Hubbul Wathan

Ekonomi Sirkular dan Ironi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Salafusshalih.com – Krisis iklim membuat satu istilah terdengar semakin sering: ekonomi sirkular. Pemerintah, korporasi, bahkan lembaga keuangan global ramai-ramai mengusungnya.

Gagasannya sederhana: jangan lagi memakai pola: ambil–produksi–buang. Barang harus dirancang agar awet, bisa digunakan kembali, diperbaiki, dan didaur ulang.

Limbah dikurangi, sumber daya dihemat, ekonomi tetap tumbuh.

Kedengarannya masuk akal. Bahkan indah. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ekonomi sirkular sungguh mengubah cara kita memperlakukan alam, atau hanya membuat sistem lama tampak lebih hijau?

Pertanyaan ini penting karena persoalan lingkungan bukan semata-mata soal sampah. Masalahnya dimulai jauh sebelum sebuah botol masuk tempat sampah: dari cara kita mengambil bahan baku, memproduksi barang, menjualnya, mengonsumsi, lalu membuangnya.

Jika akar persoalannya tidak disentuh, ekonomi sirkular berisiko menjadi sekadar daur ulang terhadap sistem yang tidak pernah berhenti memproduksi.

Gaya Baru Ramah Lingkungan

Lihat saja gaya hidup yang belakangan dianggap ramah lingkungan: tumbler, tas belanja kain, sedotan bambu, atau berbagai produk berlabel eco-friendly. Sebagian memang berguna. Masalah muncul ketika keberlanjutan berubah menjadi sekadar gaya hidup dan strategi pemasaran.

Kita membeli tumbler baru untuk menggantikan botol lama, membeli tas ramah lingkungan dalam jumlah berlebihan, lalu merasa telah menyelamatkan bumi.

Padahal tumbler itu sendiri diproduksi oleh industri. Bahan bakunya ditambang, diangkut, diolah, dikemas, dan dipasarkan. Semua proses membutuhkan energi dan menghasilkan jejak ekologis.

Di titik ini kita perlu berhati-hati. Jangan sampai konsumsi hijau tetaplah konsumsi.

Lebih ironis lagi, ketika ekonomi sirkular hanya dipahami sebagai kegiatan mendaur ulang. Kita sibuk memilah sampah, sementara produksi barang terus digenjot.

Kita memperbaiki lubang kecil di hilir, sementara pabrik di hulu terus membuka keran.

Daur ulang tentu penting. Tetapi jika volume produksi dan konsumsi terus meningkat, daur ulang hanya menjadi penambal kapal yang bocor.

Ekonomi Sirkular Bukan Sekadar Daur Ulang Sampah

Di balik persoalan tersebut terdapat cara pandang yang lebih dalam: manusia sering menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Alam dianggap penting sejauh berguna bagi manusia.

Hutan dihitung berdasarkan nilai kayunya atau kemampuan menyerap karbon. Sungai dinilai dari potensinya sebagai sumber air dan listrik. Laut dihitung sebagai stok ikan. Gunung menjadi cadangan mineral.

Kita jarang bertanya: bagaimana jika alam memiliki nilai bukan karena berguna bagi kita, melainkan karena ia memang memiliki hak untuk hidup?

Inilah yang sering luput dalam pembicaraan ekonomi. Kita berbicara tentang efisiensi penggunaan sumber daya, tetapi lupa bahwa sumber daya itu adalah bagian dari sebuah ekosistem.

Contohnya nyata. Di berbagai wilayah pertambangan, masyarakat sekitar dapat kehilangan tanah, menghadapi pencemaran air, atau menghirup udara yang buruk, sementara keuntungan ekonomi terkonsentrasi pada perusahaan dan pemilik modal.

Alam akhirnya diperlakukan bukan sebagai rumah bersama, melainkan sebagai gudang besar yang isinya boleh diambil selama masih menghasilkan uang.

