Ketika Propaganda Tiktokisasi Radikalisme Berubah Jadi Konten Hiburan

Salafusshalih.com – Setiap hari scroll TikTok, saya menyadari satu hal: ada perubahan cara kerja propaganda hari ini. Dulu, radikalisme tumbuh lewat pengajian eksklusif, forum klandestin, dan kaderisasi bertahun-tahun. Orang direkrut perlahan, diuji loyalitasnya, lalu dibentuk cara berpikirnya. Namun, semuanya sudah berubah drastis. Propaganda saat ini datang sebagai hiburan: sebagai konten video pendek yang lewat setiap scroll Tiktok. Saya menyebutnya ‘TikTokisasi radikalisme’.
Saya mulai menyadari perubahan itu ketika melihat algoritma medsos terhadap generasi muda. Anak-anak hari ini tidak membaca manifesto ideologis setebal ratusan halaman. Selain tidak mampu, mereka malas untuk itu. Mereka juga ogah duduk berjam-jam mendengarkan ceramah politik. Mereka hanya scroll layar. Tetapi justru di situlah masalah besarnya: propaganda di era ini tidak perlu khatamkan dustur kelompok teror yang berjilid-jilid. Suguhkan konten hiburan. Itu cukup.
Beberapa tahun terakhir, berbagai penelitian menunjukkan pretensi algoritma medsos terhadap konten-konten radikal dan memicu polarisasi. TikTok, sebagai contoh, yang notabene platform nomor wahid bagi anak-anak muda, menyimpan problem serius. Medsos bikin orang jadi pemarah, penakut, dan tentu saja brainrot. Di TikTok, propaganda menemukan habitat barunya. Itulah yang saya sebut TikTokisasi radikalisme, yakni ketika TikTok dijadikan sarana radikalisasi yang berbahaya.
Apakah hanya TikTok yang perlu diatensi? Tentu tidak. Saya hanya menjadikan TikTok sebagai sampling, karena masalah serupa ada pada medsos lain seperti Instagram, atau bahkan medsos secara umum. Di Sudan, anak-anak bersenjata jadi influencer perang. Di Suriah dan Irak, ISIS membangun estetika militan lewat video sinematik yang memicu adrenalin anak-anak muda. Di banyak negara, propaganda radikal-terorisme dikemas secara masif dan gratis.
Masalahnya, generasi muda jarang sadar bahwa mereka tengah diindoktrinasi. Mereka merasa hanya menonton konten biasa. Hanya scroll FYP. Hanya menikmati video yang keren. Sedikit demi sedikit, algoritma mempersempit dunia mereka. Konten yang muncul seragam dan narasinya repetitif. Lama-lama, mereka percaya bahwa dunia sesempit ‘benar’ dan ‘salah’. Ada musuh besar dan ada identitas heroik yang harus dibela, dan semua itu mereka dapatkan dari medsosnya.
TikTokisasi radikalisme bukanlah budaya digital biasa. Ia merupakan propaganda, yang menyusup lewat humor, video motivasi, potongan ceramah, bahkan estetika perjuangan yang dibuat sangat sinematik. Dan ketika propaganda sudah berubah jadi hiburan, masyarakat terlambat menyadari bahwa yang sedang mereka pertaruhkan cara generasi muda memahami dunia. Jadi, kesatu, algoritma menjelma mesin propaganda, dan kedua, FYP menjelma jadi petaka bangsa.
Algoritma: Mesin Propaganda?
Benarkah kekuatan paling berbahaya di era digital hari ini masih negara, partai politik, atau organisasi formal semacam Al-Qaeda dan Jama’ah Islamiyah? Sepertinya, itu perlu dikaji kembali. Sebab, hari ini ada kekuatan bernama algoritma, yang tidak memiliki wajah, tidak punya ideologi resmi, tidak berpidato di depan publik, namun diam-diam menentukan apa yang terlihat, apa yang dipercaya, bahkan apa yang dibenci setiap orang.
