Iqra’ dan Kalam: Revitalisasi Tradisi Peradaban

Salafusshalih.com – Fondasi tradisi literasi dalam Islam adalah membaca (iqra) dan menulis (kalam atau pena). Dua benda ini simbol peradaban, penguasaan ilmu pengetahuan untuk meraih kejayaan Islam.
Revitalisasi tradisi ini berarti menghidupkan kembali semangat keilmuan, riset, dan budaya tulis baca yang pernah membawa umat Islam ke puncak peradaban (golden age).
Iqra bukan sekadar melafalkan teks (membaca literal), tetapi berasal dari kata qara’a yang berarti menghimpun, menelaah, mendalami, meneliti, serta membaca alam, sejarah, dan diri sendiri.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Alaq ayat 1 – 5.
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ, خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ , إِقْرَأْ وَ رَبُّكَ الأَكْرَمُ , اَلَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakanmu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan kamu dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Surah ini menjadi landasan utama urgensi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Wahyu kenabian pertama ini bukan memerintahkan ibadah penyembahan, melainkan membaca dan menulis. Sebagaimana juga Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qalam ayat 1.
ن وَٱلْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.
Ayat ini mengandung makna bahwa Allah bersumpah dengan pena karena digunakan bukan hanya sebagai alat untuk menulis, tapi untuk menjelaskan kepada manusia atas perkara yang ia ketahui, dan yang tidak diketahui.
Pena adalah alat menulis. Menulis pemikiran, menulis ilmu pengetahuan. Dari tradisi membaca dan menulis inilah lahir kemajuan intelektual. Seperti Ibn Sina (980-Juni 1037 M). Orang Barat melafalkan namanya sebagai Avicenna.
Seorang muslim yang mengembangkan ilmu kedokteran, pengobatan, astronomi, filsafat. Semua temuannya itu dia tulis. Dialah Bapak Kedokteran Modern. Dari bukunya orang zaman sekarang mengetahui praktik kedokteran tempo dulu.
Bukunya yang paling populer adalah Qanun Al-Thibb (Aturan Kedokteran). Buku ini sebuah ensiklopedia medis yang menjadi buku rujukan dan standar di bidang kedokteran pada berbagai universitas.
Demikian juga Jabir bin Hayyan (721–815 M), seorang ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Kimia. Dia pertama kali menemukan konsep dasar kimia, laboratorium, dan berbagai reaksi kimia.
Dari dua ilmuwan muslim ini umat Islam pernah mengalami kejayaan, kesejahteraan, dan keadilan.
Kejayaan ilmu pengetahuan diperoleh karena umat Islam saat itu mempraktikkan amanah surah Al-Alaq dan Al-Qalam. Yaitu menghidupkan spirit tradisi membaca dan menulis.
Meraih Kejayaan Lagi
Mengembalikan kejayaan Islam dapat dilakukan dengan menghidupkan tradisi membaca dan menulis. Karena budaya literasi adalah fondasi utama pembangunan peradaban. Sejarah mencatat perkembangan dakwah Islam mengalami masa keemasan ditandai pembangunan madrasah dan perpustakaan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya di masa Kekhalifahan Abbasiyah.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 140.
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ
Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).
Maksud ayat ini, yakni kemenangan dan kekalahan, serta kesuksesan, dan kegagalan, yang terjadi antara umat-umat berlaku sunnatullah bahwa Allah akan menjadikannya silih berganti, kadang kala satu kelompok menang atas kelompok yang lain dan kadangkala sebaliknya.
Membaca dan menulis adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan yang melahirkan generasi cerdas dan berkarakter. Bukan generasi yang lemah. Generasi berilmu cenderung memiliki daya juang tinggi (adversity quotient) yang kuat.
Mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan atau cibiran, melainkan menjadikannya sebagai bahan untuk tumbuh dan belajar, layaknya otot yang butuh beban untuk tumbuh kuat.
Generasi yang berilmu mengerti sejarah, yang memungkinkan mereka belajar dari kesalahan masa lalu dan memahami cara untuk memperkuat posisi di masa kini.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa’ 9.
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Seharusnya seorang mukmin itu takut jika mereka mati dan meninggalkan anak-anak keturunan yang lemah. Lemah ekonomi dan pengetahuan.
Maka membudayakan membaca dan menulis bakal membawa umat Islam menuju kejayaan karena aktivitas ini merupakan fondasi peradaban, sumber utama ilmu pengetahuan, serta perintah teologis yang pertama dalam wahyu kenabian.
Sejarah mencatat kejayaan Islam di masa lampau dicapai ketika budaya literasi, riset, dan transmisi pengetahuan berjalan kuat. Wallahu ’alamu bishshawwab.
(Ridwan Ma’ruf)



