Al Qur'an

Tafsir Al Maidah Ayat 14: Ketika Perjanjian Dilupakan, Permusuhan Menjadi Warisan

Salafusshalih.com – Al-Qur’an tidak sekadar menceritakan masa lalu. Kisah-kisah di dalamnya selalu menyimpan kemungkinan untuk membaca masa kini.

Allah Swt. berfirman:

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۖ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani,’ Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”

Ayat ini dimulai dengan sebuah identitas:

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani.’”

Namun, Al-Qur’an tidak berhenti pada pengakuan identitas. Identitas keagamaan ternyata bukan akhir dari persoalan. Mengaku sebagai pengikut sebuah agama tidak otomatis berarti seseorang atau sebuah komunitas telah menjaga seluruh konsekuensi dari perjanjian yang melekat pada agama tersebut.

Sebab, setelah menyebut identitas mereka, Allah langsung berfirman:

أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ

“Kami telah mengambil perjanjian mereka.”

Kata مِيثَاق (mītsāq) membawa kita kepada makna ikatan dan komitmen yang kuat. Agama dalam perspektif Al-Qur’an bukan sekadar identitas yang diwariskan, bukan hanya nama kelompok, dan bukan pula sekadar simbol yang dikenakan. Ada perjanjian, ada amanah, dan ada konsekuensi dari pengakuan keimanan.

Ketika seseorang mengaku beriman, sesungguhnya ia sedang menempatkan dirinya dalam sebuah hubungan dengan kebenaran yang menuntut kesetiaan.

Di sinilah ayat tersebut kemudian memasuki titik yang sangat menentukan:

فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“Lalu mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka.”

Sekilas, kata نَسُوا (nasū) tampak sederhana. Ia biasa diterjemahkan sebagai “mereka lupa”. Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Bukankah lupa adalah sifat manusia? Bukankah manusia sering lupa tanpa sengaja? Jika demikian, mengapa “lupa” dalam ayat ini justru menjadi bagian dari sebuah persoalan besar?

Pertanyaan itu membawa kita untuk melihat bahwa kata نَسِيَ (nasiya) dalam konteks Qur’ani tidak selalu cukup dipahami sebagai hilangnya informasi dari ingatan secara tidak disengaja. Ayat ini sendiri memberikan petunjuk penting melalui susunan katanya:

مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“Dari apa yang telah diingatkan kepada mereka.”

Mereka telah menerima pengingatan, telah mendapatkan pesan, dan telah mengetahui apa yang semestinya dijaga. Namun, kemudian sebagian dari pesan itu tidak lagi dipelihara dalam kesadaran dan kehidupan mereka.

Di sinilah “lupa” memiliki kedalaman yang berbeda. Ada sesuatu yang mungkin masih diketahui, tetapi tidak lagi dihadirkan. Ada kebenaran yang mungkin masih tersimpan dalam ingatan, tetapi tidak lagi menjadi orientasi kehidupan.

Seseorang dapat mengetahui bahwa kejujuran adalah benar, tetapi hidup dengan cara yang mengabaikan kejujuran. Seseorang dapat mengetahui bahwa keadilan adalah perintah Tuhan, tetapi tidak lagi menjadikannya sebagai prinsip ketika kepentingannya sendiri terancam.

Dalam keadaan seperti ini, persoalannya bukan semata-mata kehilangan informasi. Yang hilang adalah kehadiran kebenaran dalam kehidupan.

Bahasa Arab sendiri memiliki beberapa kata yang berdekatan dengan pengalaman “lupa” atau meninggalkan perhatian. غَفَلَ (ghafala) lebih dekat kepada keadaan lalai atau tidak memperhatikan. سَهَا (sahā) dapat menunjukkan kelengahan atau lupa yang bersifat insidental. Sementara itu, تَرَكَ (taraka) secara lebih jelas berarti meninggalkan.

Adapun نَسُوا dalam ayat ini membawa kita kepada sebuah proses yang lebih dalam: sesuatu yang pernah diingatkan kemudian tidak lagi dijaga, tidak lagi dipelihara, dan akhirnya kehilangan tempat dalam kehidupan.

Barangkali inilah salah satu tragedi terbesar manusia. Manusia tidak selalu menolak kebenaran dengan lantang. Tidak semua orang berkata, “Saya membenci kebenaran.” Kadang manusia hanya mulai menundanya. Kebenaran tidak ditolak, tetapi tidak segera diamalkan. Kemudian, ia tidak lagi dipikirkan. Setelah itu, ia perlahan kehilangan pengaruh dalam kehidupan.