Dulu, murid itu sesuai dengan instruksi gurunya. Hari ini, murid itu tergantung bagaimana algoritma memperlakukannya. Dan di Indonesia, kekuatan tersebut bekerja sangat brutal. Dulu, masyarakat masih mengenal konsep kepakaran. Orang belajar bertahun-tahun untuk dianggap layak bicara. Sejarawan dihormati karena risetnya. Ulama dihormati karena sanad keilmuannya. Akademisi dihargai karena metodologinya.
Tetapi sekarang? TikTok telah, dan akan terus, membunuh struktur konvensional itu. Hari ini, siapa pun yang paling emosional, paling provokatif, paling pandai memainkan algoritma, justru paling berpengaruh. Kepakaran kalah oleh viralitas.
Saya melihat itu sebagai salah satu krisis intelektual terbesar generasi digital. Algoritma medsos tidak bekerja berdasarkan kebenaran atau akurasi, melainkan engagement. Semakin memancing emosi, semakin besar peluang konten itu didorong ke jutaan layar. Akibatnya, ruang publik digital berubah jadi arena kompetisi kemarahan, ketakutan, sensasi, bahkan propaganda radikalisme.
Kajian The Soufan Center menyebut bahwa TikTok mempercepat proses perekrutan kelompok radikal-teror karena algoritmanya terus mengarahkan pengguna muda pada konten yang semakin emosional dan radikal. Penelitian lain tentang audit algoritma TikTok menunjukkan, bahwa sistem rekomendasi FYP-nya bisa memperparah polarisasi, mendorong homofili ideologis, dan menciptakan echo chamber yang membuat pengguna terus menerima narasi radikal, intens setiap waktu.
Yang paling menakutkan, proses itu terjadi tanpa disadari pengguna. Seseorang awalnya hanya menonton satu video tentang identitas agama. Lalu algoritma mulai merekomendasikan konten serupa. Sedikit demi sedikit, videonya makin emosional, makin marah, makin konspiratif, makin radikal. Lama-lama, dunia di layar mereka sepenuhnya hitam-putih. Ada kelompok paling benar, ada musuh besar, dan ada ancaman yang harus dilawan. Semua itu dikonsumsi setiap hari melalui FYP.
Penelitian tentang self-radicalization bahkan menunjukkan bahwa TikTok mempercepat proses radikalisasi tanpa perlu perekrut langsung. Ini penting dipahami: kaum radikal bisa lahir dari pola konsumsi konten yang terus-menerus diarahkan algoritma radikalisme itu sendiri.
Kasus di Austria tahun lalu menjadi contoh yang sangat mengerikan. Seorang pelaku penusukan yang terpapar propaganda ISIS disebut aparat mengalami radikalisasi lewat TikTok hanya dalam beberapa bulan. Platform digital telah mampu menggantikan sebagian fungsi kaderisasi ideologis yang dulu butuh kerja-kerja kelompok radikal secara langsung.
Ironisnya, saya melihat Indonesia punya semua syarat untuk menjadi lahan subur fenomena TikTokisasi radikalisme. Pengguna TikTok di Indonesia sangat besar. Generasi muda menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di platform tersebut. Di saat yang sama, literasi sejarah rendah, budaya membaca melemah, dan masyarakat semakin menyukai informasi instan yang emosional. Kombinasi ini sangat berbahaya. Propaganda radikal-terorisme telah menginfiltrasi konten hiburan.
Di titik ini, saya melihat TikTok telah berubah menjadi arena pertarungan ideologis global. Radikal-terorisme, ultranasionalisme, rasisme, teori konspirasi, misoginisme, hingga satanisme saling berebut atensi publik. Algoritma medsos bahkan cenderung mengangkat konten politik yang toksik dan ekstrem karena lebih menghasilkan interaksi tinggi. Setiap engagement, komentar negatif misalnya, merupakan ladang cuan.
Karena itu, saya yakin, algoritma merupakan mesin propaganda. Pertarungan masa depan bukan sekadar perang senjata atau perang ideologi, melainkan perang algoritma. Siapa yang menguasai emosi publik di medsos, ia yang akan membentuk cara generasi muda memahami dunia. Dan jika negara gagal membaca masalah serius ini, maka radikalisme akan muncul perlahan di FYP anak-anak kita setiap malam. Algoritma menebar propaganda, sehingga FYP TikTok jadi malapetaka.
