Muharam: Mengapa Waktu Terasa Kian Cepat?

Salafusshalih.com – Muharam sering datang dengan sebuah kesadaran yang menggetarkan: waktu terasa berjalan semakin cepat. Rasanya baru kemarin memasuki Ramadan. Tiba-tiba sudah Iduladha. Baru saja anak-anak masuk sekolah, kini mereka sudah beranjak dewasa. Baru terasa memulai tahun ini, tanpa sadar kita sudah berada di awal tahun Hijriah berikutnya.
Padahal jumlah jam dalam sehari tetap sama. Dua puluh empat jam. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Lalu mengapa kita sering merasa waktu berlalu begitu cepat?
Mungkin karena usia kita terus bertambah, sementara kesempatan hidup terus berkurang. Allah Swt. bahkan mengabadikan pentingnya waktu dalam satu surat yang sangat pendek namun sangat mendalam: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (Al-‘Asr: 1–2)
Menarik sekali. Allah bersumpah dengan waktu. Karena waktu adalah modal hidup yang paling berharga. Harta yang hilang masih bisa dicari. Jabatan yang lepas bisa diraih kembali. Ilmu yang kurang masih bisa dipelajari. Tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Muharam dan Umur yang Berkurang
Muharam hadir setiap tahun untuk mengingatkan kita tentang kenyataan itu. Bahwa umur bukan sedang bertambah, tetapi berkurang. Bahwa perjalanan hidup bukan semakin panjang, melainkan semakin mendekati garis akhir.
Karena itu, Muharam adalah momentum muhasabah. Kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah saya perbaiki selama setahun terakhir?
Apakah ibadah saya semakin baik? Akhlak saya semakin mulia? Kehadiran saya semakin bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan umat?
Jangan sampai yang berganti hanya tahun, sementara diri kita tetap berada di tempat yang sama. Muharam mengajarkan bahwa orang yang beruntung bukanlah yang usianya paling panjang, melainkan yang mampu mengubah waktu menjadi amal, ilmu, dan manfaat.
Selamat memasuki Muharam 1448 Hijriah. Semoga tahun ini menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih siap menghadapi kehidupan yang abadi.
(Ulul Albab)



