Bahaya Scroll Tanpa Kendali, Ini Kata Agama: Jempol Aktif, Hati Pasif

Salafusshalih.com – Ada satu kebiasaan yang terasa sangat normal hari ini: membuka media sosial “sebentar”, lalu tiba-tiba satu jam hilang begitu saja. Tanpa sadar, jempol terus bergerak, mata terus menatap layar, dan pikiran terus diseret ke mana algoritma membawa.
Fenomena ini bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup, terutama bagi Gen Z. Scroll sebelum tidur, scroll setelah bangun, bahkan scroll di sela-sela aktivitas yang seharusnya lebih penting.
Pertanyaannya sederhana, apakah ini hanya soal waktu yang terbuang, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi?
Sekilas, scroll media sosial tidak tampak berbahaya. Tidak ada kata kasar yang diucapkan, tidak ada tindakan nyata yang merugikan orang lain. Hanya melihat, membaca, dan sesekali menyukai. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, aktivitas ini sering membuka pintu ke banyak hal, seperti melihat konten yang tidak bermanfaat, membandingkan hidup dengan orang lain, terjebak dalam hiburan tanpa batas, hingga menunda kewajiban yang lebih penting.
Dalam Islam, sesuatu tidak selalu dinilai dari besar atau kecilnya secara kasatmata, tetapi juga dari dampaknya terhadap hati dan waktu.
Islam sangat menekankan pentingnya waktu. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah dengan waktu:
وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian…” (QS. Al-‘Asr: 1–2)
Ayat ini sederhana, tetapi dalam maknanya. Kerugian yang dimaksud bukan hanya tentang kehilangan uang atau kesempatan besar, tetapi juga waktu yang terbuang tanpa makna. Over-scroll sering membuat kita kehilangan kesadaran terhadap waktu. Yang awalnya hanya “5 menit”, berubah menjadi 30 menit, bahkan berjam-jam. Yang lebih mengkhawatirkan, hal ini terjadi hampir setiap hari. Jika dikumpulkan, betapa banyak waktu yang sebenarnya telah hilang.
Islam tidak melarang hiburan. Tertawa, bersantai, dan menikmati waktu luang adalah bagian dari kehidupan yang sehat. Namun, ada batas yang perlu dijaga agar hiburan tidak berubah menjadi kelalaian.
Allah mengingatkan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…” (QS. Al-Isra’: 36)
Di era digital ini, kita sering mengonsumsi informasi tanpa filter. Scroll membawa kita dari satu konten ke konten lain tanpa arah yang jelas. Kita melihat banyak hal, tetapi tidak semuanya benar, tidak semuanya bermanfaat, dan tidak semuanya baik untuk hati. Di sinilah persoalannya bukan lagi sekadar boleh atau tidak, melainkan soal kesadaran dalam memilih.
Salah satu dampak paling nyata dari over-scroll adalah tergesernya hal-hal penting dalam kehidupan. Waktu untuk ibadah sering terdesak, sehingga salat atau ibadah lain dilakukan dengan tergesa-gesa tanpa kekhusyukan. Di sisi lain, kebiasaan ini membuat otak terbiasa dengan distraksi cepat, sehingga saat belajar atau bekerja kita menjadi mudah terdistraksi, sulit berkonsentrasi, dan produktivitas pun menurun. Selain itu, terlalu fokus pada dunia digital membuat kita kurang hadir secara nyata, sehingga waktu bersama keluarga atau teman kehilangan kualitasnya karena perhatian lebih banyak tertuju pada layar.
Padahal dalam Islam, keseimbangan adalah kunci. Setiap hal memiliki haknya masing-masing, termasuk tubuh, waktu, dan ibadah. Ketika scroll mulai mengalahkan hal-hal tersebut, mungkin saatnya kita bertanya, apakah kita masih mengendalikan kebiasaan ini, atau justru dikendalikan olehnya.
Menariknya, over-scroll jarang terasa sebagai dosa besar. Tidak ada rasa bersalah yang kuat karena dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, dalam Islam, sesuatu yang melalaikan dari kebaikan bisa menjadi masalah serius jika terus dibiarkan. Bukan karena aktivitas scroll itu sendiri haram, tetapi karena kebiasaan ini sering membuat kita lupa waktu, melalaikan kewajiban, serta membuka peluang terpapar konten negatif seperti hoaks, ghibah, atau hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai Islam. Tanpa disadari, kita menjadi kurang peka terhadap waktu, diri sendiri, dan lingkungan, serta terbiasa menjalani hidup secara otomatis tanpa refleksi.
Lalu, apakah solusi dari semua ini adalah berhenti total dari media sosial? Tidak juga. Yang lebih realistis adalah mengembalikan kendali atas diri kita.
Langkah sederhana bisa dimulai dari kesadaran saat membuka media sosial, sehingga kita tidak terjebak dalam penggunaan tanpa batas. Membatasi durasi penggunaan juga menjadi penting agar aktivitas ini tidak mengganggu hal lain yang lebih utama. Selain itu, kita perlu lebih selektif dalam memilih konten, dengan mengutamakan hal-hal yang bermanfaat dan menghindari yang tidak memberikan nilai kebaikan. Mengisi waktu luang dengan aktivitas yang lebih bermakna, seperti membaca, belajar, beribadah, atau berinteraksi dengan orang sekitar, juga dapat menjadi alternatif yang lebih sehat.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, arus informasi datang tanpa henti dan sering kali membuat kita terbawa tanpa benar-benar sadar arah. Scroll di media sosial bukan lagi sekadar aktivitas mengisi waktu, tetapi telah menjadi kebiasaan otomatis: jari terus bergerak, layar terus berganti, sementara tujuan hidup semakin kabur. Kita merasa sibuk, tetapi tidak selalu bertumbuh.
Di sinilah Islam hadir bukan sebagai larangan yang membatasi, melainkan sebagai pengingat yang menenangkan. Islam tidak menuntut kita meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi mengajak kita untuk tetap memiliki kendali atas waktu, pilihan, dan kebiasaan yang kita bangun.
Kesadaran ini penting karena sering kali bukan hal besar yang menjauhkan kita dari kebaikan, melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus tanpa refleksi.
Memang, mengubah kebiasaan over-scroll bukanlah hal yang mudah, terutama ketika hal tersebut telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar. Ia bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu memberi jeda.
Berhenti sejenak di tengah scroll, menarik napas, lalu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang kita cari? Apakah sekadar hiburan, pelarian dari rasa bosan, atau mungkin ada kekosongan yang ingin diisi?
Pertanyaan-pertanyaan kecil ini mungkin terlihat sepele, tetapi dari situlah kesadaran tumbuh. Dari kesadaran itu pula, perlahan kita bisa kembali mengarahkan diri, bukan sekadar mengikuti arus, tetapi benar-benar menjalani hidup dengan tujuan.
(Muhammad Rizki Haekal Rahman)



