Al Qur'an

Budaya Pamer Amal

Salafusshalih.com – Setiap ruang publik dipenuhi pemandangan yang menyejukkan, antrean berbagi takjil, gerakan donasi daring, hingga konten sedekah yang viral.

Di satu sisi, ini pertanda baik bahwa kepedulian sosial tumbuh. Di sisi lain, ada kegelisahan yang patut direnungkan, apakah amal kita masih lahir dari keikhlasan, atau mulai bergeser menjadi ajang pembuktian diri?

Di era media sosial, kebaikan mudah direkam, diunggah, dan dinilai lewat jumlah like serta komentar.  Pun tidak lagi hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga panggung digital. Di sinilah sejatinya Ramadan hadir sebagai sekolah keikhlasan.

Keikhlasan adalah jantung ibadah. Tanpa ikhlas, amal hanya menjadi gerak tubuh tanpa ruh. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menegaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan tujuan hanya kepada Allah, tanpa mengharap pujian manusia.

Amal yang tercampur riya’, menurutnya, seperti tubuh tanpa jiwa, terlihat hidup, tetapi hakikatnya kosong.

Namun, dunia hari ini mendorong manusia untuk selalu terlihat. Kita hidup dalam budaya personal branding, di mana setiap aktivitas bisa menjadi konten.

Kebaikan pun tak luput dari logika ini. Banyak orang berbagi momen sedekah dengan niat menginspirasi. Itu sah dan bahkan bisa menjadi dakwah. Tetapi batas antara inspirasi dan pencitraan sangat tipis.

Cendekiawan muslim kontemporer, Tariq Ramadan, pernah mengingatkan bahwa tantangan terbesar muslim modern bukan hanya menjaga ritual, tetapi menjaga niat di tengah budaya konsumsi dan pamer diri. Dalam hal ini, bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan ego untuk selalu dilihat.

Secara sosial,  memang meningkatkan kepedulian. Data lembaga zakat nasional menunjukkan bahwa penghimpunan zakat dan sedekah bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat pada bulan  dibanding bulan lain.

Etika Bersedekah

Di sisi lain, Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial paling aktif di dunia, dengan jutaan konten diunggah setiap hari.

Perpaduan ini melahirkan fenomena yang oleh para sosiolog disebut performative altruism, yaitu kebaikan yang dilakukan sekaligus dipertontonkan sebagai bagian dari identitas diri. Kampanye donasi viral, vlog berbagi sembako, hingga video santunan yatim menjadi tontonan rutin.

Dampaknya positif, solidaritas sosial meningkat. Tetapi secara spiritual, ada risiko bahwa amal menjadi performa, bukan lagi perjalanan batin. Seharusnya mengajarkan sebaliknya.

Puasa melatih manusia melakukan ibadah yang nyaris tak terlihat. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Tuhan. Inilah sekolah keikhlasan yang paling nyata.

Al-Qur’an surah Al-Baqarah: 264 memberikan peringatan yang jelas tentang bahaya riya’.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.

Ayat ini menegaskan bahwa niat adalah penentu nilai amal.

Dalam ayat lain, Allah memberikan standar etika sedekah yang halus, “Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik; dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 271).

Artinya, publikasi amal tidak sepenuhnya dilarang, tetapi menyembunyikan amal tetap lebih dekat dengan keikhlasan.

Ibadah Personal

Di tengah budaya pamer amal, mengajak kita kembali ke ruang sunyi dalam diri. Ia mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu perlu disaksikan, dan doa tidak harus dipublikasikan. Keikhlasan adalah ibadah yang paling sunyi, tetapi paling menentukan kualitas iman.

Media sosial tidak perlu ditinggalkan. Ia bisa menjadi sarana dakwah, edukasi, dan inspirasi. Tetapi  menuntut kedewasaan untuk menempatkan platform digital sebagai alat, bukan tujuan. Jangan sampai amal berubah menjadi konten, dan sedekah menjadi strategi pencitraan.

Hal yang perlu dicatat disini,  bukan tentang seberapa banyak orang melihat kebaikan kita, tetapi seberapa jujur hati kita di hadapan Allah. Jika bulan suci ini berhasil menumbuhkan keikhlasan, maka  tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi sekolah karakter yang membentuk manusia sepanjang hidupnya.

(Arif Zunaidi)

Related Articles

Back to top button