Dari Kolonialisme Hingga Gaza: Mengungkap Transformasi Besar Umat Islam
Salafusshalih.com – Siapa pun yang membaca sejarah dengan saksama akan menemukan bahwa salah satu ciri paling menonjol dari bangsa-bangsa yang hidup dalam peristiwa besar adalah ketidakmampuan mereka menyadari sifat zamannya hingga sejarah itu berlalu.
Umat manusia umumnya tidak memahami besarnya perubahan ketika mereka masih berada di dalamnya. Kesadaran itu baru muncul setelah peristiwa selesai dan menjadi bahan kajian para sejarawan.
Hari ini, kita hidup di salah satu fase transformasi terbesar dalam sejarah umat Islam. Pertanyaannya: apakah kita benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi, atau justru mengulangi kesalahan generasi sebelumnya yang gagal memahami zamannya hingga terlambat?
Sejarah dan Pelajaran dari Transformasi
Perubahan besar yang membentuk atau menghancurkan peradaban jarang terlihat jelas pada masanya. Renaisans Eropa, misalnya, baru disebut “renaisans” setelah puluhan tahun berlalu.
Begitu pula “Abad Pertengahan” atau “Zaman Pencerahan”—semua label itu diberikan secara retrospektif. Sedangkan orang-orang yang hidup di dalamnya hanya merasakan peristiwa-peristiwa terpisah tanpa melihat benang merah yang menyatukannya.
Fakta historis ini membuat kita lebih bertanggung jawab hari ini. Apa yang kita alami bukan sekadar rangkaian kejadian, melainkan sebuah lukisan besar yang sedang membentuk wajah baru sejarah umat manusia, khususnya umat Islam.
Dari Kolonialisme ke Berdirinya Israel
Lebih dari satu abad terakhir, dunia Arab dan Islam berada di bawah bayang-bayang transformasi besar yang dimulai dengan kolonialisme Barat. Penjajahan bukan hanya penguasaan militer atas tanah, tetapi juga proyek untuk melakukan rekonfigurasi politik dan budaya.
Salah satu hasil paling berbahaya dari proyek itu adalah berdirinya negara Israel di jantung Palestina—bukan karena perang konvensional, tetapi sebagai perpanjangan langsung dari kolonialisme Barat.
Keberadaan Israel tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bergantung pada dukungan militer, intelijen, dan politik dari Barat. Apa yang kita lihat hari ini dalam perang Gaza—kapal-kapal perang Barat yang berlabuh di Laut Tengah—membuktikan bahwa konflik ini bukan lokal, melainkan bagian dari peta besar pertarungan global.
Peleburan Budaya Modern: Lebih Berbahaya dari Penjajahan Militer
Penjajahan masa lalu atas wilayah dunia Islam—seperti serangan Mongol atau Perang Salib yang terjadi hampir berhimpitan di abad ke-11 hingga ke-13 Masehi—memang meninggalkan luka besar, tetapi tidak berhasil merenggut identitas keagamaan dan budaya umat Islam.
Bahkan sering kali justru sebaliknya: penjajah asing akhirnya masuk Islam (dalam kasus Mongol dengan mualafnya Berke Khan, cucu Hulagu Khan pada 1250-an M) atau mundur dengan kekalahan (dalam kasus tertawannya Raja Louis IX dari Prancis pada Battle of Mansourah di Mesir dalam Perang Salib VII, 7 April 1250, lalu dibebaskan dengan harga tebusan yang sangat mahal pada 6 Mei 1250).
Sekadar pengingat, penjajah klasik seperti Mongol adalah bangsa penakluk, tetapi kekuatan utamanya terletak pada militer, bukan pada ilmu pengetahuan dan sistem keyakinan yang kuat. Sehingga, pada akhirnya, orang-orang Mongol terpengaruh oleh agama dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya, yaitu Islam.
Agak berbeda dengan bangsa-bangsa Frank Eropa yang didominasi Katolik, yang bukan hanya kuat secara militer, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan dan sistem keyakinan.
Namun, kolonialisme modern berbeda sama sekali. Kolonialisme Prancis dan Inggris pada abad ke-19–20 Masehi datang dengan proyek budaya yang masif. Pada awal abad ke-20, banyak anak muda Muslim dikirim ke Eropa untuk belajar ilmu pengetahuan, hukum, dan budaya Barat.
Sayangnya, mereka kembali bukan hanya dengan ilmu, tetapi dengan kekaguman berlebihan terhadap Barat—jauh melampaui sekadar transfer teknologi.
Muncullah kelas “elite” yang mengadopsi budaya Barat dan bahkan menjadi juru bicara peradaban Barat di negeri-negeri Muslim. Mereka menguasai media, pendidikan, dan kebudayaan, serta mempropagandakan gagasan bahwa Islam hanyalah masa lalu yang ketinggalan zaman, sementara modernitas hanya bisa dicapai dengan meniru Barat.
Seruan itu menggema di dunia Islam, disuarakan oleh Mustafa Kemal di Turki (1924), Ali Abdul Raziq dalam buku al-Islam wa Ushul al-Hukm (1925), hingga Taha Husain dalam buku Mustaqbal al-Tsaqafah fi Misr (1938) di Mesir.
Abad ke-20: Dari Kemerosotan ke Kebangkitan
Abad ke-20 adalah masa penuh pasang surut. Setelah Perang Dunia I (1914–1918) dan Perang Dunia II (1938–1945), kondisi umat Islam babak belur dan terpuruk, puncaknya saat deklarasi negara Zionis Israel pada 15 Mei 1948 di atas tanah historis Palestina.
