Sebutir Kurma Dari Pelataran Masjid Nabawi

Salafusshalih.com – Pagi masih temaram ketika kami melangkah menuju Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Di bawah payung raksasa yang menjadi ciri khas pelataran masjid, seorang anak kecil dengan wajah ceria menyodorkan sebuah kardus berisi kurma.
Saya terpaku sejenak. Dalam hati terlintas kekaguman: Ya Allah, anak sekecil ini sudah terbiasa bersedekah. Kami pun mengambil sebutir kurma sambil tersenyum. Anak itu justru mendorong agar kami mengambil lagi. Kami mengucapkan terima kasih.
Dengan mata berbinar dan senyum mengembang, anak itu tampak begitu bahagia membagikan kurma yang dibawanya kepada setiap jemaah yang melintas di hadapannya.
Pemandangan seperti ini memang tidak asing di Masjid Nabawi maupun Masjidilharam. Banyak anak kecil dengan ringan tangan memberi—kadang kurma, kadang segelas air zamzam. Kebiasaan ini bukan sekadar spontanitas, melainkan bagian dari pendidikan dasar yang membentuk jiwa mereka sejak dini.
Nilai perintah dan sunah Rasulullah Saw. tampak diwujudkan dalam pembinaan anak. Sejak balita mereka telah dibiasakan berbagi. Mereka gemar bersedekah, meski hanya segelas zamzam atau sebutir kurma.
Anak-anak Tanah Suci itu sungguh mengagumkan. Dari merekalah kita belajar: bagaimana keteladanan kecil bisa ditanamkan sejak awal kepada anak-anak kita, juga kepada para peserta didik kita.
Rasulullah Saw. bersabda:
«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»
“Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong (setengah) biji kurma.” (Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan betapa besar nilai sedekah. Bayangkan, hanya sebutir kurma, tetapi memiliki daya perlindungan yang luar biasa. Sedekah sekecil itu pun mampu menjadi perisai dari kobaran api neraka.
Peristiwa anak di tepian Nabawi dengan sebutir kurma mungkin tampak biasa, bahkan sepele. Namun, bagi saya, ia menjelma menjadi nostalgia yang membekas dalam sanubari.
Ia menjadi pelajaran hidup—bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk perjalanan menuju akhirat. Sedekah yang tampak kecil di mata manusia, ternyata sangat besar nilainya di hadapan Ilahi.
(Masroin Assafani)



