Mujadalah

Scroll Tanpa Henti, Pikiran Kian Kabur

Salafusshalih.com – Setiap pagi, sebelum air panas menyentuh bubuk kopi, layar ponsel lebih dulu aktif. Notifikasi datang beruntun—bunyi ting ting tung seperti alarm yang tak bisa ditunda.

Dahulu, kopi dibuat untuk menambah konsentrasi; sekarang justru jadi teman scrolling (menggulir), diseruput perlahan sambil menatap dunia yang bergerak terlalu cepat. Kadang rasanya jempol kita lebih rajin bekerja daripada otak. Ia sudah stretching duluan di layar sebelum kepala sempat berpikir: “Sebenarnya apa sih yang kita cari?”

Kita hidup di masa ketika keheningan dan kedamaian menjadi barang langka. Setiap detik ada sesuatu yang bergetar, berbunyi, dan meminta perhatian. Dunia digital menjanjikan kebebasan informasi, tetapi juga membawa kebisingan tanpa henti. Semakin kita berusaha tahu segalanya, semakin sulit rasanya membedakan mana yang penting, mana yang hoaks, atau mana yang sekadar lewat.

Yuval Noah Harari (2018) pernah menulis, “Di dunia yang dibanjiri oleh informasi yang tidak relevan, kejelasan adalah kekuatan.” Kalimat itu terasa seperti cermin hari-hari kita. Banjir informasi bukan hanya soal jumlah berita atau video yang berseliweran, tetapi tentang betapa mudahnya kita kehilangan arah di tengah arus itu. Kita menelan potongan-potongan fakta tanpa sempat mencerna dan mengunyah maknanya.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (Antara, 30 Oktober 2025), lebih dari dua juta anak di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental.

Meskipun bukan satu-satunya penyebab, penelitian dan laporan kesehatan remaja menyoroti bahwa penggunaan teknologi dan paparan dunia digital yang berlebihan dapat menjadi faktor yang memperburuk kondisi mental anak dan remaja.

Pada waktu yang sama, portal resmi Ayo Sehat (6 Oktober 2025) menerbitkan artikel berjudul “Digital Health: Janji dan Jurang” yang menggambarkan bagaimana transformasi digital membawa janji kemajuan sekaligus jurang baru bagi kesehatan jiwa di era teknologi.

Otak Punya Batas

Fenomena ini mengingatkan pada teori Information Overload dari Alvin Toffler dalam Future Shock (1970)—manusia bisa kehabisan kapasitas berpikir ketika terlalu banyak informasi masuk sekaligus. Otak kita punya batas. Saat terlalu banyak hal menuntut perhatian dalam waktu bersamaan, fokus pecah, pikiran mudah lelah, emosi cepat naik, dan produktivitas menurun, meski di permukaan kita merasa seperti sangat sibuk.

Secara psikologis, perilaku scroll tanpa henti juga melemahkan kemampuan mengatur diri. Roy Baumeister dan Todd Heatherton dalam Self-Regulation Failure (1996) menjelaskan bahwa ketika seseorang kehilangan kendali atas dorongan dan perhatian dirinya, ia cenderung bertindak impulsif.

Kita tahu perlu istirahat, tetapi jari tetap menggulir. Kita tahu waktu sudah larut, tetapi video berikutnya terlihat “sayang dilewatkan.” Dalam bahasa sederhana, semakin banyak hal yang kita tahu, semakin kita penasaran—dan akibatnya semakin sulit menahan diri.

Uniknya, waktu paling cepat berlalu bukan pada saat sedang jatuh cinta, melainkan saat scrolling reels atau TikTok. Niatnya lima menit, tahu-tahu sudah setengah hidup lewat di layar. Perasaan bersalah datang belakangan, ketika sadar betapa tidak produktifnya diri ini.

Masalahnya, dunia digital tidak dirancang untuk memberi jeda. Platform-platform besar hidup dengan memagari kita, siap mencuri perhatian. Setiap detik yang kita habiskan menatap layar adalah detik yang berharga bagi algoritma.

Herbert Simon (1971) sudah mengingatkan bahwa kekayaan informasi akan menciptakan kemiskinan perhatian. Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin besar pula beban yang ditimbulkannya. Kini, kalimat itu terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Digital Detox

Kita tidak bisa menolak teknologi, tetapi kita bisa memilih cara bernapas di tengah riuhnya. Salah satunya adalah digital detox: memberi waktu bagi pikiran untuk kembali jernih. Tidak harus ekstrem—cukup dengan mematikan notifikasi saat makan, menaruh ponsel di ruangan lain sebelum tidur, atau menikmati pagi tanpa layar. Sekecil apa pun jeda itu, otak kita akan merdeka dan berterima kasih.

Langkah lain adalah mindful scrolling. Jika digital detox berarti menjaga jarak, mindful scrolling berarti hadir. Kita tetap membuka media sosial, tetapi dengan kesadaran. Menentukan apa yang ingin dicari, siapa yang ingin diikuti, dan kapan harus berhenti. Menggulung layar bukan lagi kebiasaan otomatis, melainkan pilihan sadar.

Lucunya, banyak orang merasa sudah digital detox, tetapi versinya berbeda: bukan berhenti main ponsel, melainkan mengganti buka aplikasi yoga dan meditasi sambil tetap menatap layar. Tetapi setidaknya itu langkah awal—mencoba sadar bahwa kedamaian tidak ditemukan di layar berikutnya, melainkan di jeda yang kita ciptakan sendiri.

Bagi yang beragama Islam, kejernihan pikiran dan ketenangan hati adalah bagian dari perjalanan menyucikan diri. Al-Qur’an mengajarkan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9–10).

Ayat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan petunjuk universal: hati yang bersih akan melahirkan pikiran yang jernih. Dalam dunia yang bising oleh informasi, mungkin inilah bentuk tazkiyah masa kini—membersihkan hati dari hal yang tidak perlu agar yang penting bisa kembali terdengar.

Dan bagi siapa pun, apa pun keyakinannya, prinsipnya tetap sama. Kita tidak selalu bisa mengendalikan derasnya arus informasi, tetapi kita bisa mengendalikan apa yang kita izinkan tinggal di kepala. Menyaring bukan berarti menolak dunia, melainkan memberi ruang bagi diri untuk bernapas dan menjadi sehat di tengahnya.

Pada akhirnya, mungkin kejernihan itu bukan sesuatu yang kita cari di luar, melainkan sesuatu yang kita rawat di dalam. Dunia boleh hingar-bingar dan terus terdisrupsi, layar boleh terus menyala, tetapi selama hati tahu kapan harus diam dan menyaring—di sanalah kebahagiaan dan kejernihan yang sesungguhnya tinggal. Stay relevant!

(Bagus Suminar)

Related Articles

Back to top button