Mujadalah

Menua Dalam Kebijaksanaan

Salafusshalih.com – Tidak semua yang bertambah usia menjadi dewasa. Tidak semua yang berambut putih menjadi bijaksana. Sebab waktu hanya menambah umur, sedangkan kebijaksanaan lahir dari kemampuan mengambil pelajaran dari umur yang berlalu.

Dalam perspektif epistemologi Qurani, usia bukan sekadar perjalanan biologis, melainkan proses pematangan kesadaran. Allah tidak hanya menambah angka pada kehidupan manusia, tetapi juga menghadirkan berbagai pengalaman, ujian, keberhasilan, kegagalan, pertemuan, dan perpisahan agar manusia belajar memahami hakikat diri dan kehidupan.

 

Ketika masih muda, manusia sering mengira bahwa kekuatan adalah segalanya. Ia ingin terlihat hebat, ingin diakui, ingin didengar, ingin menjadi yang terdepan. Namun semakin jauh perjalanan hidup ditempuh, semakin ia menyadari bahwa kehidupan tidak selalu tunduk pada keinginan manusia.

Ada banyak hal yang berada di luar kendalinya. Ada kehilangan yang tidak dapat dicegah. Ada perpisahan yang tidak dapat ditolak. Ada kenyataan yang tidak dapat diubah. Dan justru dari situlah kebijaksanaan mulai lahir.

Semakin matang seseorang, semakin ia memahami bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kesalahan harus dibalas. Tidak semua perbedaan harus dipermasalahkan. Ia mulai menyadari bahwa kedamaian sering kali lebih berharga daripada kemenangan, dan menjaga hati sering kali lebih penting daripada menjaga gengsi.

Pohon yang masih muda tumbuh tinggi dengan penuh semangat. Namun pohon yang berbuah justru merunduk. Demikian pula manusia. Semakin sedikit ilmu yang dimiliki, semakin mudah ia merasa besar.

Sebaliknya, semakin luas pemahamannya, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang belum diketahuinya. Karena itu, salah satu tanda kematangan bukanlah semakin keras suara seseorang, melainkan semakin rendah hatinya.

Usia yang bertambah seharusnya tidak hanya membuat seseorang lebih tua, tetapi juga lebih lapang. Lebih mudah memaafkan. Lebih mudah memahami. Lebih mudah bersyukur. Ia tidak lagi melihat kehidupan hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi mulai melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas.

Ia memahami bahwa setiap manusia sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Karena itu, ia menjadi lebih lembut dalam menilai dan lebih bijak dalam menyikapi.

Semakin tua seseorang, semakin ia menyadari bahwa kehidupan bukanlah tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi siapa yang paling baik memaknai perjalanan. Sebab puncak-puncak dunia pada akhirnya akan ditinggalkan, sementara hikmah yang diperoleh sepanjang perjalanan akan tetap membersamai dirinya hingga akhir hayat.

Pada titik tertentu, manusia mulai memahami bahwa kekuatan terbesar bukanlah kemampuan mengendalikan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan dirinya sendiri. Kebijaksanaan terbesar bukanlah mengetahui banyak hal, melainkan mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Kematangan terbesar bukanlah ketika seseorang selalu benar, melainkan ketika ia mampu menerima bahwa dirinya bisa salah.

Mungkin inilah makna terdalam menjadi tua dengan bermakna. Bukan sekadar bertambahnya usia, tetapi bertambahnya hikmah. Bukan sekadar melemahnya tubuh, tetapi menguatnya kebeningan hati. Bukan sekadar semakin dekat kepada akhir kehidupan, tetapi semakin dekat kepada pemahaman tentang makna kehidupan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, manusia yang paling berhasil bukanlah yang hidup paling lama, melainkan yang setiap pertambahan usianya diiringi pertambahan kebijaksanaan, yang semakin luas ilmunya semakin dalam ketawaduannya, dan yang semakin dekat kepada akhir perjalanan semakin dekat pula kepada Allah.

(Muhammad Hidayatulloh)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button