Hubbul Wathan

Merdeka Dari Medsos

Salafusshalih.com – Agustus selalu datang dengan gegap gempita. Setiap tahun, kita merayakannya melalui upacara bendera, malam tirakatan, hingga beragam perlombaan yang memupuk semangat nasionalisme.

Namun, di ruang-ruang digital, kita justru menyaksikan pemandangan yang kontras. Manusia sedang sibuk “menjajah” dirinya demi sebuah validasi maya.

Ada sisi lain yang sering terlupakan, yaitu kemerdekaan diri dari belenggu kapitalisme yang dimanifestasikan melalui media sosial.

Media sosial menjadi saluran tempat manusia memamerkan pencapaian dirinya untuk mendapatkan pengakuan publik.

Berbagai validasi dalam bentuk jempol, komentar, dan likes menjadi tolok ukur baru harga diri seseorang.

Ketika notifikasi sepi, muncul kegalauan bahwa eksistensi diri tidak mendapatkan respons yang sesuai ekspektasi.

Kondisi ini diperparah oleh hadirnya budaya baru di kalangan generasi milenial yang bernama FOMO (Fear of Missing Out).

Ketakutan tertinggal tren apa pun membuat kita terlena dengan beragam tawaran konsumtif yang sejatinya tidak dibutuhkan.

Seseorang kehilangan kendali atas prioritas hidupnya sendiri karena takut dicap ketinggalan zaman.

Kita diarahkan untuk berlomba-lomba membeli sesuatu bukan karena butuh, melainkan demi sebuah pencitraan belaka.

Berusaha memborong produk demi tren sesaat hingga memaksakan standar hidup tertentu demi mendapatkan validasi.

Efeknya adalah energi mental dan finansial terkuras hanya untuk mengejar fatamorgana kehidupan orang lain, sementara kemerdekaan diri cenderung terabaikan.

Manusia jadi kehilangan kendali dirinya karena nafsu yang mendominasi.

Ketenangan jiwa diukur pada penilaian eksternal yang tidak bertahan lama.

Padahal esensi kemerdekaan diri terletak pada kemampuan untuk bersikap otonom dan mempunyai agensi—merdeka dari tekanan sosial yang toksik dan godaan kapitalisme yang dibungkus tren.

Oleh karena itu, nalar kritis perlu ditumbuhkan, keimanan, dan ketakwaan harus dikuatkan.

Ada kesadaran bahwa kemerdekaan adalah ketika seseorang mampu membebaskan diri dari penghambaan kepada selain Sang Pencipta, termasuk menghamba pada tren dan pujian manusia.

Manusia yang merdeka adalah mereka yang mengenal kapasitas dirinya, bersyukur atas apa yang ada, dan tidak menjadikan standar orang lain sebagai ukuran kehidupannya.

Sudah saatnya kita melakukan detoksifikasi kesadaran dengan memaknai merdeka secara hakiki, yaitu berani untuk tidak ikut-ikutan dan berani tampil apa adanya.

Kita menjadi pemegang kendali utama arah hidup ketika godaan validasi dan FOMO terus menggempur melalui media sosial yang tidak bisa dihindari.

Saya rasa, kehidupan pribadi—yang meliputi akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah—bisa menjadi solusi konkret untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya karena bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Ia menjadi model bagi tingkah laku dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang mengajak untuk menyeimbangkan kebutuhan duniawi dan ukhrawi serta menyesuaikan perkembangan situasi dan kondisi zaman.

(Prima Ayu Rizqi Mahanani)

Redaksi

Salafusshalih.com.com adalah media yang menfokuskan diri pada topik kebangsaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan dengan spirit menguatkan agama meneguhkan Indonesia.

Related Articles

Back to top button