Kisah-Kisah Al Quran, Penuntun Jalan Iman

Salafusshalih.com – Kisah-kisah perjuangan para nabi patut untuk selalu kita kaji. Cerita-cerita umat terdahulu perlu senantiasa kita pelajari. Mengapa?
Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang utama bagi kaum beriman khususnya dan bagi segenap manusia pada umumnya. Isi Al-Qur’an banyak memuat kisah umat terdahulu agar kita dapat mengambil pelajaran darinya.
“Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Qur’an)” (Thaha 99).
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (Yusuf 111).
Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah para nabi. Misalnya, kisah Nabi Ibrahim as. “Ceritakanlah (wahai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi” (Maryam 41).
Selain itu, terdapat pula kisah yang berhubungan dengan berbagai peristiwa pada masa Rasulullah saw. Sebagai contoh, di antara sejumlah perang yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad saw., Perang Badar dan Perang Uhud menarik untuk didahulukan pengkajiannya. Dalam Perang Badar, pasukan Muslim meraih kemenangan meyakinkan meskipun menghadapi pasukan kafir Quraisy yang berjumlah tiga kali lipat dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap.
Sebaliknya, dalam Perang Uhud, pasukan Muslim yang sempat unggul justru menjadi kocar-kacir karena sebagian dari mereka melanggar arahan Nabi saw. lantaran tergiur harta rampasan perang.
Al-Qur’an juga memuat kisah orang-orang terdahulu, seperti Kabil dan Habil, pemuda Ashabulkahfi, Karun, Maryam, dan lain-lain. Dari kisah-kisah tersebut, kita patut meniru tokoh-tokoh yang selalu tunduk kepada syariat Allah dan, sebaliknya, tidak mencontoh pribadi-pribadi yang memaksiati-Nya.
Ada Pesan
Ambillah pelajaran dari kisah Kabil dan Habil. “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban. Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia (Kabil) berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Ma’idah 27).
Alkisah, Nabi Adam as. dikaruniai beberapa putra-putri kembar. Kabil kembar dengan Iqlima dan Habil kembar dengan Labuda. Bagi manusia angkatan pertama, syariat pernikahan ketika itu mengatur bahwa Kabil dipasangkan dengan Labuda dan Habil dipasangkan dengan Iqlima. Kabil menolak aturan ini karena, menurut hematnya, Labuda kalah cantik dibandingkan Iqlima.
Selanjutnya, keduanya diminta untuk berkurban kepada Allah. Kabil yang berprofesi sebagai petani mempersembahkan hasil pertaniannya yang sudah layu dan tidak menarik. Sementara itu, Habil yang berprofesi sebagai peternak, dengan spirit takwa, mengurbankan domba terbaiknya yang gemuk, sehat, dan bagus.
Ternyata, hanya kurban Habil yang diterima Allah. Hal ini menjadi pertanda bahwa susunan pasangan calon mempelai tetap seperti yang disyariatkan sebelumnya. Atas kenyataan tersebut, Kabil tidak menerimanya dan kemudian membunuh Habil.
Kabil (juga Karun, kaum ‘Ad, kaum Samud, dan kaum yang serupa) adalah tipe orang atau kaum yang menolak syariat Allah sehingga tidak boleh kita tiru. Sebaliknya, Habil (juga Maryam, pemuda Ashabulkahfi, dan orang-orang yang semisal) adalah tipe orang yang taat kepada syariat Allah sehingga perlu kita teladani.
Kisah berbagai orang atau kaum terdahulu harus selalu kita baca untuk diambil pesannya. Kita teladani mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, jangan kita contoh para pembangkang Allah dan Rasul-Nya. “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir” (Al-A’raf 176).
Menuju Kuat
Dari kisah-kisah tersebut, kita akan semakin teguh beriman karena semakin tampak kebenaran yang datang dari Allah. “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (Hud 120).
Sungguh, kita akan beruntung apabila serius membaca dan menghayati kisah-kisah itu. “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang belum mengetahui” (Yusuf 3).
Bacalah selalu kisah-kisah tersebut agar kita tidak tergelincir kepada kekafiran. “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran)” (Al-Qamar 4).
Bacalah kisah-kisah itu supaya kita tidak menjadi pengingkar Allah yang dapat mengundang azab-Nya. “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (Al-Ankabut 40).
Lihatlah, kaum ‘Ad pada masa Nabi Hud as. yang menyombongkan kekuatannya disiksa Allah dengan angin yang sangat kencang hingga mereka binasa. Kaum Tsamud yang mendustakan ajaran Nabi Shalih as. disiksa oleh suara keras yang mengguntur sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumahnya.
Perhatikan pula kaum Nabi Luth as., pelaku homoseksual dan lesbian, yang dihujani batu. Qarun yang menuhankan harta dibenamkan ke dalam bumi. Demikian pula Firaun, penggila kekuasaan yang bahkan mengaku sebagai tuhan, ditenggelamkan di laut.
Alhasil, semoga kita semakin tekun membaca berbagai kisah. Melalui aktivitas tersebut, semoga iman kita semakin kokoh. Allahu Akbar!
(M. Anwar Djaelani)



