Tsaqofah

Kebangkitan Islam Muncul Dengan Hijrah

Salafusshalih.com – Perjuangan Rasulullah Saw dan para sahabat di masa awal Islam dipenuhi dengan ujian dan penderitaan yang luar biasa.

Pengorbanan mereka berada pada tingkat yang sangat tinggi, yang belum tentu sanggup ditanggung oleh manusia masa kini.

Salah satu momen paling berat dalam kehidupan dan tugas kerasulan Nabi Muhammad adalah peristiwa pengusiran di Kota Thaif.

Pada tahun ke-10 kenabian (619/620 M) yang juga dikenal sebagai masa duka cita, Rasulullah melakukan perjalanan ke Thaif untuk minta suaka politik akibat penindasan suku Quraisy di Makkah.

Rasulullah menemui kepala suku Thaif, Ibnu ‘Abdi Yalil bin Abdi Kulal, yang dikenal arif, agar dakwah Islam dapat diterima dan berkembang di wilayah tersebut.

Namun pengaruh dari para pembesar Quraisy membuat sambutan penduduk Thaif menjadi sangat kejam.

Rasulullah ditolak, diusir, dan dilempari batu hingga tubuhnya berdarah. Dalam keadaan terluka dan terengah-engah, Rasulullah berlindung di perkebunan anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah.

Di tengah kesedihan yang mendalam itu, malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung. Malaikat bercerita, Allah mendengar penolakan kaum Thaif dan mengizinkan Rasulullah memerintahkan malaikat penjaga gunung menimpakan Gunung Akhsabain kepada penduduk Thaif.

Namun respons Nabi sungguh luar biasa. Tanpa rasa marah, dengki, ataupun dendam, menolak tawaran tersebut dan justru berdoa.

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku.. asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli… Ya Allah, berilah hidayah untuk kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Nabi Muhammad menunjukkan kepasrahan total (sumeleh) dan optimisme. Nabi yakin jika bukan generasi tersebut yang menerima Islam, maka kelak anak cucu keturunan mereka akan menjadi hamba-hamba Allah yang bertauhid.

Peristiwa Menggemparkan

Sesaat setelah peristiwa memilukan di Thaif, tanda-tanda pertolongan Allah mulai terbuka melalui beberapa peristiwa.

Pertama, keimanan bangsa jin. Di Lembah Nakhlah, sekelompok jin mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibaca Nabi. Seketika para jin beriman serta menyebarkan risalah tersebut kepada kaumnya. Sebagaimana diceritakan dalam surah Al-Ahqaf: 29-31 dan Al-Jin.

Kedua, masuk Islamnya Addas. Seorang pemuda Kristen bernama Addas, pembantu pemilik kebun anggur asal Ninawa, tersentuh oleh akhlak Nabi dan memutuskan untuk memeluk Islam.

Ketiga, jaminan perlindungan (Jiwar). Untuk dapat kembali masuk ke Makkah dengan aman, Nabi menerima jaminan perlindungan dari Al-Muth’im bin ‘Adiy.

Jasa Al-Muth’im termasuk perannya merobek piagam boikot Ka’bah sangat dihormati Rasulullah hingga pasca Perang Badar.

Sikap Rasulullah yang tidak pernah kehilangan arah di tengah situasi genting mencerminkan esensi sejati seorang mukmin, yaitu selalu melihat kemudahan di balik kesulitan (Surah Al-Insyirah: 4).

Berabad-abad sebelum filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz mencetuskan teori optimisme ekonomi-teologis (Theodicy)—yang memandang penderitaan sebagai bagian kecil dari desain besar semesta yang harmonis demi kebaikan yang lebih besar—Nabi Muhammad telah mempraktikkannya.

Kesadaran keilahian ini membangun ketahanan mental yang kokoh, menjauhkan keputusasaan, dan memicu energi positif untuk membangun peradaban masa depan yang rasional, berbasis sains, hukum, dan teknologi.

Konspirasi Darun Nadwah

Melihat perkembangan Islam, para pemuka Quraisy berkumpul di Darun Nadwah untuk merencanakan makar, berupa pemenjaraan, pengusiran, hingga pembunuhan terhadap Nabi.

Namun Allah melancarkan perjalanan hijrah. Menyelamatkan Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shiddiq dari kejaran musuh di Gua Tsur (Surah At-Taubah: 40) hingga akhirnya mereka tiba di Yatsrib (Madinah) dengan selamat.

Hijrah bukan pelarian, melainkan sebuah gerakan terstruktur dan komitmen total menuju transformasi perubahan.

Momentum hijrah diawali dengan peristiwa Baiatul Aqabah 1 dan 2 sebagai instrumen awal pembentukan komunitas baru.

Begitu krusialnya peristiwa hijrah ini, Khalifah Umar bin Khattab kemudian menetapkannya sebagai awal penanggalan Hijriah karena menjadi pemisah yang tegas antara yang hak dan yang batil.

Selama sepuluh tahun di Madinah, Nabi membangun peradaban kokoh dengan mendirikan masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, serta merumuskan undang-undang kota (Piagam Madinah).

Dari gerakan itulah kebangkitan Islam menyebar ke penjuru dunia.

Kebangkitan Peradaban Ummatan Wasathan

Kata umat memiliki makna dinamis. Dalam surah An-Nahl: 120, tokoh Nabi Ibrahim disebut sebagai umat karena kapasitas kepemimpinan, keteladanan, dan kualitas ibadahnya yang setara dengan amal satu umat secara keseluruhan.

Pakar tafsir Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan, kata umat berasal dari akar kata amma-ya’ummu berarti sekelompok manusia dinamis yang bergerak maju menuju satu arah, cita-cita, atau gaya hidup (thariqah) yang diadopsi bersama.

Atas dasar itulah, Rasulullah diamanahkan untuk membentuk ummatan wasathan (umat pertengahan).

Umat ini bukan kelompok yang gemar bertengkar atau hura-hura, melainkan komunitas yang adil, menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak ekstrem, serta mampu menjadi saksi sekaligus teladan kebaikan bagi seluruh alam semesta.

Kebangkitan Islam memberikan pencerahan bagi umat sedunia.

(Abu Nasir)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button