakin rendah hati, karena ia sadar bahwa kebenaran bukan miliknya, melainkan milik wahyu. Ia tidak sibuk menghakimi, tetapi sibuk membenahi diri.

Ia tidak gemar merendahkan, tetapi gemar menasihati dengan kasih sayang. Inilah buah dari ikhlas yang matang. Ia tidak berisik, tetapi berdampak. Ia tidak gemilang di permukaan, tetapi terang di sisi Allah.

Ketika seseorang menjadikan sunah sebagai jalan hidup, maka seluruh urusannya akan terbingkai dalam adab. Cara ia bekerja, berbicara, bergaul, berbisnis, mendidik anak, bahkan berbeda pendapat, semuanya dipandu oleh teladan Nabi.

Inilah cinta yang konkret. Bukan sekadar tulisan indah di status, tetapi kesetiaan dalam pilihan hidup. Bukan sekadar air mata di majelis, tetapi konsistensi dalam keseharian.

Maka marilah kita menakar kembali cinta yang sering kita ucapkan. Sudahkah ia berubah menjadi ittiba? Sudahkah ia melahirkan pengorbanan? Sudahkah ia menumbuhkan ikhlas yang diam-diam bekerja di kedalaman hati?

Karena pada akhirnya, Allah tidak menilai seberapa keras kita mengaku, tetapi seberapa setia kita mengikuti. Sunah adalah benih. Ikhlas adalah tanahnya. Amal adalah pohonnya. Dan rida Allah adalah buah yang kita dambakan sepanjang usia.

(Dwi Taufan Hidayat)

Related Articles

Back to top button