Mujadalah

Kontroversi Kejadian 12:3, Saat Alkitab Dijadikan Senjata Politik Zionisme–Israel

Salafusshalih.com – Ada yang menarik perhatian saya ketika menyimak pernyataan bersama Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu. Di bagian akhir pidato “Bibi”, ia dengan angkuh mengatakan bahwa kehancuran yang dialami rakyat Gaza adalah nubuat dari Alkitab. Ia mengutip Kejadian 12:3:

“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau (Abraham), dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau; dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Ayat Alkitab ini sering dijadikan dasar teologis oleh kelompok Kristen Zionis yang mendominasi politik AS untuk mendukung Israel modern tanpa syarat.

Di banyak mimbar gereja evangelikal, terutama di Amerika Serikat, satu ayat sering dijadikan dasar dukungan tanpa syarat bagi negara Israel modern: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau” (Kejadian 12:3).

Ayat ini, yang sejatinya merupakan janji Allah kepada Abram (Abraham), ditafsirkan sebagian kalangan sebagai mandat teologis untuk mendukung Israel apa pun kebijakannya.

Namun, apakah benar ayat ini berbicara tentang negara Israel modern? Bagaimana konteks aslinya, dan bagaimana tafsir Kristen arus utama memahaminya?

Konteks Biblis Kejadian 12:3

Kejadian 12:3 menceritakan panggilan Allah kepada Abram untuk meninggalkan tanah asalnya menuju tanah yang akan ditunjukkan Tuhan, yaitu Kanaan—negeri Palestina. Dalam perjanjian itu, Allah berjanji menjadikan Abram sebagai bangsa besar, memberkatinya, dan melalui dia semua bangsa di bumi akan mendapat berkat (Alter, 2004).

Dengan demikian, janji ini pertama-tama ditujukan kepada pribadi Abram dan keturunannya, bukan kepada entitas politik modern. Ayat ini juga mengandung dimensi universal: berkat melalui Abram tidak hanya untuk keluarganya, tetapi bagi seluruh bangsa.

Tafsir Kristen Zionis

Sejak abad ke-19, muncul aliran dispensasionalisme dalam teologi Protestan Amerika (Weber, 2004). Salah satu ciri utamanya adalah keyakinan bahwa kembalinya orang Yahudi ke tanah Israel adalah penggenapan nubuat Alkitab menjelang akhir zaman. Dari sinilah lahir tafsir Kristen Zionis terhadap Kejadian 12:3.

Menurut tafsir ini:

  1. “Engkau” dalam ayat tersebut diidentifikasi langsung dengan bangsa Yahudi etnis, bahkan dengan negara Israel modern.

  2. Siapa pun bangsa yang mendukung Israel akan diberkati Tuhan, dan siapa yang menentangnya akan dikutuk.

  3. Karena itu, mendukung Israel—baik secara politik, ekonomi, maupun militer—dianggap sebagai kewajiban iman.

Tafsir semacam ini kemudian mendorong dukungan politik luar negeri Amerika Serikat yang sangat pro-Israel (Clark, 2007). Tidak jarang, penderitaan rakyat Palestina diabaikan karena dianggap sebagai “kutukan” akibat menentang Israel.

Sangat paradoks dan ironis ketika aliran Protestanisme memposisikan dirinya sebagai gerakan pembebasan dari dogmatisme dan tafsir tunggal Gereja Katolik Roma—sebuah pembebasan yang melahirkan Renaisans di Eropa serta sekularisme-liberalisme—namun di sisi lain melahirkan tafsir Alkitab yang menindas rakyat pribumi Palestina demi melegitimasi politik pengusiran, apartheid, genosida, dan perampasan hak mereka selama puluhan tahun oleh rezim Yahudi Zionis.

Tafsir Kristen Arus Utama

Berbeda dengan itu, Gereja Katolik, Ortodoks, dan banyak denominasi Protestan menolak reduksi ayat ini. Mereka menekankan bahwa:

  • Janji dalam Kejadian 12:3 bersifat spiritual, bukan mandat politik.

  • Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menegaskan bahwa janji kepada Abraham digenapi dalam Kristus (Galatia 3:16), dan semua orang beriman disebut “keturunan Abraham” (Galatia 3:29).

  • Dengan demikian, berkat dan kutuk dalam Kejadian 12:3 berlaku bagi seluruh umat manusia yang beriman, tanpa memandang etnis atau kebangsaan (Wright, 1992).

  • Ayat ini seharusnya mendorong solidaritas universal, bukan justifikasi penjajahan atau diskriminasi.

Paus Fransiskus, misalnya, menegaskan bahwa janji Allah kepada Abraham adalah janji berkat bagi semua bangsa, dan dukungan kepada Israel tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan hak-hak rakyat Palestina (Vatican News, 2021).

Implikasi Politik

Perbedaan tafsir ini berdampak besar pada politik internasional:

  1. Kristen Zionis: Menjadikan ayat ini sebagai dasar teologis bagi dukungan total terhadap Israel. Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian besar politisi AS, khususnya dari kalangan evangelikal konservatif, konsisten mendukung Israel meskipun dunia internasional mengecam kebijakan pemukiman ilegal atau serangan militer (Spector, 2009).

  2. Arus utama: Menolak penggunaan ayat ini untuk tujuan politik sempit yang melayani kepentingan kolonialisme modern. Banyak pemimpin gereja menegaskan bahwa keadilan bagi Palestina justru sejalan dengan iman Kristen, karena berkat Allah harus mencakup semua bangsa.

Kritik Akademis

Banyak ahli biblika menekankan bahwa menafsirkan Kejadian 12:3 sebagai dukungan otomatis terhadap Israel modern adalah anakronisme—membaca ayat kuno dalam kerangka politik kontemporer.

Sejarawan biblika mengingatkan bahwa Israel modern adalah entitas politik abad ke-20, sedangkan janji kepada Abraham bersifat spiritual dan transhistoris (Brueggemann, 2015). Dengan demikian, memaksakan ayat ini untuk melegitimasi pendudukan atau kebijakan diskriminatif berarti mengabaikan konteks biblis sekaligus nilai universal Alkitab.

Kesimpulan

Kejadian 12:3 memang berbicara tentang berkat dan kutuk, tetapi inti pesannya adalah bahwa Allah menjanjikan berkat universal melalui iman Abraham. Menjadikan ayat ini sebagai legitimasi politik Israel modern bukan hanya menyempitkan maknanya, tetapi juga berpotensi menjustifikasi ketidakadilan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Palestina.

Tugas komunitas iman bukanlah memperalat teks suci untuk membenarkan kekuasaan politik yang zalim, melainkan menghidupkan semangat berkat universal yang membawa keadilan, perdamaian, dan martabat bagi seluruh umat manusia.

(Fahmi Salim)

Related Articles

Back to top button