Mujadalah

Membaca Ulang Paradoks Wushul Antara Usaha dan Anugerah dalam Al Hikam

Salafusshalih.com – Salah satu pasal yang paling menggetarkan dalam Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari adalah pembahasan tentang jalan menuju Allah (wushul) yang justru mengkritik logika transaksional dalam perjalanan spiritual. Pasal ini berbunyi:

لَوْ أَنَّكَ لَا تَصِلُ إِلَّا بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيْكَ، وَتَحْوِ دَعَاوِيْكَ لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَدًا، وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُوَصِّلَكَ إِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ، وَنِعْمَتَكَ بِنِعْمَتِهِ، فَوَصَّلَكَ إِلَيْهِ: بِمَا مِنْهُ إِلَيْكَ، لَا بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ

Artinya: “Jika kau yakin bahwa kau hanya akan sampai kepada-Nya setelah lenyapnya semua keburukanmu dan sirnanya semua hasratmu, kau selamanya tak akan sampai kepada-Nya. Akan tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya dan watakmu dengan watak-Nya. Dia membuatmu sampai kepada-Nya dengan kebaikan yang diberikan-Nya kepadamu, bukan dengan kebaikan yang kaupersembahkan kepada-Nya.”

Kalimat tersebut bukan sekadar nasihat sufistik yang indah, melainkan kritik tajam terhadap cara pandang manusia beragama yang cenderung mengukur kedekatan dengan Tuhan berdasarkan prestasi spiritual. Ia mengajak kita berpikir ulang: apakah spiritualitas merupakan proyek pencapaian diri, atau justru sebuah proses penyerahan diri yang pada akhirnya menyadarkan manusia bahwa dirinya tidak pernah benar-benar mampu mencapai Tuhan tanpa anugerah-Nya?

Ketika Usaha Justru Menjadi Penghalang

Secara lahiriah, tradisi tasawuf mengajarkan riyadhah dan mujahadah, yaitu latihan spiritual dan perjuangan melawan hawa nafsu sebagai bagian dari proses penyucian diri. Namun, Syaikh Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa jika seseorang menganggap dirinya baru dapat sampai kepada Allah setelah seluruh keburukan dan kekurangannya lenyap, ia tidak akan pernah sampai kepada-Nya.

Di sinilah letak kedalaman pesan tersebut. Bukankah para sufi mengajarkan penyucian jiwa sebagai bagian penting dalam perjalanan menuju makrifat?

Persoalannya, manusia tidak akan pernah benar-benar terbebas dari seluruh keterbatasan kemanusiaannya. Selama masih menjadi manusia—makhluk yang memiliki jasad, keinginan, keterbatasan, dan kelemahan—ia tidak akan mencapai kesempurnaan mutlak.

Menjadikan kesempurnaan sebagai syarat untuk mendekat kepada Allah sama saja dengan menuntut manusia berhenti menjadi manusia sebelum diperkenankan bertemu dengan Penciptanya.

Di sinilah muncul jebakan spiritual yang dapat disebut sebagai “narsisme ruhani”. Seseorang bisa terlalu sibuk menyempurnakan dirinya hingga lupa bahwa pusat perjalanan spiritual bukanlah dirinya, melainkan Allah yang menjadi tujuan perjalanan tersebut.

Anugerah, Bukan Barter Spiritual

Bagian kedua dari hikmah tersebut menawarkan cara pandang yang berbeda. Ibnu Atha’illah menyebut bahwa ketika Allah menghendaki seorang hamba sampai kepada-Nya, Dia akan “menutupi sifatmu dengan sifat-Nya dan watakmu dengan watak-Nya”.

Frasa ghaththa atau “menutupi” menarik untuk direnungkan. Ibnu Atha’illah tidak menggunakan kata yang bermakna menghilangkan atau memusnahkan. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat manusia tidak serta-merta lenyap secara ontologis, tetapi pengaruhnya dapat tertutupi dan dikalahkan oleh sifat-sifat yang lebih luhur.

Nuansa ini penting dalam memahami tasawuf. Fana’, dalam pemaknaan spiritual, tidak harus dipahami sebagai penghancuran eksistensi seorang hamba. Ia lebih tepat dipahami sebagai keadaan ketika kesadaran terhadap ego dan kepentingan diri semakin tenggelam di hadapan kesadaran akan Allah.

Ibarat cahaya lilin yang tidak lagi tampak ketika berhadapan dengan cahaya matahari. Lilin tersebut tidak benar-benar musnah, tetapi cahayanya menjadi tidak berarti dibandingkan dengan cahaya yang jauh lebih besar.

Konsekuensinya cukup mendalam. Jika wushul atau sampainya seorang hamba kepada Allah pada akhirnya bergantung pada anugerah-Nya, bukan semata-mata akumulasi amal, maka perjalanan spiritual perlu dibangun di atas kesadaran akan kefakiran diri (al-faqr).

Manusia yang merasa dirinya sudah pantas justru berpotensi terjebak dalam kesombongan spiritual. Sebaliknya, orang yang menyadari ketidakberdayaan dirinya akan lebih mudah membuka ruang bagi anugerah Allah.

Inilah yang dalam tradisi hikmah dikenal sebagai maqam al-‘ajz, yakni kedudukan ketika seorang hamba menyadari keterbatasan dan ketidakmampuannya di hadapan Allah.

Hadis Qudsi dan Kedekatan dengan Allah

Pemahaman tersebut dapat dikaitkan dengan hadis qudsi yang masyhur tentang seorang hamba yang terus mendekat kepada Allah melalui ibadah-ibadah sunnah hingga Allah mencintainya. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa ketika Allah mencintainya, Allah menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya.

