Tsaqofah

Buku Banjir Darah: Luka Sejarah Yang Tak Boleh Terlupakan

Salafusshalih.com — Sejarah bukan hanya deretan tanggal, nama tokoh, atau peristiwa politik besar. Ia juga menyimpan kisah tentang penderitaan orang kecil yang sering terpinggirkan dari narasi resmi.

Buku Banjir Darah: Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri, dan Kaum Muslimin karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon menjadi salah satu upaya mengingatkan kita pada sisi kelam sejarah Indonesia, khususnya tragedi 1948 dan 1965 yang menyisakan trauma mendalam bagi umat Islam.

Membaca buku ini seperti membuka album lama yang penuh noda darah dan air mata. Tidak mudah, bahkan terkadang terasa perih, tetapi penting agar generasi sekarang tidak kehilangan jejak. Kita sering mendengar narasi besar tentang PKI dan peristiwa 30 September, tetapi kisah nyata tentang kiai, santri, dan warga muslim yang menjadi korban sering kali tenggelam. Buku ini hadir untuk mengisi ruang kosong itu.

Anab Afifi dan Thowaf Zuharon menuliskan kembali kesaksian orang-orang yang pernah mengalami langsung kebiadaban PKI. Misalnya, ada kisah seorang kiai yang dibunuh dengan cara kejam hanya karena menolak tunduk pada ideologi komunis.

Ada pula cerita santri yang dipaksa menyaksikan gurunya dihina, disiksa, bahkan dieksekusi tanpa ampun. Membaca deretan kisah ini, bulu kuduk merinding, karena kita sadar kekerasan bisa meletus dari ideologi yang kehilangan nurani.

Kisah di Madiun

Salah satu kisah yang terekam dalam buku ini datang dari daerah Madiun. Seorang saksi menceritakan bagaimana ia melihat seorang kiai kampung dipaksa berjalan kaki dalam keadaan terikat, sebelum akhirnya disiksa di depan para santrinya sendiri. “Kami hanya bisa menangis dan bersembunyi, karena siapa pun yang mencoba menolong akan bernasib sama,” begitu kutipan kesaksian yang dicatat penulis.

Kisah semacam ini membuat pembaca tersadar bahwa tragedi tersebut bukan sekadar angka dalam buku sejarah, melainkan luka nyata yang pernah dialami manusia biasa seperti kita.

Buku ini tidak berpretensi sebagai karya akademik dengan analisis sejarah yang rumit. Ia lebih mirip sebuah panggilan hati nurani, yang mencoba menghadirkan suara-suara korban yang selama ini tenggelam. Justru di situlah kekuatannya. Kita diajak untuk tidak hanya melihat PKI sebagai entitas politik, tetapi juga sebagai sumber luka bagi ribuan keluarga muslim yang kehilangan orang tercinta.

Sering kali, sejarah besar hanya menceritakan tentang elite politik, perebutan kekuasaan, atau strategi militer. Padahal, di balik itu ada kisah seorang anak yang mendadak menjadi yatim, seorang istri yang kehilangan suaminya, dan sebuah pesantren kecil yang porak-poranda karena murid-muridnya tercerai-berai.

Untuk Apa Masa Lalu?

Buku ini mengingatkan kita bahwa tragedi sejarah selalu menyisakan penderitaan manusia biasa yang tak boleh dilupakan.

Sebagian orang mungkin bertanya, untuk apa lagi membicarakan kekejaman PKI? Bukankah itu masa lalu yang sudah selesai? Pertanyaan itu wajar, tetapi buku ini memberi jawaban tegas: kita mengingat bukan untuk membangkitkan dendam, melainkan agar tragedi serupa tidak terulang.

Bangsa yang lupa sejarah ibarat orang yang berjalan tanpa arah. Ia mudah jatuh ke lubang yang sama. Mengingat kekejaman masa lalu adalah cara untuk menjaga kewaspadaan. Bukan berarti kita terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tetapi agar kita sadar bahwa ideologi yang menafikan agama dan kemanusiaan bisa berujung pada kebrutalan.

Generasi muda Indonesia yang lahir setelah reformasi mungkin asing dengan cerita-cerita ini. Mereka lebih akrab dengan gawai, media sosial, atau budaya populer ketimbang kisah getir bangsa. Buku ini bisa menjadi pengingat bahwa kebebasan yang mereka nikmati hari ini dibayar mahal dengan darah dan air mata para pendahulu.

Penting bagi anak muda untuk membaca kisah seperti ini agar mereka tidak mudah tergoda dengan ideologi instan yang menjanjikan kesetaraan tanpa landasan moral. Sejarah menunjukkan bahwa keadilan sosial tidak bisa dicapai dengan menginjak martabat manusia lain.

Lebih Bijak

Membaca Banjir Darah membuat kita sadar bahwa bangsa ini memiliki luka lama yang masih terasa perih. Namun, justru dengan menyadari luka itu, kita bisa lebih bijak dalam menatap masa depan. Rekonsiliasi sejati tidak lahir dari melupakan, melainkan dari mengakui bahwa tragedi pernah terjadi, lalu bersepakat untuk tidak mengulanginya.

Buku ini tidak menawarkan solusi instan. Ia hanya membawa pesan sederhana: jangan pernah meremehkan kekuatan ideologi yang salah arah, dan jangan sekali-kali meninggalkan Pancasila serta nilai-nilai agama yang menjadi penopang bangsa.

Banjir Darah bukan sekadar buku sejarah, melainkan alarm moral bagi bangsa. Ia mengingatkan kita bahwa kebebasan beragama, rasa aman, dan perdamaian yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan dan penderitaan orang-orang sebelum kita.

Dengan mengingat kisah para kiai, santri, dan kaum muslimin yang menjadi korban kekejaman PKI, kita diajak untuk menjaga persatuan bangsa dengan lebih sungguh-sungguh.

Sejarah memang penuh luka, tetapi luka itu bisa menjadi pengingat yang berharga. Bukan untuk menumbuhkan dendam, melainkan untuk memastikan bahwa bangsa ini tetap tegak di atas fondasi kemanusiaan dan keadilan.

(Nurkhan)

Related Articles

Back to top button