Mujadalah

Istidraj di Balik Kepakaran

Salafusshalih.com – Ilmu sering kita pahami sebagai cahaya yang mengangkat derajat manusia, membukakan jalan kebaikan, dan menghadirkan kemuliaan.

Namun, di balik anugerah itu, ada pertanyaan yang mengguncang nurani: jangan-jangan ilmu yang kita miliki justru menjadi jalan istidraj. Ketika popularitas dan harta mengalir, hati lalai, dan rasa takut kepada Allah perlahan memudar tanpa disadari.

Ilmu dalam Islam pada hakikatnya adalah amanah. Ia bukan sekadar kumpulan pengetahuan, gelar akademik, atau kepiawaian berbicara di hadapan publik. Ilmu adalah cahaya yang Allah titipkan agar manusia semakin mengenal-Nya, semakin tunduk, dan semakin jujur dalam beribadah.

Namun, cahaya itu dapat berubah menjadi api ketika ilmu tidak lagi mengantarkan kepada ketakwaan, melainkan melahirkan kesombongan, riya, dan ketergantungan pada pujian manusia. Di titik inilah muncul kekhawatiran yang sahih: apakah ilmu ini masih rahmat, atau telah berubah menjadi istidraj.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang bentuk hukuman yang halus namun mematikan kesadaran. Allah berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al-An‘am: 44).

Ayat ini menggambarkan istidraj: nikmat yang melimpah bukan tanda rida, melainkan jebakan bagi hati yang lalai.

Ilmu yang menjadi istidraj biasanya tidak mengantar kepada rasa takut kepada Allah. Padahal, ukuran kemuliaan ilmu dalam Islam adalah khasyiah, rasa takut yang melahirkan ketundukan. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (Fathir: 28).

Jika ilmu justru menjauhkan dari rasa takut, mematikan keikhlasan, dan menumbuhkan cinta dunia, maka patutlah seorang hamba mencurigai dirinya sendiri sebelum mencurigai orang lain.

Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras tentang ilmu yang tidak membawa kepada keikhlasan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَىٰ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ…

“…Kemudian didatangkan seorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Ia diingatkan akan nikmat Allah, lalu ia mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan?’ Ia menjawab: ‘Aku belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta. Engkau belajar agar disebut alim.’ Maka ia diseret ke neraka.”

Hadis ini mengguncang jiwa, karena ilmu yang agung pun dapat menjadi sebab kebinasaan ketika niatnya rusak.

Istidraj sering kali datang bersama sanjungan, panggung, dan pengaruh. Ketika seseorang merasa ilmunya selalu dibutuhkan, pendapatnya selalu diikuti, dan namanya terus disebut, di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui.” (Al-A‘raf: 182).

Istidraj tidak datang dengan rasa sakit, tetapi dengan rasa nyaman yang meninabobokan.

Lalu, bagaimana agar ilmu tidak berubah menjadi istidraj? Kuncinya adalah muhasabah dan niat yang terus diperbarui. Ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan klaim kebenaran diri. Ilmu harus mendorong amal, bukan sekadar wacana.

Ilmu harus mendekatkan kepada Allah, bukan menjauhkan dari sujud dan doa. Para salaf berkata bahwa mereka belajar satu bab ilmu, lalu mengamalkannya sebelum berpindah ke bab berikutnya, karena takut ilmu menjadi hujjah atas diri mereka.

Pertanyaan “bagaimana kalau iya?” sejatinya adalah rahmat. Kegelisahan itu tanda hidupnya iman. Orang yang takut ilmunya menjadi istidraj akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam niat, dan lebih sering memohon perlindungan kepada Allah. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

Doa ini bukan sekadar lafaz, melainkan pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu menjaga ilmu tetap menjadi cahaya, bukan hukuman yang terselubung.

(Dwi Taufan Hidayat)

Related Articles

Back to top button