Tahun 1950-an dan 1960-an menjadi titik terendah: ideologi sosialisme dan nasionalisme Arab mendominasi, ateisme merebak, kesadaran agama melemah, jilbab jarang terlihat, dan pendidikan agama merosot. Seolah-olah umat Islam kehilangan jati dirinya.
Namun, kekalahan telak negara-negara Arab pengusung sosialisme dan pan-Arabisme tahun 1967 melawan Israel membongkar kepalsuan slogan nasionalisme. Israel menghancurkan angkatan bersenjata Arab hanya dalam hitungan hari, bahkan pesawat-pesawat tempur hancur sebelum sempat mengudara. Dua tahun kemudian, pembakaran Masjidilaqsa pada 21 Agustus 1969 semakin menambah luka.
Di balik penderitaan itu, benih-benih gerakan Islam kembali tumbuh. Dari sinilah lahir slogan “kebangkitan Islam” pada 1970-an dan 1980-an, yang mengembalikan agama ke ruang publik, menghidupkan dakwah, pendidikan, dan politik Islam di negeri-negeri Muslim.
Di Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia, Islamisasi sosial menyeruak di awal 1980-an dengan maraknya penerbit buku Islam dan kajian Islam di kampus-kampus sekuler. Mohammad Natsir, tokoh sentral umat Islam yang sempat dimusuhi rezim Orde Baru karena menjadi inisiator Petisi 50, memformat kebangkitan Islam itu ke dalam tiga pilar: masjid, pesantren, dan kampus.
Hingga akhirnya dirangkul oleh Presiden Soeharto: pergi haji tahun 1990, berdirinya ICMI dan Bank Muamalat (1991), lalu kabinet “ijo royo-royo” (1992–1997) yang dianggap sebagai puncak kemesraan umat Islam dengan pemerintah Orde Baru.
Kebangkitan Islam: Naik, Lalu Meredup
Kebangkitan Islam bukan sekadar fenomena dakwah, tetapi sebuah kekuatan sosial dan intelektual besar. Energinya terlihat jelas dalam jihad Afghanistan melawan Uni Soviet. Ribuan pemuda Muslim berbondong-bondong datang untuk berjihad pada 1979–1991, dan saat itu iklim internasional tidak menentang jihad Afghanistan karena musuh bersama adalah komunisme.
Namun, seiring berjalannya waktu, kebangkitan ini menghadapi tantangan besar. Ia ditakuti oleh rezim-rezim lokal yang khawatir kehilangan kekuasaan, sekaligus menjadi target proyek global yang memandangnya sebagai ancaman.
Pasca 11 September: Perang Terhadap Akar Islam
Serangan 11 September 2001 menjadi titik balik sejarah. Amerika Serikat dan Barat memulai perang global, bukan hanya terhadap kelompok militan, tetapi terhadap seluruh akar Islam yang dianggap bisa melahirkan perlawanan.
Afghanistan (2001) dan Irak (2003) diduduki, kurikulum pendidikan Islam diubah, ulama ditekan, lembaga charity Islam dibekukan asetnya, simbol-simbol Islam dicurigai, dan Islam politik dilabeli sebagai terorisme. Semua dilakukan atas nama global war on terrorism.
Efek dominonya terasa di Indonesia dengan munculnya Islamofobia di negeri Muslim terbesar dunia sejak 2001 dan semakin meningkat dalam satu dekade terakhir (2014–2024).
Perang yang berlangsung hampir seperempat abad (2001–2025) melemahkan kebangkitan Islam sedikit demi sedikit. Namun, ia juga membuka mata generasi baru bahwa konflik ini bukan sekadar melawan organisasi atau kelompok tertentu, melainkan menyangkut identitas umat Islam itu sendiri.
Kondisi Terkini: Puncak Transformasi
Hari ini, setelah seratus delapan tahun proyek kolonialisme (1917–2025) dan dua puluh lima tahun perang global atas nama “memerangi terorisme” (2001–2025), kita berada di puncak transformasi besar. Perang Gaza hanyalah salah satu manifestasi paling jelas dari konflik panjang antara umat Islam dengan kekuatan kolonialisme dan hegemoni global.
Transformasi ini tidak terbatas pada dunia Arab saja, tetapi merambah ekonomi global, politik internasional, hingga tatanan nilai kemanusiaan modern. Dunia sedang dibentuk ulang, dan umat Islam harus menyadari bahwa mereka berada di tengah pusaran sejarah.
Penutup: Seruan untuk Kesadaran dan Basirah
Kesalahan terbesar seorang Muslim hari ini adalah hidup seakan-akan zaman ini normal dan stabil. Padahal, kita berada di era luar biasa—era di mana peta, aliansi, dan identitas berubah secara radikal. Tidak semua orang harus menjadi analis politik atau ahli strategi.
Tetapi setiap Muslim wajib memiliki kesadaran bahwa kita sedang hidup di tengah transformasi besar, dan hanya dengan kembali pada akar Islam kita dapat bertahan dan membangun masa depan.
Sejarah tidak pernah memaafkan orang yang lalai, dan tidak pernah menunggu mereka yang ragu. Sekali lagi, tingkatkan kesadaran dan kepekaan zaman, jika tidak maka umat ini akan tergilas dan terlindas zaman. Naudzubillah.
Perang Gaza 2023 sangat besar dampaknya pada kebangkitan Islam menuju fase pembebasan dari era mulkan jabri (istilah khas hadis Nabi riwayat Ahmad No. 273) atau malah terpuruk ke dalam jurang yang makin dalam.
Apakah umat dan elite Islam memanfaatkan peluang emas ini atau malah menyia-nyiakannya? Insya Allah tulisan ini akan bersambung untuk menjawabnya.
(Fahmi Salim)