Hadis ini tentu tidak tepat dipahami secara literal sebagai peleburan zat antara hamba dan Tuhan (hulul atau ittihad). Pemahaman semacam itu bertentangan dengan prinsip dasar tauhid yang menegaskan perbedaan antara Khaliq dan makhluk.

Pembacaan yang lebih tepat adalah melihat hadis tersebut sebagai gambaran tentang keselarasan kehendak (muwafaqah al-iradah). Ketika seorang hamba semakin dekat kepada Allah, perilaku dan orientasi hidupnya semakin tunduk kepada kehendak dan rida-Nya.

Dengan demikian, hamba tetap menjadi hamba. Ia tidak berubah menjadi Tuhan dan tidak pula menyatu dengan-Nya. Yang berubah adalah orientasi hidupnya. Pendengaran, penglihatan, langkah, dan tindakannya semakin diarahkan kepada hal-hal yang diridai Allah.

Ketika Kehendak Pribadi Ditundukkan

Pandangan Abul Hasan Asy-Syadzili yang dikutip dalam pembahasan ini menambah dimensi lain tentang perjalanan spiritual. Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah selama kehendak pribadinya masih mendominasi perjalanan tersebut.

Ketika Allah menghendaki seorang hamba mendekat kepada-Nya, Dia menampakkan sifat-sifat-Nya yang luhur sehingga pengaruh sifat-sifat buruk dalam diri hamba semakin melemah. Pada tahap tertentu, kehendak pribadi seorang hamba semakin tunduk kepada kehendak Allah.

Di sini kita berhadapan dengan konsep fana’ al-iradah, yaitu lenyapnya dominasi kehendak pribadi. Konsep ini tidak berarti hilangnya kesadaran atau akal sehat, melainkan penundukan kehendak diri kepada kehendak Ilahi.

Dalam kerangka tasawuf, kebebasan sejati justru dapat ditemukan ketika manusia terbebas dari perbudakan hawa nafsunya sendiri. Apa yang selama ini dianggap sebagai “kehendak bebas” belum tentu benar-benar bebas apabila seluruh pilihan dikendalikan oleh ego, keserakahan, ambisi, dan keinginan yang tidak terkendali.

Karena itu, penyerahan diri kepada Allah bukan berarti kehilangan kebebasan secara mutlak. Sebaliknya, ia dapat menjadi jalan untuk membebaskan manusia dari dominasi hawa nafsu.

Bukan Alasan Untuk Berpangku Tangan

Meski demikian, hikmah ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran terhadap sikap pasrah tanpa usaha. Mengatakan bahwa wushul merupakan anugerah Allah bukan berarti amal dan ikhtiar menjadi tidak penting.

Ibnu Atha’illah dalam berbagai hikmah lainnya tetap menempatkan amal dan ibadah sebagai bagian penting dalam kehidupan seorang hamba. Yang dikritik adalah cara pandang yang menjadikan amal sebagai alat tukar seolah-olah manusia dapat “membeli” kedekatan dengan Allah.

Amal tetap harus dilakukan sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan. Namun, seorang hamba tidak sepatutnya membangun klaim bahwa kedekatan dengan Allah merupakan hasil yang secara otomatis menjadi haknya karena banyaknya amal.

Dengan demikian, yang ditolak bukan usaha, melainkan ilusi bahwa usaha manusia memiliki kekuatan independen untuk menentukan kedekatannya dengan Tuhan.

Hubungan antara manusia dan Allah tidak dapat disederhanakan seperti transaksi perdagangan: sekian amal untuk sekian pahala, sekian penyucian diri untuk sekian tingkat kedekatan. Amal adalah kewajiban seorang hamba, sedangkan penerimaan dan anugerah tetap berada dalam kehendak Allah.

Merangkul Kefakiran Diri

Pada akhirnya, hikmah Ibnu Atha’illah ini mengajak kita melakukan perubahan cara pandang dalam menjalani kehidupan spiritual. Jalan menuju Allah bukan sekadar pendakian prestasi, melainkan perjalanan untuk mengenali kefakiran dan ketidakberdayaan diri.

Semakin seseorang merasa berhak mendapatkan kedekatan dengan Allah karena amalnya, semakin besar pula kemungkinan ia terjebak dalam rasa memiliki dan kebanggaan terhadap amal tersebut.

Sebaliknya, semakin ia menyadari bahwa segala kebaikan yang ada dalam dirinya, termasuk kemampuan untuk beribadah, merupakan pemberian Allah, semakin terbuka kesadarannya terhadap luasnya anugerah Tuhan.

Inilah pelajaran penting dari hikmah tersebut. Ia tidak hanya relevan bagi para pesalik atau pengamal tasawuf, tetapi juga bagi siapa saja yang bergulat dengan makna pencapaian dalam kehidupan.

Kita sering mengukur keberhasilan berdasarkan apa yang berhasil kita capai. Dalam kehidupan spiritual, ukuran tersebut perlu ditinjau kembali. Sebab, kebesaran seorang hamba tidak selalu lahir dari seberapa sempurna ia melihat dirinya, tetapi dari seberapa jujur ia mengakui keterbatasannya di hadapan Allah.

Pada titik itulah usaha dan anugerah menemukan tempatnya masing-masing. Manusia tetap harus berusaha, beribadah, dan memperbaiki diri. Namun, semua itu harus disertai kesadaran bahwa kemampuan untuk berusaha pun merupakan anugerah dari Allah.

Walhasil, perjalanan menuju Allah bukanlah tentang membuktikan bahwa kita sudah layak untuk sampai kepada-Nya. Ia adalah perjalanan untuk menyadari bahwa tanpa pertolongan dan anugerah-Nya, kita tidak akan pernah mampu sampai.

(Salman Akif Faylasuf)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button