Mujadalah

Kelompok Radikal Memerangi Hawa Nafsunya Sebelum Memerangi Sesamanya, Sudahkah?

Salafusshalih.com – Tinggal menghitung hari umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan. Biasanya mereka menyambut bulan ini dengan berpuasa selama sebulan atau tiga puluh hari kemudian sehari setelah itu mereka merayakan dengan perayaan yang diberi nama ”Idul Fitri” (hari di mana segalanya menjadi suci bagaikan kita kembali ke hakikat yang sesungguhnya).

Membahas Ramadhan memang cukup menarik. Bahkan, ada keterangan sebuah hadis yang menyebutkan bahwa: ”Seandainya umatku tahu apa yang ada di bulan Ramadhan, pasti mereka menginginkan agar setahun itu bulan Ramadhan seluruhnya. Karena di bulan itu Allah menebar kebaikan, doa dikabulkan, amal diterima, dosa diampuni dan dirindukan oleh surga.”

Umat yang disinggung Nabi SAW pada keterangan tersebut adalah orang khusus atau, kalau merujuk terhadap penjelasan Imam Al-Ghazali mereka termasuk pada, ”tingkatan kedua” dari tiga tingkatan orang-orang yang berpuasa. Tingkatan kedua ini berpuasa bukan hanya menahan lapar-dahaga, tapi juga mendengar, melihat, mengendalikan tangan dan kaki, termasuk mengendalikan kata-kata.

Tingkatan orang kedua ini bisa dikatakan berpuasa sudah mampu mengendalikan hawa nafsu yang tentunya itu jauh lebih sulit dibandingkan menahan haus dan lapar. Sebab, sejatinya musuh terbesar manusia adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri masing-masing orang. Bukankah Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, ”Hawa nafsu adalah musuh yang dicinta”.

Pentingnya menahan hawa nafsu saat berpuasa seiring dengan resolusi jihad. Jihad yang sesungguhnya adalah memerangi hawa nafsu dan sementara ulama menyebut bahwa memerangi hawa nafsu termasuk perang yang besar. Pernyataan ulama ini sejalan dengan sabda Nabi ketika pulang dari Perang Badar bahwa kita baru saja pulang dari perang kecil menuju perang besar, yaitu perang melawan hawa nafsu.

 

Perang melawan nafsu penting dilakukan karena banyak di antara umat Islam yang terpapar radikalisme. Disadari atau tidak, radikalisme adalah bagian dari gejolak hawa nafsu yang menghasut manusia untuk memusuhi sesamanya, meski mereka sama-sama muslim. Kelompok radikal tidak bakal merasa bahwa pemikiran dan perbuatannya bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan untuk melawan hawa nafsu. Karena, hati dan pikiran mereka sudah tertutup.

Bisa jadi, meski berpuasa, puasa kelompok radikal hanyalah puasa tingkatan pertama, yaitu puasa tingkatan orang awam. Orang awam berpuasa hanyalah melawan haus dan lapar, dan belum mampu melawan hawa nafsu. Jadi, sangat masuk akal jika banyak pelaku teror atau kelompok radikal yang merasa paling islami, sementara mereka belum mampu menjinakkan hawa nafsunya. Miris!

Sebagai penutup, mulai sekarang umat Islam hendaknya menyambut Ramadhan dengan puasa yang lebih berkualitas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun kemarin puasanya hanyalah menahan haus dan lapar, maka sekarang puasanya sudah mampu menahan gejolak hawa nafsu. Kualitas puasa ini akan membuktikan bahwa kita adalah umat yang terbaik di hadapan Tuhan.

(Khalilullah)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button