Mujadalah

Jangan Intervensi Allah, Dia Sibuk Mengurusi Hajat Makhluk-Nya!

Salafusshalih.com – Kalimat ’Jangan intervensi Allah karena Ia sibuk mengurusi hajat makhlukNya ini adalah bahasa kiasan. Bermakna Allah Maha Pengasih dan terus-menerus memelihara seluruh ciptaanNya tanpa bantuan siapapun.

Untuk menggambarkan sifat Allah Al-Muhaimin (Maha Mengatur) dan Al-Qayyum (Maha Mandiri/Mengurusi makhlukNya).

Kesibukan Allah berarti Allah bekerja setiap waktu untuk mengatur rezeki, menghidupkan, dan memberi pertolongan kepada triliunan makhlukNya. Bahkan saat manusia mengantuk sekalipun tidak terlepas dari pengawasanNya.

Manusia seringkali merasa tahu apa yang terbaik bagi dirinya, lalu memaksa Allah dalam doa agar mengabulkan keinginan tertentu dengan cara dan waktu yang ia tentukan sendiri.

Intervensi di sini berarti tidak rida dengan takdir atau mendikte Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Ar-Rahman ayat 29

يَسْـَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

Allah sibuk mengurusi hajat makhlukNya  bermakna Allah senantiasa aktif dan tidak pernah berhenti mengatur alam semesta, memberikan rezeki, menghidupkan dan mematikan, mengabulkan doa, serta meringankan penderitaan hamba-Nya setiap saat.

Kesibukan ini menandakan sifat Allah sebagai Al-Mudabbir (Maha Mengatur) yang menjamin kebutuhan setiap makhluk, dari semut hingga manusia Ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang terus bekerja melayani kebutuhan makhluk, berbeda dengan manusia yang butuh beristirahat.

Tiga Prasangka

Setidaknya ada tiga keadaan seseorang berprasangka buruk kepada Allah, yaitu  :

Pertama, Jaminan Rezeki.

Tidak ada makhluk melata pun di bumi kecuali Allah yang menanggung rezekinya, menunjukkan perhatian Allah yang terus-menerus.

Allah Ta’ala berfirman dalam Hud ayat 6  :

۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Ayat ini mengandung makna, bahwa  setiap makhluk hidup bersama rezekinya, tempat tinggalnya dan tempat matinya semuanya tercatat di dalam kitab yang jelas, yaitu Lauḥ Maḥfuz.

Allah tidak lalai dari mahlukNya yang terkecil sekalipun, misal semut, ikan yang ada di dalam samudra, dan burung-burung yang terbang di udara.

Kesemuanya itu rezekinya dalam pengaturan  Allah Ta’ala. Maka bagaimana mungkin Allah akan melalaikan dalam urusan hajat  manusia. Maha Suci Allah dari prasangka hambaNya.

Kedua, Kecemasan Menghadapi Masa Depan.

Kecemasan manusia sering muncul karena merasa ingin mengendalikan hidupnya sendiri. Memahami bahwa Allah sedang mengurusi hajat makhluk membuat hati tenang, karena yakin bahwa urusan rezeki, jodoh, dan takdir telah diatur oleh Yang Maha Bijaksana.

Jika ada rasa takut yang terlintas dalam benak seseorang  akan kemiskinan, ketahuilah bahwa itu hanya bisikan setan  yang tidak berharga, dan hilangkanlah  rasa takut, dan kecemasan  itu dengan  firman Allah Ta’ala dalam Al-Baqarah ayat 268 :

ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.

Demikian juga jika setan menakut-nakutimu dengan kematian dan pembunuhan, maka lawanlah ia dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Araf ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Cukuplah nash di atas sebagai nasihat bagi  setiap muslim untuk mengubah hidupnya  dari kecemasan menjadi ketenangan, karena kehidupan di dunia ini tidak ada yang pasti jadi tidak perlu dicemaskan. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih utama dan kekal. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Alaq ayat 17.

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ 

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Kehidupan dunia walaupun di dalamnya penuh dengan kenikmatan dan kebaikan, akan tetapi semuanya akan hancur dan sirna, bahkan kebaikan yang ada terkadang hanyalah sebatas bayangan dan pada hakikatnya adalah kesengsaraan.

Ketiga, Pertolongan di Saat Sulit.

Allah hadir menolong hambanya dan mengurus keperluan mereka, terutama saat manusia merasa putus asa dan tidak ada yang membantu.

Keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, terutama saat beban hidup terasa berat, dan Allah akan memberikan jalan keluar (solusi), ketenangan hati, atau kemudahan dengan cara-Nya yang seringkali tidak terduga.

Terkadang, pertolongan Allah datang saat seseorang merasa berada di persimpangan terakhir atau ketika semua usaha tampak sia-sia.

Allah membuka jalan yang lebih indah dan tak terduga. Ketahuilah pertolongan Allah kepada hambaNya disesuaikan dengan tingkat krisis (masalah dan kesulitan) yang sedang dihadapi hambaNya. Sebagaimana  Nabi Saw bersabda

أَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمَعُونَةَ عَلَى قَدْرِ الْمَئُونَةِ، وَأَنْزَلَ الصَّبْرَ عِنْدَ الْبَلَاءِ

“Sesungguhnya Allah turunkan pertolongan sesuai dengan tingkat kesulitan. Dan Allah turunkan kesabaran ketika sedang menghadapi musibah.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 12: 337).

Oleh karenanya jauhilah berburuk sangka kepada Allah, atau pesimis saat menghadapi hari-hari penuh ujian, jika tidak, maka yang akan datang adalah masalah-masalah yang lebih berat dan sulit dari sebelumnya, dan bahkan tidak menemukan solusi sama sekali.

Kesimpulan
Jangan intervensi Allah berarti lakukan ikhtiar maksimal, lalu serahkan hasilnya diatur oleh Allah. Dan yakinlah, di saat manusia merasa doanya “tertunda”, Allah sesungguhnya sedang sibuk menyiapkan  skenario yang indah dan solusi terbaik kehidupan bagi hamba-Nya. Wallaahu ’alamu bishshawwab.

(Ridwan Ma’ruf)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button