Keluarga Sakinah Bukan Berarti Bebas Masalah

Salafusshalih.com – Kebutuhan hidup yang terus meningkat bisa menjadi ujian tersendiri bagi keluarga. Namun, banyak atau sedikitnya penghasilan bukan satu-satunya penentu ketenteraman rumah tangga.
Persoalan ekonomi memang perlu mendapat perhatian serius dalam kehidupan keluarga. Kebutuhan yang bertambah dapat memunculkan kekhawatiran, terutama bagi pasangan yang baru berumah tangga maupun keluarga dengan penghasilan terbatas.
Namun, menurutnya, persoalan itu tidak bisa dihadapi hanya dengan menghitung pendapatan dan pengeluaran. Suami dan istri juga perlu menjaga komunikasi, saling memahami, dan bekerja sama ketika menghadapi kesulitan.
Pernikahan Adalah Amanah
Pernikahan merupakan ikatan yang membawa tanggung jawab di hadapan Allah Swt. Seorang suami mempunyai kewajiban memberi nafkah, perlindungan, perhatian, dan perlakuan yang baik kepada istrinya.
Suami juga perlu hadir ketika istri menghadapi kesulitan, bersedia mendengarkan keluh kesah, serta memberi dukungan ketika keluarga sedang menghadapi ujian.
Begitu pula suami dan istri perlu saling menghormati, menjaga komunikasi, serta menjalankan kewajiban masing-masing.
Keharmonisan rumah tangga tumbuh ketika pasangan menyadari bahwa pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua manusia, melainkan amanah yang harus dipelihara bersama.
Persoalan nafkah menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam kajian tersebut. Kiswanto mengingatkan bahwa keyakinan terhadap rezeki yang telah diatur Allah Swt. tidak berarti seseorang boleh berhenti berusaha.
Mengutip Surah An-Najm ayat 39: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat tersebut mengingatkan manusia untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan. Setelah menikah, suami dan istri perlu bekerja sama membangun keluarga, termasuk berikhtiar memperoleh penghasilan halal untuk memenuhi kebutuhan.
Karena itu, keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah harus berjalan bersama usaha, doa, dan tawakal.
Juga mengutip Surah Hud ayat 6: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata.”
Jaminan rezeki tersebut tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Manusia tetap mempunyai kewajiban berusaha dan menjalankan tanggung jawabnya.
Jangan Membandingkan Rezeki
Pembahasan tentang rezeki kemudian dikaitkan dengan Surah Asy-Syura ayat 27. Allah Swt. melapangkan maupun membatasi rezeki hamba-Nya sesuai kehendak-Nya.
Kondisi ekonomi setiap keluarga karena itu tidak selalu sama. Ada keluarga yang memperoleh kelapangan, sementara yang lain harus mengatur kebutuhan dengan penghasilan terbatas.
Mengingatkan agar tidak mudah membandingkan kehidupan keluarganya dengan keluarga lain.
Perbedaan kondisi ekonomi juga tidak semestinya melahirkan prasangka buruk kepada Allah Swt. Yang perlu dilakukan ialah terus berusaha, bersabar menghadapi keterbatasan, dan menjalankan tanggung jawab sesuai kemampuan.
Di sinilah, sikap kanaah dibutuhkan.
Kanaah bukan berarti berhenti berusaha. Sikap itu berarti menerima rezeki yang diperoleh dengan rasa syukur sambil tetap berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Dengan kanaah, keluarga dapat belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, menghindari gaya hidup berlebihan, serta mengatur keuangan dengan lebih bijaksana.
Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya
Mengingatkan agar banyaknya harta tidak dijadikan satu-satunya ukuran kasih sayang Allah Swt.
Mengaitkannya dengan Surah Al-Isra ayat 100 yang antara lain menggambarkan kecenderungan manusia menahan harta.
Keluarga perlu berhati-hati agar kecintaan pada harta tidak berubah menjadi kekikiran. Rezeki yang dimiliki perlu dikelola dengan baik dan sebagian digunakan untuk membantu sesama.
Karena itu, mengajak membiasakan infak dan sedekah. Berbagi, tidak harus menunggu kaya. Setiap orang dapat melakukannya sesuai kemampuan.
Nilai sedekah juga tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah yang diberikan. Niat, keikhlasan, dan kepedulian kepada orang lain menjadi bagian penting di dalamnya.
Melalui kebiasaan tersebut, keluarga sekaligus dapat menanamkan kepedulian sosial kepada anak-anak.
Saling Menguatkan Saat Ada Masalah
Mengingatkan bahwa setiap rumah tangga mempunyai ujian yang berbeda.
Ada keluarga yang diuji dengan ekonomi, ada yang menghadapi persoalan komunikasi, dan ada pula yang harus berjuang menghadapi kebutuhan hidup yang terus bertambah.
Dalam kondisi semacam itu, suami dan istri perlu saling menguatkan. Tekanan ekonomi jangan sampai menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
Pasangan justru perlu membicarakan persoalan bersama, memperbaiki pengelolaan keuangan, dan terus menjalankan ikhtiar.
Rumah tangga sakinah bukan keluarga yang sama sekali tidak mempunyai masalah. Keluarga sakinah tetap dapat menghadapi kesulitan, tetapi berusaha menyelesaikannya dengan menjaga tanggung jawab, kasih sayang, kesabaran, dan nilai-nilai Islam.
Mengingatkan untuk terus mencari rezeki yang halal, menjaga amanah pernikahan, mensyukuri nikmat yang dimiliki, membiasakan berbagi, serta tidak berprasangka buruk kepada Allah Swt.
Ikhtiar, doa, tawakal, syukur, dan qanaah, menurutnya, perlu berjalan bersama dalam menjaga rumah tangga di tengah berbagai tekanan kehidupan.
(Muhammad Zuhair Ujab)



