Ulul Amri

Fatimah Al Fihri dan Lahirnya Universitas Tertua di Dunia

Salafusshalih.com – Malam di Kairouan, sebuah kota metropolis di wilayah Magrib, Afrika Utara, selalu berbisik tentang ilmu. Di antara deretan pasir gurun dan kepulan asap rempah di pasar-pasar tua, gema lantunan bait-bait puisi dan diskusi hukum melayang bersama angin malam.

Di sinilah, di bawah naungan atap keluarga Al-Fihri yang terpandang, seorang gadis cilik kerap duduk termangu di tepi jendela. Namanya Fatimah.

Fatimah tak dibesarkan untuk sekadar menjadi perhiasan di dalam rumah kelahirannya. Ayahnya, Muhammad Al-Fihri, seorang saudagar kaya yang memiliki hati secantik dermawannya, memandang Fathimah dan adiknya, Mariam, dengan binar mata yang penuh rasa bangga.

“Anakku,” ujar sang ayah suatu sore sambil membelai jemari Fatimah yang memegang gulungan perkamen—bahan tipis untuk menulis yang terbuat dari kulit hewan—“harta bisa sirna ditelan badai gurun, tetapi ilmu yang tertanam di dalam dada adalah mahkota yang tak akan pernah bisa dicuri oleh siapa pun.”

Gadis kecil itu menyerap setiap kata ayahnya seperti tanah gersang yang menyerap rintik hujan pertama. Fatimah tumbuh menjadi wanita muda bersahaja dan anggun, dengan kecerdasan yang tajam serta jiwa yang senantiasa haus akan keridaan-Nya.

Namun, kedamaian Kairouan tak bertahan selamanya. Roda politik berputar liar. Ketegangan dan gejolak memaksa keluarga Al-Fihri, juga ribuan keluarga lainnya, mengemas kenangan mereka ke atas punuk-punuk unta. Mereka harus meninggalkan tanah kelahiran, menembus bukit-bukit gersang menuju barat, mencari suaka di kota yang baru saja tumbuh di Maroko: Fez.

Di kota baru ini, denyut kehidupan dimulai kembali dari nol. Dengan ketabahan yang luar biasa, Muhammad Al-Fihri kembali membangun usahanya. Berkah Allah melimpah. Nama keluarga al-Fihri kembali harum sebagai salah satu keluarga terkaya dan paling dihormati di Fez.

Kehidupan tampak begitu sempurna dan menjanjikan. Namun, suatu ketika, ketukan di pintu rumah mereka membawa duka tak dinyana.

Runtuhnya Dunia dan Janji di Balik Sunyi

Duka datang bukan sebagai gerimis, melainkan badai yang memorak-porandakan kehidupan Fatimah dalam waktu begitu singkat. Pertama, sang ayah yang sangat dicintainya mengembuskan napas terakhir. Belum kering air mata di pipinya, sang suami yang menjadi pelindungnya menyusul ke alam keabadian. Tak lama kemudian, saudaranya pun berpulang.

Dalam sekejap mata, riuh tawa di rumah besar itu padam. Sunyi menelan segalanya. Fathimah berdiri di tengah ruangan yang megah, menatap tumpukan emas dan harta warisan yang begitu melimpah. Namun, di dalam hatinya, ada kekosongan yang amat dalam.

Bagi wanita biasa, cobaan bertubi-tubi ini mungkin cukup untuk mematahkan semangat hidupnya. Namun, di dalam dada Fathimah mengalir keteguhan yang dipupuk sejak kecil. Ia menyapu air matanya, berlutut dalam sujud panjang pada sepertiga malam, dan berbisik kepada Sang Pemilik Jiwa.

“Ya Tuhan,” gumamnya dalam isak yang tertahan, “harta ini milik-Mu dan kepada-Mulah ia harus kembali. Jangan biarkan duka ini mematikan jiwaku. Jadikanlah kepedihan ini sebagai benih untuk kebaikan yang tak akan pernah mati.”

Keesokan paginya, Fatimah memanggil Mariam, saudarinya. Dua wanita yang sedang berduka itu saling berpandangan. Mereka membuat keputusan yang mencengangkan seluruh Kota Fez, yakni tidak akan menyentuh satu keping emas pun untuk kemewahan diri sendiri. Mariam memutuskan mendirikan Masjid Al-Andalus, sementara Fatimah menetapkan pandangannya pada sebuah cita-cita yang jauh lebih besar dan melampaui zamannya.

Fathimah melihat Kota Fez kian dipenuhi para pengungsi dan pencari ilmu. Masjid-masjid kecil tak lagi mampu menampung mereka yang haus akan pencerahan. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Harta warisan tak boleh menjadi sekadar bangunan mati. Harta itu harus menjadi mercusuar yang menyinari kegelapan dunia.

Mengukir Sejarah

Pada tahun 859 Masehi, di sebuah sudut Kota Fez, sebuah proyek megah dimulai. Fatimah membeli sebidang tanah luas dari suku setempat. Ia tidak sekadar menyewa pekerja dan melipat tangan.

Fatimah menetapkan satu syarat yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya: seluruh bahan bangunan, setiap batu, pasir, dan air yang digunakan untuk membangun kompleks ini harus diambil langsung dari tanah yang telah ia beli. Ia tak ingin ada sebutir debu pun yang berasal dari tanah yang syubhat atau tidak jelas kehalalannya.

Sejak batu pertama diletakkan, Fatimah memulai ibadah terbesarnya: ia berpuasa setiap hari.