Malapetaka Bernama “FYP”
Oppenheimer pernah berkata, penemuan terfatalnya ialah bom pemusnah. Fenomenal, namun itu menjadi maut yang mengancam umat manusia. Hal yang sama dalam konteks radikalisasi, saya pikir penemuan paling berbahaya ialah artificial intelligence, atau cikal-bakalnya bernama ‘algoritma’. For You Page, alias FYP, adalah produknya.
Diam-diam, FYP itu bekerja seperti mesin psikologis yang sangat presisi: membaca emosi pengguna, mempelajari ketakutannya, mengenali kemarahannya, lalu menyuapinya tanpa henti. Dan masalah terbesar dari FYP adalah ia tidak pernah netral. Jadi, apakah Anda mengira medsos hanyalah ruang tempat manusia mencari hiburan? Tidak sama sekali. Kenyataannya lebih gelap. TikTok membentuk realitas psikologis penggunanya secara persisten.
Algoritma mempelajari video apa yang ditonton pengguna, komentar apa yang mereka baca dan tulis, konten mana yang membuat mereka marah, takut, atau merasa terwakili. Setelah itu, FYP mulai membangun dunia digital yang semakin sempit namun terasa semakin benar. Yang Wahabi akan semakin jadi Wahabi. Yang pro-kekerasan akan semakin terjerumus ke dalam radikal-terorisme. Saya pikir, FYP adalah ruang indoktrinasi personal yang sangat berbahaya.
Sebagai contoh, diseminasi konten di TikTok itu relatif cepat, hanya dalam sekitar 200 video pertama yang ditonton pengguna. Setelah itu, keragaman konten mulai menurun drastis dan pengguna makin terperangkap dalam pola rekomendasi seragam, yang disebut FYP—alias ‘untuk Anda’. Ini sangat mengerikan, sebab artinya seseorang tidak perlu menjadi radikalis sejak awal. Cukup tertarik sedikit pada satu jenis konten, maka algoritma perlahan membangun terowongan ideologisnya sendiri.
Fenomena ini terjadi di mana-mana. Anak muda awalnya hanya menonton video eksklusivisme agama. Besoknya, muncul video yang lebih emosional. Lusanya, muncul video konspiratif. Minggu depannya, muncul glorifikasi jihadisme. Sebulan kemudian, layar mereka penuh kemarahan, victimhood, heroisme, dan narasi kekerasan. Semua terasa natural karena datang perlahan, repetitif, dan dipersonalisasi. Inilah propaganda canggih dalam TikTokisasi radikalisme: korban tidak sadar.
Algoritma FYP memahami satu hal penting tentang para pengguna: orang lebih mudah kecanduan kemarahan dibanding ketenangan. Karena itu, konten yang tenang kalah oleh konten yang emosional. Konten ilmiah kalah oleh konten simplistik. Radikalisme pun memiliki keuntungan struktural karena emosional, hitam-putih, dan mudah diviralkan. Inilah malapetaka sesungguhnya.
Mari rombak cara pandang lama. Hari ini, ancaman besar datang dari jutaan gadget anak muda. Setiap saat, FYP mengajari mereka membenci kelompok tertentu, mengajari mereka melihat dunia secara biner, dan membuat mereka merasa jadi bagian dari pembela Islam. Sebuah penelitian di Eropa bahkan menemukan bahwa algoritma TikTok, Instagram, dan X sangat agresif mendorong konten radikal kepada pengguna muda karena menghasilkan engagement yang tinggi.
Indonesia, menurut saya, belum benar-benar menyadari ancaman ini. Banyak yang masih sibuk memperdebatkan konten satu per satu, padahal masalah utamanya adalah sistem distribusinya. Selama algoritma FYP terus memberi hadiah pada kemarahan dan polarisasi, maka propaganda akan selalu menang. Generasi muda kemudian tidak dibentuk oleh keluarga, sekolah, atau lingkungan sosial terdekat, melainkan konten-konten FYP mereka. Itulah TikTokisasi radikalisme yang sangat berbahaya.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…
(Ahmad Khoiri)



