Mujadalah

Pelajaran yang Sering Dilupakan: Adab Berbeda Pendapat dalam Agama Islam

Salafusshalih.com – Terwujudnya perbedaan pendapat atau gagasan tentang komponen ibadah dan muamalah di dalam Islam merupakan hal yang lumrah sejak sepeninggal Rasulullah saw. Namun, jika kita cermati fenomena hari ini, varian perbedaan tersebut justru berubah menjadi pertengkaran yang tidak jelas juntrungannya. Fenomena debat keagamaan di majelis pengajian, media sosial, dan kolom komentar menunjukkan bahwa umat Islam belum sepenuhnya memahami makna asli dari “perbedaan”. Problematika umat di akhir zaman ini bukan terletak pada banyaknya perbedaan pendapat, melainkan hilangnya adab dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Apabila kita amati, sejak periode para sahabat hingga imam mazhab, perbedaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika keilmuan Islam. Kala itu, perbedaan persepsi dalam menelaah teks dan praktik keagamaan sudah terjadi tanpa harus berujung pada perpecahan. Sebenarnya, kita pun bisa belajar dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Misalnya, dalam pelaksanaan ibadah shalat. Gerakan serta bacaan shalat itu beragam, tidak hanya satu atau dua. Terkadang Rasulullah saw. membaca doa iftitah yang berbeda. Beliau juga pernah mengerjakan qunut nazilah selama sebulan penuh, lalu meninggalkannya.

Dari situ, kita dapat mengetahui bahwa cara atau metode bisa berbeda maupun berubah kapan saja tergantung situasi zaman. Dengan demikian, kita dapat memilih mana yang ingin diikuti tanpa perlu terlalu fokus terhadap perbedaan di antara kita dan orang lain. Semuanya bersumber dari satu rujukan, yaitu Rasulullah saw., sehingga tidak ada yang melenceng ataupun salah.

Adab Berbeda Pendapat

Dalam Islam, istilah perbedaan paham ataupun pendapat disebut dengan ikhtilaf. Perbedaan pendapat dalam ikhtilaf al-fiqhiyah (hukum Islam) ibarat buah yang banyak dari satu pohon, yaitu Al-Qur’an dan sunah. Akar dan batang pohon itu adalah Al-Qur’an dan sunah. Kemudian, cabang-cabangnya ialah berbagai dalil naqli dan aqli, sementara buahnya adalah fikih meskipun berjumlah banyak atau berbeda-beda (Abdillah, 2014).

Sikap etis dalam menangani perbedaan pandangan dengan tetap menjaga kehormatan sesama merupakan maksud dari adab berbeda pendapat. Apabila seseorang mampu melepaskan diri dari fanatisme, maka ia akan mampu secara ikhlas dan konsisten mendukung kebenaran, meskipun terdapat perbedaan dalam tiap mazhab atau golongan tertentu. Manakala ia menjumpai dalil yang lebih kuat, ia akan segera bertindak berdasarkan dalil tersebut, sekalipun tidak sejalan dengan ucapan imam yang dikagumi atau keyakinan mazhab lain.

Lalu, bagaimana bentuk adab berbeda pendapat itu? Adab berbeda pendapat terefleksi dalam kesediaan untuk mendengar, menghormati niat baik orang lain, berlapang dada, serta menghindari sikap merasa paling benar. Kebenaran sejati hanyalah milik Allah Swt., sedangkan manusia hanya berikhtiar mendekatinya dengan segala keterbatasan. Oleh karena itu, adab menjadi sangat esensial dalam mencegah perbedaan yang dapat meruntuhkan ikatan ukhuwah.

Pelajaran Adab Yang Sering Dilupakan

Ketika mendiskusikan sesuatu, terutama terkait persoalan keagamaan, tidak jarang timbul perbedaan pemikiran dan pendapat. Pada momen itulah kita sering kali melupakan adab atau etika yang seharusnya diutamakan. Agar tidak lahir perselisihan yang tidak berarti, kita perlu berlatih untuk mendahulukan akhlak daripada kemenangan dalam debat, mengakui keterbatasan diri, dan menahan diri ketika emosi lebih dominan.

Perdebatan bukanlah kompetisi. Perdebatan sering kali terjadi ketika individu atau kelompok tertentu menjadikan suatu persoalan semakin rumit. Pendapat yang lahir dari pemikiran kita pun bisa saja salah. Dari sinilah adab berperan sebagai penengah di antara berbagai pendapat yang mencerminkan keimanan seseorang. Sebab, jika adab sudah hilang dari jati diri seseorang, maka aktivitas dakwah tidak akan berjalan dengan baik.

Kita tidak dapat menolak bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam berpikir. Artinya, diperlukan unsur pendukung agar seseorang lebih mudah memahami sesuatu. Dengan demikian, manusia membutuhkan sosok guru yang dapat dijadikan teladan dalam mempelajari berbagai hal, termasuk belajar adab dalam forum diskusi. Dalam Islam, figur terbaik yang dapat dijadikan teladan adalah Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. ditugaskan untuk membimbing serta memperbaiki jiwa manusia. Apabila manusia mampu meneladani apa yang diajarkan Rasulullah saw., maka akan tercipta masyarakat yang ideal, dinamis, serta taat hukum berdasarkan sistem yang datang dari Allah Swt.

Pernah pada suatu momen dalam Perang Ahzab, Nabi Muhammad saw. bersabda kepada para sahabat:

لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُ الْعَصْرِ إِلَّا فِيْ بَنِيْ قُرَيْظَة

“Janganlah ada seorang pun di antara kalian yang melaksanakan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam perjalanan, terjadilah perbedaan pendapat di antara para sahabat. Sebagian memahami hadis tersebut secara tekstual sehingga menunda shalat Ashar hingga tiba di perkampungan Bani Quraizhah. Sebagian yang lain memahami bahwa maksud hadis itu adalah agar mereka segera berangkat, sehingga mereka tetap melaksanakan shalat Ashar di perjalanan agar tidak keluar dari waktunya.

Peristiwa tersebut kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Beliau tidak menyalahkan salah satu pihak. Sebab, perbedaan yang lahir dari niat mencari kebenaran tidak pantas untuk dicela.

Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa perbedaan harus disikapi dengan ilmu dan kebijaksanaan, bukan dengan emosi ataupun kemarahan. Jika perbedaan menimbulkan kemarahan, maka akan muncul potensi konflik, seperti permusuhan. Padahal, persaudaraan iman jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan pendapat. Kita boleh berbeda pendapat, asalkan tidak kehilangan adab untuk terus menjaga ukhuwah dan kasih sayang.

(Muna Khansa Mufidah)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button