Ulul Amri

Kisah Juraij dan Bayi yang Bicara

Salafusshalih.com – Kisah Juraij dipermalukan pelacur termuat dalam kitab Imam Bukhari. Juraij dari kalangan Bani Israil.

Dalam kitabnya Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan di zaman Juraij.”

Lalu ada yang bertanya,”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?”

Nabi lalu bercerita tentang kisah Juraij.

Juraij adalah rahib muda yang berdiam diri pada rumah peribadatannya yang terletak di gunung. Ada seorang penggembala sapi di lereng gunung dekat rumah peribadatannya.

Suatu hari seorang wanita pelacur dari suatu desa menemui penggembala untuk berbuat mesum.

Di tempat lain datanglah ibu Juraij memanggil anaknya ketika ia sedang salat. ”Wahai Juraij.”

Juraij lalu bertanya dalam hatinya. ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku?” Rupanya dia mengutamakan salatnya.

Ibunya memanggil kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati. ”Ibuku atau salatku?” Rupanya dia mengutamakan salatnya.

Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya. ”lbuku atau salatku?” Rupanya dia tetap memilih salatnya.

Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, ”Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij, sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.”

Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.

Setahun berselang wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja. Dia telah membuat heboh karena melahirkan seorang anak.

Raja itu bertanya kepada wanita tersebut. ”Hasil dengan siapa anak ini?”

”Dari Juraij,” jawab wanita itu.

Raja lalu bertanya lagi. ”Apakah dia yang tinggal di rumah peribadatan itu?”

”Benar,” jawab wanita itu.

Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.”

Orang-orang lalu menghancurkan rumah peribadatan Juraij dengan kapak sampai rata. Lantas mengikat tangan Juraij di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja.

Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.

Raja lalu bertanya padanya,”Siapa ini menurutmu?”

Juraij balik bertanya,”Siapa yang engkau maksud?”

Raja berkata,”Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.”

Juraij bertanya,”Apakah engkau telah berkata begitu?”

”Benar,” jawab wanita itu.

Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?”

Orang-orang lalu menjawab,”(Itu) di pangkuannya.”

Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu. ”Siapa ayahmu?”

Bayi itu menjawab,”Ayahku si penggembala sapi.”

Mendegar bayi bisa bicara hebohlah orang-orang. Semua akhirnya tahu pelacur itu berbohong. Raja pun menyesal karena telah memerintahkan menghancurkan rumah ibadah Juraij tanpa konfirmasi lebih dulu.

Kontan sang raja berkata, ”Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?”

Juraij menjawab,”Tidak perlu.”

”Ataukah dari perak?” lanjut sang raja.

”Jangan,” jawab Juraij.

”Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?” tanya sang raja.

Juraij menjawab, ”Bangunlah seperti sedia kala.”

Raja lalu bertanya, ”Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, ”(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya doa ibuku terhadap diriku.”

Kemudian Juraij pun menceritakan, dia mengabaikan panggian ibunya. Lantas ibunya berdoa dia akan dipermalukan oleh pelacur.

(Sugeng Purwanto)

Related Articles

Back to top button