Jika cara berpikir ini tidak berubah, ekonomi sirkular hanya akan memberikan wajah baru bagi eksploitasi lama.

Ekonomi Sirkular Tahu Batas

Di sinilah gagasan ekonomi ekologis menjadi penting. Ekonomi bukan ruang yang berdiri sendiri. Ia hidup di dalam lingkungan.

Artinya sederhana: ekonomi memiliki batas karena planet memiliki batas.

Kita tidak bisa terus mengambil lebih banyak bahan baku, memproduksi lebih banyak barang, menjual lebih banyak produk, dan menganggap semuanya dapat diselesaikan dengan teknologi daur ulang.

Planet bukan mesin produksi yang tidak mengenal batas. Karena itu ekonomi sirkular yang serius seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana mendaur ulang barang ini?” Ia harus berani bertanya, “Apakah barang ini memang perlu diproduksi?”

Pertanyaan kedua jauh lebih mengganggu kepentingan pasar.

Sebuah produk yang tahan sepuluh tahun tentu baik bagi lingkungan. Tetapi bagi perusahaan yang hidup dari penjualan barang baru, konsumen yang membeli satu produk setiap sepuluh tahun bukan pelanggan ideal.

Di sinilah konflik kepentingannya muncul. Ekonomi sirkular menghendaki barang lebih awet, dapat diperbaiki, digunakan bersama, atau disewa. Sementara sistem ekonomi yang berorientasi pertumbuhan membutuhkan produksi, penjualan, dan konsumsi terus-menerus.

Keduanya tidak selalu mudah dipertemukan.

Ekonomi Sirkular Tidak Menguasai Tapi Merawat

Karena itu ekonomi sirkular seharusnya bukan hanya proyek teknologi. Ia membutuhkan perubahan cara pandang.

Kita perlu berhenti melihat alam semata sebagai objek ekonomi. Hutan bukan hanya kayu. Sungai bukan hanya sumber listrik. Laut bukan hanya tempat mengambil ikan. Orangutan bukan hanya aset wisata.

Alam adalah rumah bagi kehidupan.

Dengan perspektif ini, keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur dari pertumbuhan produksi atau besarnya transaksi. Kita juga harus bertanya: berapa banyak hutan yang tetap hidup, sungai yang tetap jernih, tanah yang tetap subur, dan spesies yang tetap bertahan?

Ekonomi sirkular akhirnya bukan soal membuat sampah berputar kembali ke pasar. Ia harus membuat cara hidup manusia kembali selaras dengan siklus kehidupan.

Kita boleh menggunakan teknologi. Kita membutuhkan industri. Kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi semuanya harus tunduk pada satu kenyataan sederhana: manusia tidak hidup di luar alam. Manusia hidup di dalamnya.

Maka jangan sampai ekonomi sirkular hanya membuat barang berputar lebih lama, sementara kerakusan tetap berputar lebih cepat.

Sebab persoalan terbesar bumi bukan karena manusia belum menemukan teknologi untuk mendaur ulang sampah. Persoalannya adalah manusia terlalu lama mengira bahwa segala sesuatu di bumi diciptakan untuk memenuhi keinginannya.

Ekonomi sirkular yang sejati harus membalik kesadaran itu.

Bukan lagi “bagaimana alam dapat terus melayani ekonomi?”, melainkan “bagaimana ekonomi dapat belajar hidup dalam batas-batas alam?”

Di situlah ekonomi berhenti menjadi mesin pengejar keuntungan dan mulai menemukan kembali maknanya sebagai cara manusia merawat kehidupan.

Pada akhirnya, yang harus kita daur ulang bukan hanya barang, melainkan juga cara berpikir kita. Karena bumi tidak membutuhkan manusia yang lebih pandai mengeksploitasi secara efisien. Bumi membutuhkan manusia yang tahu kapan harus berhenti.

(Dr. Aji Damanuri, M.E.I.)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button