Tsaqofah

Konten Gila dan Gila karena Ngonten

Salafusshalih.com – Di era digital yang serba cepat, kecepatan sering kali lebih dipuja daripada kedalaman, dan sensasi lebih dicari daripada substansi. Dunia media sosial kini menjadi panggung di mana perhatian manusia diperebutkan dengan cara-cara paling ekstrem dan absurd.

Di ruang ini, muncul dua wajah kegilaan yang saling menular: konten yang gila, dan manusia yang gila karena membuat konten.

Fenomena ini bukan kebetulan. Data dari We Are Social (2025) mencatat bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial, dan 74 persen di antaranya aktif membuat atau membagikan konten.

Artinya, hampir tiga perempat pengguna media sosial Indonesia bukan hanya penonton, tetapi juga produsen arus informasi —atau disinformasi. Di sinilah kegilaan bermula: ketika setiap orang merasa harus tampil, bicara, dan viral, apa pun caranya.

Kegilaan konten menjelma menjadi penyakit sosial baru. Dari prank berbahaya, eksploitasi kesedihan, hingga komodifikasi agama—semua dilakukan demi satu tujuan: engagement. Logika moral bergeser menjadi logika algoritme. Siapa yang paling ekstrem, dialah yang paling dilihat. Siapa yang paling dramatis, dialah yang akan dibayar.

Dewa Baru

Dalam dunia seperti ini, algoritme bekerja layaknya dewa baru. Ia menentukan apa yang layak muncul di beranda kita dan apa yang dilenyapkan. Tetapi dewa ini buta moral. Ia tidak mengenal baik dan buruk, hanya tahu klik dan waktu tonton.

Maka, para kreator pun melakukan segala cara agar persembahannya diterima oleh “tuhan algoritme” — meski harus menanggalkan akal sehat dan nurani.

Psikolog sosial menyebutnya sebagai “ekonomi dopamin”. Setiap like, share, dan komentar memicu dopamin di otak, menciptakan sensasi senang sesaat. Tetapi seperti candu, efeknya cepat pudar dan harus segera diganti dengan dosis yang lebih tinggi.

Inilah sebabnya banyak kreator yang terus-menerus menaikkan level kegilaannya. Mereka tidak lagi membuat konten karena ide, tetapi karena adiksi terhadap perhatian.

Namun, yang lebih tragis: publik pun menjadi bahan bakarnya. Kita menonton, mengomentari, membagikan, dan tanpa sadar ikut memperkuat sistem yang sama yang membuat kita muak.

Kita tertawa melihat orang dipermalukan, lalu berpura-pura jijik terhadap kebodohan kolektif yang kita biayai dengan klik. Beginilah “ekonomi perhatian” bekerja — di mana perhatian adalah mata uang, dan kita semua adalah investor kegilaan.

Etika Islam Tentang Konten

Di tengah pusaran ini, Islam sebenarnya menawarkan jalan pulang. Etika Islam bukan sekadar aturan, tetapi sistem penyembuhan. Rasulullah Saw. dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim pernah bersabda: setiap amal tergantung pada niatnya.

Dalam dunia ngonten, ini berarti nilai sejati dari sebuah karya tidak diukur dari jumlah views, tetapi dari niat dan manfaatnya. Apakah konten itu mendidik atau menyesatkan? Menguatkan atau merusak?

Etika Islam juga menuntun kita untuk tabayyun, memverifikasi sebelum menyebarkan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al-Isra’36). Prinsip ini, jika diterapkan, bisa menghentikan banjir hoaks, fitnah, dan manipulasi visual yang kini menjadi racun sosial.

Lebih jauh, Islam mengajarkan ihsan, berbuat seolah-olah engkau melihat Allah. Ini adalah spiritualitas digital yang paling radikal. Sebab ihsan mengingatkan bahwa setiap unggahan, komentar, dan video bukan hanya dilihat oleh algoritme, tetapi juga dicatat oleh malaikat. Jika kesadaran ini hadir di ruang digital, maka media sosial akan menjadi ruang dakwah, bukan arena gila.

Kita tidak sedang menghadapi krisis teknologi, melainkan krisis nilai. Masalahnya bukan pada media sosial, tetapi pada manusia yang kehilangan moral ketika menatap layar. Kewarasan adalah jihad baru di zaman ini. Dan menjadi waras — menolak ikut gila demi viral — adalah bentuk zikir paling modern.

Maka, mungkin yang kita butuhkan bukan “influencer” baru, melainkan “penyembuh digital” — orang-orang yang menebar makna di tengah bisingnya dunia maya.

Karena di antara jutaan konten yang berlomba untuk dilihat, yang paling penting sebenarnya bukan yang viral, melainkan yang membuat manusia kembali melihat dirinya sendiri.

(Dr. Aji Damanuri, M.E.I.)

Related Articles

Back to top button