Antara Pamer dan Menyiarkan Nikmat yang Menjemput Berkah

Salafusshalih.com – Masyarakat mudah mengucapkan kata bersyukur, tetapi mereka menghadapi tantangan besar saat mempraktikkannya, terutama ketika situasi meminta mereka untuk “menampakkannya”. Banyak orang salah kaprah dengan menganggap bahwa menyiarkan nikmat hidup berarti harus menunjukkan segala kemewahan atau keberuntungan materi agar orang lain melihatnya.
Padahal, jika kita menelaah dengan logika yang jernih, esensi bagian penutup Surah Ad-Duha ayat 11 sama sekali bukan tentang mencari panggung. Ayat tersebut justru mengajarkan sebuah seni mengelola energi kebahagiaan.
Di akhir Surah Ad-Duha ayat 11, terdapat sebuah kalimat yang begitu membekas: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”
Masyarakat sering kali menyalahartikan kata “siarkan” di sini secara mentah-mentah sebagai lampu hijau untuk memamerkan apa saja yang mereka miliki. Padahal, ayat ini sama sekali bukan tentang ego, melainkan sebuah panduan hidup untuk merayakan kebaikan dengan tahu diri.
Secara psikologis, manusia memang makhluk yang butuh mengekspresikan rasa senangnya. Namun, kita perlu melihat perbedaan yang mendasar antara pamer dan menyiarkan nikmat. Ketika seseorang pamer, dia mengarahkan sorotan utama pada diri sendiri, seolah ingin berkata: “Lihat betapa hebat dan beruntungnya saya.”
Tindakan ini membawa dampak berbahaya karena membuat orang lain merasa minder atau bahkan memicu rasa iri dan dengki.
Sebaliknya, menyiarkan nikmat atau tahadduts bin ni’mah adalah tentang menggeser sorotan itu dari diri kita kepada Sang Pemberi. Kita memfokuskan pesan: “Allah Maha Baik, dan saya sangat bersyukur.”
Esensinya bukan membuat orang kagum pada kita, melainkan menularkan energi positif agar orang lain yang mendengar atau melihatnya juga ikut memupuk rasa optimis.
Manifestasi Logis Dalam Keseharian
Lalu, bagaimana cara mempraktikkan “siaran” ini secara logis dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus terlihat norak atau membuat orang lain tidak nyaman?
Cara paling indah untuk menyiarkan nikmat adalah dengan membiarkan nikmat itu mengalir menjadi manfaat bagi sesama. Sebagai contoh, jika Tuhan memberikan rezeki berupa kecerdasan atau ilmu, kita menyiarkannya dengan cara mengajarkan ilmu tersebut kepada kelompok yang membutuhkan.
Jika Tuhan memberikan kelapangan materi, kita menampakkannya dalam bentuk kedermawanan yang tulus. Kita bisa melakukannya secara terbuka untuk menginspirasi, maupun secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga kesucian hati.
Selain itu, kita juga bisa menyiarkan nikmat lewat cara kita merangkai cerita. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa hidup kita selalu susah, tetapi kita harus mengubah narasinya. Jangan hanya memamerkan hasil akhir yang berkilau.
Sebaiknya, kita menceritakan betapa lelah prosesnya, tentang kegagalan yang sempat menyapa, dan bagaimana pertolongan-pertolongan kecil datang di saat kita hampir menyerah. Cerita yang jujur seperti ini tidak akan membuat orang lain iri. Narasi positif ini justru akan memberikan harapan baru bahwa mereka pun bisa melewati masa-masa sulitnya.
Jika kita membahas sejarahnya, Allah menurunkan Surah Ad-Duha sebagai penghibur ketika Nabi Muhammad SAW sedang berada di titik terendah. Saat itu, beliau merasa bimbang dan sempat mengira bahwa Allah telah meninggalkannya. Maka, ayat terakhir ini hadir sebagai sebuah instruksi penutup untuk bangkit. Yaitu untuk mengingat kembali semua kebaikan yang pernah beliau terima, lalu merayakannya dengan cara yang baik pula.
Di tengah dunia yang penuh kepura-puraan ini, Ad-Duha ayat 11 hadir sebagai penyeimbang yang syahdu. Ayat ini memberi kita ruang untuk tidak ragu berbahagia, sekaligus menjadi rem agar kebahagiaan kita tidak melukai hati orang lain yang mungkin sedang berjuang di titik terendah. Menyiarkan nikmat pada akhirnya adalah tentang merendahkan hati di hadapan Pemilik Kehidupan, sambil mengulurkan tangan untuk berbagi kehangatan dengan sesama.
Wallahu A’lam bish-Shawab.
(Dwiki Anggaeni Prasetya)