Akhirnya, manusia hidup seolah-olah kebenaran yang pernah diketahuinya itu tidak pernah ada.

Namun, Surah Al-Mā’idah ayat 14 tidak berhenti pada peristiwa melupakan sebagian dari pesan yang telah diberikan. Ayat ini kemudian menunjukkan akibat yang jauh lebih besar:

فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ

“Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian.”

Di sinilah Al-Qur’an memperlihatkan bahwa persoalan hubungan manusia dengan wahyu bukan hanya persoalan individual. Ketika sebuah komunitas kehilangan sebagian dari orientasi kebenaran yang seharusnya mereka jaga, akibatnya dapat menjalar ke dalam kehidupan sosial mereka.

Permusuhan dan kebencian tidak selalu muncul tiba-tiba. Kadang keduanya tumbuh ketika manusia kehilangan sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingan dirinya dan kelompoknya. Ketika kebenaran tidak lagi menjadi pusat, manusia mulai mencari pusat-pusat pengganti.

Kelompok menjadi pusat. Kepentingan menjadi pusat. Kekuasaan menjadi pusat. Identitas menjadi pusat.

Pada saat itulah perbedaan tidak lagi dikelola dengan kebenaran dan keadilan, tetapi dengan permusuhan.

Manusia kemudian tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?” Yang ditanyakan adalah, “Siapa yang bersama kelompokku?” Yang dicari bukan lagi keadilan, tetapi kemenangan. Yang dipertahankan bukan lagi prinsip, tetapi kepentingan.

Ketika orientasi seperti ini tumbuh, kebencian menjadi semakin mudah menemukan jalannya.

Karena itu, hubungan antara

فَنَسُوا dan الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ

dalam ayat ini sangat penting untuk direnungkan. Ketika sebagian dari pesan yang seharusnya menjadi pengikat kehidupan tidak lagi dijaga, sesuatu yang semestinya menyatukan manusia dapat berubah menjadi sesuatu yang justru diperebutkan. Ketika substansi kebenaran melemah, simbol dan identitas sering kali justru semakin mengeras.

Kita dapat menemukan fenomena itu dalam kehidupan manusia. Seseorang dapat sangat keras membela simbol, tetapi melupakan substansi. Sebuah kelompok dapat sangat bangga dengan identitasnya, tetapi kehilangan nilai-nilai yang seharusnya menjadi ruh dari identitas tersebut.

Agama masih disebut, kitab masih dibaca, ajaran masih diwariskan, tetapi pertanyaannya adalah: apakah semua itu masih hidup dalam cara manusia memperlakukan sesamanya?

Di sinilah ayat ini tidak hanya berbicara tentang sebuah komunitas pada masa lalu. Ia juga menjadi cermin bagi siapa pun yang merasa memiliki hubungan dengan wahyu.

Sebab, setiap generasi memiliki kemungkinan untuk melakukan kesalahan yang sama: mempertahankan identitas, tetapi melupakan perjanjian; menjaga simbol, tetapi kehilangan pesan; menghafal teks, tetapi tidak menghadirkan maknanya dalam kehidupan.

Ayat ini kemudian ditutup dengan firman Allah:

وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.”

Penutup ini membawa pembicaraan kembali kepada pertanggungjawaban. Pada akhirnya, manusia tidak hanya diminta menjelaskan apa yang ia ketahui, tetapi juga apa yang ia lakukan terhadap pengetahuan itu. Sebab, mengetahui kebenaran dan hidup berdasarkan kebenaran adalah dua hal yang berbeda.

Mungkin inilah pertanyaan yang paling relevan untuk kita bawa pulang dari Surah Al-Mā’idah ayat 14: apakah ada kebenaran yang sebenarnya sudah kita ketahui, tetapi tidak lagi kita hadirkan dalam kehidupan? Apakah ada pesan Tuhan yang tetap kita baca, tetapi tidak lagi membentuk cara kita berpikir? Apakah ada ajaran yang kita hafal, tetapi tidak lagi memengaruhi cara kita memperlakukan manusia?

Sebab, manusia tidak selalu tersesat karena tidak pernah mengetahui kebenaran. Kadang ia tersesat karena kebenaran yang pernah diketahuinya perlahan kehilangan tempat dalam kehidupannya.

Kebenaran itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang dari buku. Ia tetap tertulis. Ia tetap diajarkan. Ia bahkan mungkin tetap dihafalkan. Namun, kebenaran dapat hilang dari cara manusia hidup.

Dan barangkali, itulah bentuk “lupa” yang paling patut kita takutkan.

(Muhammad Hidayatulloh)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button