Bayangkan terik matahari Maroko yang membakar, debu-debu pasir berterbangan, dan suara pukulan pahat batu yang memekakkan telinga. Di tengah keriuhan itu, seorang wanita mulia berdiri dengan bibir kering karena berpuasa. Ia mengawasi setiap jengkal pembangunan dan berdoa tanpa henti agar setiap sudut bangunan itu diberkahi.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Selama lebih dari dua puluh tahun, Fatimah istikamah dalam puasanya, doa malamnya, dan pengawasannya. Ia tak peduli badannya kian menyusut. Hatinya kian kaya setiap kali melihat pilar-pilar masjid dan ruang belajar itu menjulang tinggi.

Kompleks itu diberi nama Al-Qarawiyyin sebagai penghormatan kepada tanah kelahirannya, Kairouan. Ketika pembangunan akhirnya selesai, Fatimah melangkah masuk ke dalam aula Al-Qarawiyyin yang megah.

Ia berlutut dan bersujud syukur di atas lantai dingin yang baru selesai dibangun. Air mata bahagia menetes dari matanya. Hari itu, sebuah tempat ibadah sekaligus pusat ilmu pengetahuan telah lahir dari rahim keikhlasan seorang wanita.

Cahaya Menembus Benua

Apa yang dimulai sebagai sebuah tempat ibadah dan madrasah kecil dengan cepat membakar semangat intelektual dunia. Al-Qarawiyin bukan sekadar tempat menghafal, melainkan sebuah kawah candradimuka tempat ilmu agama, matematika, astronomi, logika, kedokteran, dan bahasa bertaut erat.

Dari segenap penjuru dunia, para pencari ilmu berbondong-bondong datang ke Fez. Mereka duduk melingkar di bawah pilar-pilar Al-Qarawiyyin, mendengarkan paparan ilmu dari para ilmuwan terhebat pada masanya.

Di sinilah Ibn Khaldun, sang raksasa sosiologi dunia, merenungkan teori-teorinya. Di sini pula Maimonides, filsuf Yahudi yang legendaris, memperdalam ilmu filsafatnya.

Bahkan, seorang rahib Eropa bernama Gerbert dari Aurillac berkuliah di Al-Qarawiyyin untuk mempelajari matematika dan angka Arab. Ilmu itu kelak ia bawa kembali ke Eropa ketika menjadi Paus Sylvester II.

Al-Qarawiyyin tidak bertanya apa agamamu atau dari mana asalmu. Jika engkau haus akan ilmu, pintu Al-Qarawiyyin selalu terbuka lebar. Universitas ini menjadi institusi pertama di dunia yang mengeluarkan ijazah formal, sebuah pengakuan atas kedalaman ilmu seseorang.

Tanpa disadari dunia Barat saat itu, seorang wanita muslimah di pelosok Afrika Utara telah meletakkan fondasi bagi sistem pendidikan modern. Bahkan, jauh sebelum Universitas Oxford atau Bologna memancangkan batu pertamanya, Al-Qarawiyyin telah meluluskan ribuan pemikir hebat.

UNESCO dan Guinness World Records akhirnya menorehkan tinta emas nama Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua di dunia yang masih beroperasi secara terus-menerus hingga hari ini.

Al Qarawiyin Masa Kini

Jika Anda melangkah ke kota tua atau Medina Fez hari ini, menyusuri gang-gang sempit yang dipenuhi aroma kayu cedar—kayu berkualitas tinggi yang berasal dari pohon cedar—dan rempah-rempah, Anda akan menemukan sebuah keajaiban yang menolak tunduk pada zaman.

Pintu-pintu kayu raksasa Al-Qarawiyyin masih berdiri gagah. Di dalamnya, pelataran berubin zellij—seni mosaik ubin keramik tradisional khas Maroko—berwarna hijau dan biru berkilau di bawah sinar matahari Maroko. Gemericik air dari pancuran di tengah pelataran menciptakan irama yang menenangkan jiwa.

Di perpustakaannya yang sunyi, tersimpan puluhan ribu manuskrip kuno tulisan tangan, lembaran-lembaran kulit gajah, dan kertas tua yang memuat pemikiran terbaik manusia abad pertengahan. Para mahasiswa masa kini masih duduk di tempat yang sama seperti yang diduduki para cendekiawan seribu tahun lalu, mendiskusikan kitab-kitab klasik dan sains modern.

Fatimah Al-Fihri telah lama berpulang menghadap Sang Pencipta, tetapi Al-Qarawiyyin tetap bernapas. Setiap kali seorang mahasiswa membaca buku di perpustakaan itu, setiap kali gelombang doa membubung dari ruang salatnya, dan setiap kali sebuah ide baru lahir di sana, pahala kebaikan terus mengalir deras untuk wanita mulia yang berpuasa di bawah terik matahari abad ke-9 itu.

Lentera untuk Jiwa-jiwa yang Redup

Kisah Fatimah Al-Fihri bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur dari masa lalu. Kisahnya adalah seruan nyaring untuk kita yang hidup pada zaman sekarang.

Berapa banyak dari kita yang membiarkan patah hati dan kehilangan menghancurkan masa depan? Fatimah mengajarkan bahwa kesedihan yang paling dalam pun bisa diubah menjadi karya yang paling agung, asalkan kita mau menyerahkan luka itu kepada Sang Pencipta dan mengubahnya menjadi aksi nyata.

Berapa banyak dari kita yang mengukur kesuksesan dari jumlah harta yang ditumpuk? Fathimah melambaikan tangan dari selasar sejarah dan mengingatkan bahwa harta terbaik adalah harta yang engkau tinggalkan untuk menerangi jalan orang lain.

(Dodik Priyambada)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button